Sumbardaily.com - Upaya menjaga lingkungan yang dilakukan selama 15 tahun oleh Laskar Peduli Lingkungan Ampiang Parak akhirnya mendapat pengakuan di tingkat nasional. Kelompok dari Nagari Ampiang Parak, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, itu berhasil meraih Peringkat I Wana Lestari dari Kementerian Kehutanan.
Penghargaan tersebut menjadi catatan penting bagi Laskar Peduli Lingkungan Ampiang Parak yang selama bertahun-tahun menjalankan gerakan pelestarian kawasan pesisir. Kelompok yang dipimpin Haridman itu tidak hanya melakukan penghijauan, tetapi juga menjaga habitat penyu serta mengajak masyarakat ikut melindungi lingkungan.
Haridman selaku ketua kelompok bahkan diundang ke Jakarta untuk menerima penghargaan tersebut. Penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni di Kantor Kementerian Kehutanan.
Wana Lestari merupakan bentuk apresiasi pemerintah kepada individu maupun kelompok yang dinilai memiliki dedikasi dan kepedulian terhadap upaya menjaga serta melestarikan lingkungan dan sumber daya alam.
Bagi Haridman dan anggota kelompoknya, penghargaan itu bukan hasil dari kegiatan yang dilakukan dalam waktu singkat. Pengakuan tersebut menjadi buah dari proses panjang yang telah mereka jalankan selama sekitar 15 tahun di kawasan pesisir Ampiang Parak.
Pada awal gerakan tersebut dilakukan, kondisi kawasan pantai Ampiang Parak masih gersang. Situasi itu mendorong Haridman bersama pemuda dan masyarakat setempat melakukan berbagai langkah rehabilitasi kawasan. Penghijauan menjadi salah satu upaya yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi lingkungan pesisir.
Mangrove kemudian menjadi bagian penting dari kegiatan pelestarian yang dilakukan kelompok tersebut. Penanaman mangrove dilakukan untuk membantu menjaga kawasan pesisir sekaligus mempertahankan ekosistem yang menjadi tempat hidup berbagai jenis satwa.
Gerakan Laskar Peduli Lingkungan Ampiang Parak juga mencakup perlindungan terhadap penyu. Berbagai spesies penyu yang berada di kawasan tersebut dijaga agar tetap lestari dan tidak menghadapi ancaman kepunahan.
Selain melakukan perlindungan secara langsung, kelompok tersebut juga memilih pendekatan edukasi kepada masyarakat. Salah satunya dengan mengajak warga untuk tidak mengonsumsi telur penyu.
Edukasi itu dilakukan untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa keberadaan penyu memiliki peran dalam ekosistem pesisir. Dengan meningkatkan pemahaman warga, upaya perlindungan diharapkan tidak hanya bergantung kepada kelompok, tetapi menjadi kepedulian bersama.
Tidak berhenti pada mangrove dan penyu, Haridman bersama kelompoknya juga menanam cemara laut. Tanaman tersebut digunakan untuk memperkuat ekosistem pantai sekaligus mendukung upaya mitigasi bencana di wilayah pesisir.
Haridman mengatakan seluruh kegiatan yang dilakukan kelompoknya berangkat dari kepedulian terhadap lingkungan. Menurutnya, kawasan pantai perlu dijaga agar tetap mampu menjadi habitat bagi satwa sekaligus memberikan perlindungan kepada masyarakat.
“Yang kami lakukan selama ini berangkat dari kepedulian terhadap lingkungan. Pantai ini harus dijaga agar tetap menjadi habitat yang baik bagi berbagai jenis satwa sekaligus memberikan perlindungan bagi masyarakat,” ujar Haridman.
Haridman sendiri bukan sosok yang baru berkecimpung dalam kegiatan lingkungan. Pria tersebut merupakan alumni Fakultas Peternakan Universitas Andalas. Sebelum aktif dalam gerakan pelestarian lingkungan, Haridman pernah menjalani profesi sebagai wartawan Harian Haluan.
Di tengah kesibukannya, Haridman memilih untuk tetap mengabdikan diri dalam kegiatan pelestarian lingkungan. Ia menjalankan gerakan tersebut bersama pemuda dan masyarakat Nagari Ampiang Parak.
Sebagai ayah tiga anak, Haridman berharap penghargaan Wana Lestari yang diterima kelompoknya tidak hanya menjadi pencapaian bagi dirinya dan anggota kelompok. Ia ingin penghargaan tersebut menjadi pemicu bagi generasi muda untuk semakin memperhatikan kondisi lingkungan di sekitarnya.
Menurut perjalanan kelompok tersebut, gerakan pelestarian lingkungan di Ampiang Parak telah memperoleh sejumlah apresiasi. Laskar Pemuda Peduli Lingkungan Nagari Ampiang Parak tercatat menerima penghargaan di tingkat lokal, nasional, hingga internasional karena konsisten menjaga kawasan pesisir, mangrove, dan habitat penyu.
Peringkat I Wana Lestari dari Kementerian Kehutanan menambah daftar apresiasi yang diterima kelompok tersebut. Penghargaan itu sekaligus menunjukkan bahwa gerakan pelestarian yang tumbuh dari tingkat nagari dapat berkembang menjadi upaya yang memberikan dampak lebih luas.
Bagi masyarakat Nagari Ampiang Parak, perjalanan kelompok yang dipimpin Haridman memperlihatkan bagaimana kepedulian terhadap lingkungan dapat dilakukan secara konsisten dalam jangka panjang. Kawasan yang sebelumnya gersang secara perlahan ditangani melalui penghijauan, penanaman mangrove dan cemara laut, serta perlindungan terhadap penyu.
Penghargaan nasional tersebut menjadi bentuk pengakuan atas konsistensi itu. Laskar Peduli Lingkungan Ampiang Parak kini tidak hanya dikenal melalui kegiatan pelestarian di tingkat lokal, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan lingkungan yang mendapat perhatian hingga tingkat nasional.
Upaya selama sekitar 15 tahun tersebut sekaligus memperkuat pesan bahwa pelestarian lingkungan membutuhkan keterlibatan masyarakat. Melalui penghijauan, perlindungan satwa, edukasi, dan penguatan ekosistem pantai, kelompok itu terus menjaga kawasan pesisir Ampiang Parak agar tetap menjadi ruang hidup bagi satwa sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pada akhirnya, Laskar Peduli Lingkungan Ampiang Parak meraih Peringkat I Wana Lestari Kemenhut setelah perjalanan panjang menjaga kawasan pesisir, mangrove, cemara laut, dan habitat penyu. Penghargaan itu diharapkan menjadi dorongan bagi generasi muda untuk melanjutkan gerakan menjaga lingkungan dari tingkat nagari. (*)
















