Sumbardaily.com – Kelompok suporter Semen Padang FC, The Kmers, resmi menyatakan sikap boikot terhadap pertandingan tim kebanggaan mereka dalam lanjutan BRI Super League 2025/2026. Aksi ini menjadi sorotan setelah pernyataan resmi mereka diunggah melalui media sosial.
Dalam unggahan tersebut, The Kmers menyoroti kondisi yang tengah dialami tim berjuluk Kabau Sirah, sekaligus mengkritik sikap manajemen yang dinilai tidak terbuka terhadap masukan. Mereka menyayangkan pendekatan yang dianggap cenderung anti kritik dan tidak memberikan solusi nyata untuk perbaikan tim.
“Melihat kondisi yang terjadi pada tim Semen Padang FC, serta sikap manajemen yang cenderung anti kritik, kami dari The Kmers sangat menyayangkan hal tersebut. Sikap yang ditunjukkan justru terkesan mencari kambing hitam tanpa menghadirkan solusi nyata untuk perbaikan tim,” tulis pernyataan resmi tersebut, dikutip Minggu (19/4/2026).
Lebih lanjut, kelompok suporter ini juga menilai bahwa keberadaan pendukung setia selama ini justru tidak dihargai. Mereka menyebut pendekatan manajemen terkesan arogan dan tidak mencerminkan sikap profesional.
“Supporter yang selama ini setia mendukung justru dianggap tidak berguna, dengan pendekatan yang arogan dan tidak mencerminkan sikap profesional. Hal ini tentu melukai hati kami sebagai bagian dari elemen penting dalam perjalanan klub,” lanjut pernyataan tersebut.
Sebagai bentuk protes, The Kmers menegaskan akan memboikot pertandingan Persijap Jepara melawan Semen Padang FC, yang akan berlangsung di Stadion Haji Agus Salim, Padang, Senin (20/4/2026) serta laga-laga berikutnya untuk waktu yang belum ditentukan.
“Untuk itu, kami The Kmers dengan tegas mengambil sikap untuk memboikot pertandingan Semen Padang FC vs Persijap, serta pertandingan-pertandingan selanjutnya, untuk waktu yang belum ditentukan,” tulis mereka.
Tidak hanya itu, The Kmers juga menuntut adanya perubahan sikap dan keterbukaan dari manajemen klub. Mereka menegaskan bahwa sepak bola bukan hanya milik pengelola, tetapi juga milik suporter dan masyarakat luas.
“Kami menuntut adanya perubahan sikap dan keterbukaan dari manajemen. Sepak bola bukan hanya milik pengelola, tetapi juga milik supporter dan masyarakat.”
Dalam pernyataan penutup, mereka menegaskan pentingnya menghilangkan sikap arogan dan anti demokrasi dalam pengelolaan klub. Bahkan, mereka menyarankan agar pihak yang tidak mampu menjalankan amanah memberikan ruang kepada pihak lain yang lebih kompeten.
“Arogansi dan sikap anti demokratis harus dihilangkan. Jika tidak mampu menjalankan amanah dengan baik, maka sebaiknya memberi ruang kepada pihak yang lebih kompeten.”
Aksi boikot ini menjadi sinyal kuat ketegangan antara suporter dan manajemen Semen Padang FC. Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak manajemen terkait tuntutan yang disampaikan oleh The Kmers. (*)
















