Sumbardaily.com, Tanah Datar – Gerakan pelestarian adat Minangkabau kini memasuki babak baru. Bundo Kanduang Kabupaten Tanah Datar berencana turun langsung ke sekolah-sekolah binaan untuk mengajarkan aturan adat Minangkabau kepada generasi muda.
Langkah ini menjadi bagian dari Program Sekolah Binaan Bundo Kanduang yang baru saja diresmikan di SMP Negeri 1 Tanjung Baru dan SMP Negeri 1 Lintau Buo, Kamis (30/10/2025).
Melalui program ini, Bundo Kanduang ingin memastikan nilai-nilai adat, sopan santun, serta filosofi Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK) tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Mereka tidak sekadar memberi ceramah, tetapi juga membimbing siswa memahami perilaku sehari-hari yang mencerminkan adat Minangkabau, seperti cara berbicara, berjalan, berpakaian, hingga berinteraksi dalam masyarakat.
Penasehat Bundo Kanduang Kabupaten Tanah Datar, Dwinanda Ahmad Fadly, menilai sekolah merupakan tempat strategis untuk menanamkan nilai-nilai adat sejak dini. Ia menyebut, banyak aturan adat yang selama ini tidak diajarkan secara formal di sekolah umum, padahal sangat penting untuk membentuk karakter generasi muda.
Salah satu materi utama yang akan diajarkan adalah Sumbang Duo Baleh, yakni dua belas larangan dan pedoman berperilaku yang menjadi dasar etika masyarakat Minangkabau.
Aturan itu mencakup sopan santun dalam duduk, berjalan, berbicara, melihat, bekerja, bertanya, menjawab, hingga berpakaian dan bergaul. "Melalui pembelajaran ini, siswa diharapkan mampu memahami nilai adat sebagai panduan moral dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.
Dwinanda menegaskan, kegiatan turun langsung ke sekolah menjadi bentuk kepedulian Bundo Kanduang terhadap masa depan Tanah Datar. "Dengan pendekatan yang lebih personal dan interaktif, para siswa akan belajar langsung dari tokoh adat perempuan yang memahami filosofi budaya Minang secara mendalam," jelasnya.
Wakil Bupati Tanah Datar, Ahmad Fadly, yang turut hadir dalam peluncuran program tersebut, menyampaikan dukungan penuh terhadap langkah Bundo Kanduang. Menurutnya, inisiatif ini sejalan dengan visi Kabupaten Tanah Datar untuk mewujudkan daerah madani yang maju dan berkelanjutan berdasarkan nilai Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah.
"Sekolah Binaan Bundo Kanduang dapat menjadi solusi atas kegelisahan masyarakat terhadap lunturnya nilai adat dan moral di kalangan remaja," kata Ahmad Fadly.
Dalam pandangannya, kemajuan teknologi yang begitu cepat sering kali membuat generasi muda terjebak dalam budaya digital yang minim nilai. Oleh karena itu, Bundo Kanduang diharapkan mampu mengembalikan keseimbangan antara kemajuan pengetahuan dengan penguatan akhlak dan budaya lokal.
Ia juga mengingatkan pentingnya sinergi antarinstansi agar program ini dapat berjalan maksimal. Dukungan dari organisasi perangkat daerah, kepala sekolah, guru, serta tokoh masyarakat seperti ninik mamak dan cadiak pandai dianggap penting agar pendidikan adat ini bisa menjadi gerakan bersama, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (Dinsos PPA) Kabupaten Tanah Datar, Hendra Setyawan, menjelaskan bahwa program Sekolah Binaan Bundo Kanduang memiliki tiga tujuan utama. Pertama, menanamkan dan melestarikan adat serta budaya Minangkabau di kalangan pelajar. Kedua, menyiapkan generasi emas 2045 yang berakar pada nilai-nilai budaya lokal. Ketiga, memastikan warisan adat tetap lestari meski di tengah derasnya arus modernisasi.
Menurut Hendra, dua sekolah yang menjadi pilot project tahun 2025—SMP Negeri 1 Tanjung Baru dan SMP Negeri 1 Lintau Buo—dipilih karena memiliki komitmen kuat terhadap pendidikan karakter dan budaya. "Ke depan, jumlah sekolah binaan akan diperluas agar nilai-nilai adat bisa menjangkau lebih banyak pelajar di seluruh Tanah Datar," sebut Hendra.
Inisiatif Bundo Kanduang turun langsung ke sekolah dianggap sebagai langkah strategis dalam mengembalikan nilai-nilai luhur Minangkabau kepada generasi muda. Lebih dari sekadar pelajaran adat, kegiatan ini juga menjadi upaya membentuk karakter pelajar Tanah Datar yang santun, berakhlak, dan bangga dengan warisan budayanya sendiri. (red)
















