Sumbardaily.com - Akses warga di sejumlah kawasan Pesisir Selatan kembali tersambung setelah tiga jembatan gantung yang rusak akibat bencana pada 2024 selesai dibangun kembali. Infrastruktur tersebut menjadi jalur penting bagi masyarakat untuk menjalankan berbagai aktivitas, mulai dari pertanian hingga pendidikan dan kegiatan ekonomi.
Informasi mengenai tiga jembatan gantung yang diperbaiki di Pesisir Selatan tersebut dikutip dari laman resmi Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat, Rabu (26/8/2026). Pembangunan kembali dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Bina Marga bersama BPJN Sumatera Barat.
Ketiga jembatan tersebut yakni Jembatan Gantung Koto Rawang, Jembatan Gantung Limau Gadang–Batu Kunik di Nagari Lumpo, Kecamatan IV Jurai, serta Jembatan Gantung Duku–Subarang Solok di kawasan Tarusan.
Pembangunan kembali dilakukan sebagai bagian dari upaya memulihkan konektivitas masyarakat yang terdampak bencana. Setelah kembali dapat digunakan, keberadaan jembatan diharapkan membuat pergerakan warga dan berbagai kegiatan yang sebelumnya terdampak dapat berjalan kembali.
Jembatan Gantung Koto Rawang menjadi salah satu infrastruktur yang dibangun kembali. Jembatan tersebut memiliki bentang sepanjang 100 meter dengan lebar jalur 1,8 meter yang diperuntukkan bagi pejalan kaki.
Pada bagian struktur atas, jembatan menggunakan rangka baja tipe rigid simetris. Pagar pengaman dengan tinggi 1 meter juga menjadi bagian dari konstruksi jembatan untuk mendukung keamanan pengguna.
Sementara struktur bawah Jembatan Gantung Koto Rawang menggunakan pondasi pylon sumuran berdiameter 3 meter dengan kedalaman 4 meter. Selain itu, konstruksi jembatan dilengkapi angkur sumuran.
Jembatan kedua yang selesai dibangun kembali adalah Jembatan Gantung Limau Gadang–Batu Kunik. Infrastruktur tersebut berada di Nagari Lumpo, Kecamatan IV Jurai.
Jembatan ini memiliki panjang bentang 80 meter dan lebar jalur 1,8 meter. Struktur atasnya menggunakan rangka baja tipe rigid simetris.
Pada bagian pondasi, pylon dan angkur jembatan menggunakan sumuran dengan diameter 3 meter serta kedalaman 4 meter. Jembatan tersebut sebelumnya terdampak banjir pada 2024 sehingga pembangunan kembali dilakukan untuk mengembalikan akses masyarakat.
Dengan kembali berfungsinya jembatan tersebut, akses warga di kawasan Limau Gadang–Batu Kunik diharapkan menjadi lebih mudah. Infrastruktur itu juga ditujukan untuk mendukung kegiatan perekonomian serta aktivitas pertanian masyarakat.
Jembatan ketiga adalah Jembatan Gantung Duku–Subarang Solok yang berada di kawasan Tarusan. Jembatan ini memiliki bentang 100 meter dengan lebar jalur 1,8 meter.
Konstruksi Jembatan Gantung Duku–Subarang Solok memiliki tinggi pylon mencapai 13,5 meter. Struktur bagian atas menggunakan rangka baja tipe rigid simetris.
Sementara itu, bagian struktur bawah menggunakan bore pile pada pylon dan pondasi sumuran. Konstruksi tersebut juga dilengkapi sistem counterweight yang berfungsi menjaga kestabilan jembatan.
Jembatan Duku–Subarang Solok juga terdampak banjir pada 2024. Pembangunan kembali dilakukan agar akses masyarakat dapat digunakan lagi untuk mendukung berbagai aktivitas di kawasan tersebut.
Secara keseluruhan, ketiga jembatan gantung itu memiliki karakteristik konstruksi berbeda sesuai kebutuhan masing-masing lokasi. Namun, ketiganya memiliki fungsi yang sama, yakni mengembalikan akses masyarakat yang terganggu akibat bencana.
Pemulihan akses tersebut tidak hanya berkaitan dengan mobilitas sehari-hari. Berfungsinya kembali jembatan juga berkaitan dengan kegiatan pertanian, pendidikan, kesehatan, serta aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Sebelumnya, kerusakan infrastruktur akibat bencana dapat menghambat pergerakan masyarakat yang menggunakan akses tersebut. Dengan pembangunan kembali, masyarakat di kawasan terdampak kini mendapatkan kembali jalur penghubung yang dibutuhkan dalam menjalankan aktivitas.
BPJN Sumatera Barat menyebut pembangunan kembali tiga jembatan gantung tersebut merupakan bagian dari pemulihan konektivitas masyarakat terdampak bencana.
Keberadaan ketiga jembatan juga memiliki peran bagi masyarakat yang menjalankan aktivitas pertanian. Akses yang kembali tersedia diharapkan dapat membantu kelancaran pergerakan warga dalam menjalankan kegiatan ekonomi di wilayah masing-masing.
Untuk sektor pendidikan dan kesehatan, konektivitas yang pulih juga diharapkan mendukung mobilitas masyarakat menuju fasilitas yang dibutuhkan. Begitu pula dengan kegiatan sosial yang bergantung pada akses antarwilayah.
Pembangunan kembali tiga jembatan gantung di Pesisir Selatan itu sekaligus menunjukkan pemulihan infrastruktur tidak hanya berfokus pada jalan utama. Jembatan penghubung masyarakat juga menjadi bagian penting dalam mengembalikan aktivitas warga setelah terjadi bencana.
Dengan selesainya pekerjaan tersebut, tiga jembatan gantung kembali dapat menjadi penghubung bagi masyarakat di kawasan terdampak. Pemulihan konektivitas diharapkan membuat mobilitas warga, kegiatan pertanian, pendidikan, kesehatan, serta aktivitas sosial dan ekonomi kembali berjalan lancar. (*)















