Sumbardaily.com, Padang - Tanggal 30 September kembali menjadi hari penuh duka bagi Sumatera Barat (Sumbar). Tepat 16 tahun setelah gempa besar 2009 yang meluluhlantakkan ranah Minang, tiga operasi pencarian dan pertolongan (SAR) ditutup pada Selasa (30/9/2025) dengan ditemukannya korban hanyut di Pesisir Selatan, Pasaman Barat, dan Sawahlunto.
Kepala Kantor SAR sekaligus SAR Mission Coordinator (SMC) Padang, Abdul Malik, mengawali laporan duka dari Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel).
Seorang petani bernama Dodi (44) hilang sejak Minggu pagi (28/9/2025) ketika menuju sawahnya di Nagari Kambang Timur, Kecamatan Lengayang.
Hujan deras yang turun siang hari membuat aliran sungai meluap dan diduga menyeret korban.
“Biasanya korban pulang sekitar pukul enam sore, tetapi malam itu ia tidak kunjung kembali. Keluarga dan warga sudah berusaha mencari, namun nihil. Tim SAR baru menemukan korban pagi ini, sekitar delapan kilometer dari lokasi awal, dalam keadaan meninggal dunia,” ujar Malik.
Ia mengatakan derasnya arus sungai menjadi hambatan terbesar selama operasi pencarian terhadap korban.
Tragedi serupa juga menimpa dua remaja di Pantai Sasak, Pasaman Barat, pada Senin sore (29/9/2025).
Koordinator Pos SAR Pasaman, Novi Yurandi, menjelaskan bahwa kedua korban mandi di pantai dan terseret ombak.
“Satu remaja bernama Nugi berusia 12 tahun berhasil selamat, tetapi rekannya, Farhan (14), hilang. Masyarakat sempat melakukan pencarian sampai petang, kemudian meminta bantuan SAR,” tutur Novi.
Selasa pagi, tim gabungan melakukan penyisiran laut dengan LCR sejauh dua mil laut serta menyusuri bibir pantai sejauh lima kilometer.
“Pada pukul 10.05 WIB korban ditemukan sekitar 200 meter dari lokasi awal, namun sudah dalam kondisi meninggal dunia,” katanya.
Duka juga datang dari Kota Sawahlunto. Seorang nelayan bernama Erman Nukas atau Man Bolok (60) hanyut saat menjala ikan di Sungai Batang Ombilin pada Minggu malam (28/9/2025).
Kasi Operasi Kantor SAR Padang, Hendri, mengatakan bahwa saksi mata sempat mendengar korban berteriak minta tolong sebelum terbawa arus deras.
“Tim SAR membagi empat regu, melakukan penyisiran sejauh enam kilometer dengan perahu karet dan perahu masyarakat. Sekitar pukul 10.20 WIB korban berhasil ditemukan dua kilometer dari lokasi awal, dalam keadaan meninggal dunia,” jelas Hendri.
Ketiga operasi SAR yang berakhir pada hari yang sama ini bukan sekedar operasi rutin atau biasa bagi Basarnas.
Setiap tanggal 30 September masyarakat Minangkabau memperingati gempa besar pada 2009 atau 16 tahun silam yang merenggut ribuan jiwa.
Abdul Malik menyebut penutupan operasi pada hari peringatan gempa seakan menjadi pengingat baru bahwa alam Sumbar selalu menyimpan potensi ancaman.
“Cuaca ekstrem, arus deras, dan ombak pantai bisa jadi ancaman yang sama seriusnya dengan gempa. Kewaspadaan adalah kunci keselamatan,” ujarnya. (adl)
















