Sumbardaily.com – Mahasiswa Politeknik Negeri Padang (PNP) bernama Febrintino Dwi Awan (23) diduga mengakhiri hidupnya di kamar kos dan meninggalkan pesan terakhir yang menjadi perhatian. Peristiwa tersebut terjadi di Jalan Puncak, Kelurahan Limau Manis, Kecamatan Pauh, Kota Padang, pada Sabtu (11/4/2026).
Korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa dengan posisi leher terlilit tali yang terikat pada ventilasi kamar mandi. Saat ditemukan, kondisi tubuhnya sudah membengkak dan sebagian menghitam, yang mengindikasikan korban telah meninggal beberapa waktu sebelum ditemukan.
Di lokasi kejadian, pemilik kos bernama Mesi mengungkapkan adanya sebuah buku yang diduga berisi pesan terakhir korban. Buku tersebut ditemukan di dalam kamar dan langsung diamankan oleh pihak kepolisian untuk kepentingan penyelidikan.
“Ada buku ditemukan. Tapi saya belum sempat melihat untuk membacanya,” ujar Mesi saat ditemui di lokasi.
Berdasarkan foto yang beredar di media sosial, isi tulisan dalam buku tersebut memperlihatkan pesan yang diduga ditulis langsung oleh korban. Dalam pesan itu, korban meminta kepada siapa pun yang menemukan buku tersebut untuk membuka telepon genggamnya dan membaca pesan di aplikasi WhatsApp.
“Siapapun yang baca buku ini tolong buka hp dan WA ku ada pesan untuk keluargaku yang aku lakukan ini dan baca pesan WA ku,” demikian isi tulisan yang ditemukan dalam buku tersebut.
Febrintino diketahui merupakan mahasiswa angkatan 2023 di Politeknik Negeri Padang dan saat ini berada di semester enam. Ia tercatat sebagai mahasiswa program Diploma 3 (D-3) jurusan Administrasi Niaga.
Kasubag Umum PNP, Fajri Arianto, membenarkan bahwa korban adalah mahasiswa aktif di kampus tersebut. Ia menyebut pihak kampus masih melakukan penelusuran lebih lanjut terkait kondisi dan permasalahan yang mungkin dihadapi oleh korban sebelum kejadian.
Menurut Fajri, berdasarkan informasi dari teman-temannya, korban dikenal sebagai pribadi yang tertutup dan jarang berbagi cerita.
“Sehari-hari informasinya memang mahasiswa ini introvert. Menurut temannya, dia tidak pernah dan tidak suka cerita. Memang tertutup anaknya,” ujar Fajri.
Ia juga mengungkapkan bahwa korban sudah tidak dapat dihubungi selama sekitar satu minggu sebelum ditemukan. Dalam kurun waktu tersebut, korban juga tidak terlihat mengikuti aktivitas perkuliahan seperti biasanya.
“Beliau sudah seminggu tidak bisa dihubungi teman-temannya. Informasinya tidak masuk-masuk kuliah,” ungkapnya.
Peristiwa ini menimbulkan duka mendalam dan menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk lingkungan kampus dan masyarakat. Hingga saat ini, pihak berwenang masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap lebih lanjut latar belakang kejadian tersebut. (*)
















