Oleh: Wahyudi Agus (Kak Yud)
Pembina/Anggota Gerakan Pramuka Sumatera Barat
Salam Pramuka. Sebuah video pemotongan bendera di salah satu Gugus Depan atau Gudep di Padang, Sumatera Barat, oleh peserta didik Gerakan Pramuka viral di jagad maya.
Sebagian menilai hilangnya rasa nasionalisme, dan sebagian memahami bahwa itu merupakan sebuah proses ujian atau menguji peserta didik tingkat Penegak yang hendak naik golongan dari Bantara ke Laksana, sejauh mana jiwa nasionalismenya.
Secara kasat mata yang terlihat memang bendera tersebut digunting atau di potong-potong namun dibalik itu ada makna yang dalam terhadap peserta didik saat menjalani prosesi kenaikan golongan.
Namun, saya menilai ada teknis yang kurang tepat dalam menjalankan prosesi tersebut.
Dimana pemotongan bendera dilakukan secara terbuka. Secara umum, beberapa Gugus Depan (pangkalan pramuka), prosesi ini dilakukan dengan dua metode.
Pertama, di hadapan pembina penguji (berdua saja). Ketika perintah tersebut dikeluarkan, maka si peserta didik akan berfikir dalam-dalam. “Bolehkah bendera Merah Putih simbol negara ini saya potong?"
Maka sebagai Pramuka tingkatan Penegak, peserta didik ini biasanya akan merenungi perintah tersebut secara mendalam. Tak jarang di antara mereka meneteskan air mata ketika gunting yang mereka pegang mereka dekatkan ke bendera.
Bahkan banyak juga di antara mereka yang menangis terisak dan tak sanggup memotong simbol negara tersebut.
Di sisi lain, ini adalah perintah yang harus dilaksanakan karena mereka akan menaiki golongan Laksana, yang artinya harus melaksanakan setiap tugas atau pekerjaan yang diberikan.
Perintah memotong bendera ini sebenarnya bukan perintah secara harfiah. Namun, perintah penuh makna menguji kedewasaan berfikir dan jiwa nasionalisme peserta didik itu sendiri.
Bagaimana jika mereka memang memotongnya? Maka sebagian pembina memutuskan peserta didik tersebut gagal dan kembali diajarkan sikap nasionalisme secara lebih mendalam.
Namun prosesi ini dilakukan secara empat mata, antara si pembina dan si peserta didik saja. Tidak boleh dilihat siapapun.
Metode kedua, prosesi ini dilakukan secara tertutup dengan perintah tidak boleh diketahui oleh siapapun. Termasuk oleh pembina yang menugaskan.
Si peserta didik golongan Penegak Bantara yang akan naik ke golongan Laksana ini diberi sehelai bendera dan sebuah gunting. Dengan perintah, potong bendera dan tidak boleh dilihat atau diketahui siapapun.
Setelah menerima tugas tersebut, peserta didik tadi dipersilahkan mencari tempat dimana saja yang tidak diketahui siapapun. Dalam durasi tertentu, bisa satu jam atau dua jam Penegak yang naik golongan dipanggil satu persatu.
Dalam sebuah ruangan yang tidak dilihat peserta lain, bendera yang harus kembali dilipat tersebut, diperiksa. Apakah benar-benar dipotong atau tidak.
Bagi yang memotong, maka peserta didik tersebut gagal, dan kembali diberi pemahaman tentang nasionalisme dan cara berfikir. Salah satunya, perintah tidak boleh dilihat siapapun adalah ‘clue’ penting bagi peserta kenaikan golongan.
Jika mereka berfikir dewasa maka yg teringat adalah dimanapun tugas potong bendera ini dilakukan tetap tidak bisa, karena jika tidak dilihat oleh manusia maka Tuhan pasti melihat setiap gerak gerik manusia. Sehingga si peserta didik senantiasa selalu ingat dengan Tuhannya, begitu maknanya.
Saya selaku anggota Gerakan Pramuka dari tingkatan Penggalang, Penegak, Pandega dan Pembina (saat ini), memahami ini karena prosesi tersebut pernah saya jalankan ketika naik dari golongan Penegak Bantara ke Laksana. Apakah bendera tersebut dulu saya potong?
Maka jawabannya tidak akan saya buka disini karena prosesi waktu itu sangat rahasia dan tidak boleh diceritakan ke siapapun.
Kala itu, pembina penguji dan peserta didik terikat janji tidak dibolehkan menceritakan hasil dari prosesi kenaikan, khususnya saat ujian potong bendera ke siapapun dan sampai kapanpun.
Maka dengan ini saya simpulkan, proses yang berlangsung di video diatas bukan kesalahan teknis, namun merupakan teknis yang tak lazim dan tak perlu didokumentasikan hingga viral.
Tak ada niat memotong bendera karena tidak mencintai NKRI, tujuannya memang menguji nasionalisme dan patriotisme. Hanya saja dilakukan di depan umum, dan di era apa saja bisa viral melalui gadget di tangan.
Wassalam
Salam Pramuka
Kak Yoed (Wahyudi Agus)
- Pembina/Anggota Gerakan Pramuka Sumatera Barat
- Wakil Ketua Kwarda 03 Gerakan Pramuka Sumbar 2017-2022
- Pengurus Daerah Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sumatera Barat















