Sumbardaily.com - Perjalanan PSP Padang di ajang Liga 4 Nasional Piala Presiden 2026 harus berakhir lebih cepat dari yang diharapkan. Tim kebanggaan masyarakat Kota Padang itu dipastikan gagal melaju ke babak berikutnya setelah menelan kekalahan tipis 0-1 dari Persma Manado pada laga terakhir Grup S yang berlangsung di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, Senin (15/6/2026).
Namun, tersingkirnya PSP Padang tidak hanya menjadi sorotan karena hasil pertandingan semata. Laga penentuan tersebut juga diwarnai berbagai kontroversi yang memicu protes keras dari kubu Pandeka Minang, mulai dari keputusan wasit yang dipersoalkan hingga munculnya dugaan tindakan kekerasan terhadap pemain usai pertandingan.
Gol semata wayang yang membawa Persma Manado meraih kemenangan dicetak oleh Riando Subuh pada menit ke-16. Gol tersebut menjadi pembeda dalam pertandingan yang berlangsung ketat dan sarat tensi tinggi.
Kemenangan itu sekaligus mengubah peta persaingan di Grup S yang sebelumnya memperlihatkan persaingan ketat antara PSP Padang dan Persikotas Tasikmalaya. Tambahan tiga poin membuat Persma Manado berhasil mengamankan posisi runner-up grup dengan total empat poin.
Sementara itu, PSP Padang yang juga mengoleksi empat poin harus menerima kenyataan pahit tersingkir dari kompetisi. Hasil tersebut membuat langkah tim asal Sumatera Barat itu terhenti di fase penyisihan grup dan gagal mengamankan tiket ke babak selanjutnya.
Joni Efendi Soroti Faktor Non-Teknis
Kekalahan yang dialami PSP Padang ternyata menyisakan kekecewaan mendalam dari jajaran pelatih. Pelatih Kepala PSP Padang, Joni Efendi, menilai pertandingan tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis di lapangan, tetapi juga dipengaruhi sejumlah faktor lain yang menurutnya berdampak terhadap jalannya laga.
Menurut Joni, para pemain sebenarnya telah berupaya menjalankan strategi yang disiapkan dan mampu mengantisipasi permainan lawan dengan cukup baik, termasuk saat menghadapi tekanan di area pertahanan.
Namun demikian, ia menilai situasi non-teknis selama pertandingan justru mengganggu konsentrasi para pemainnya.
"Non-teknisnya tinggi dan pemain saya sudah mengatasi dengan jalan ambil lawan dalam kotak penalti," ungkap Joni Efendi, Senin (15/6/2026).
Puncak kekecewaan kubu PSP Padang terjadi menjelang berakhirnya pertandingan. Joni menyoroti satu momen yang menurutnya menjadi keputusan krusial dan sangat berpengaruh terhadap hasil akhir laga.
Insiden tersebut terjadi pada menit ke-85 ketika PSP Padang menilai terjadi pelanggaran handball di dalam kotak penalti Persma Manado. Namun, wasit tidak memberikan peluit maupun keputusan penalti yang diharapkan kubu PSP Padang.
Menurut Joni, keputusan tersebut memicu emosi para pemain yang merasa dirugikan.
"Menit 85 handball, nyata dalam kotak (penalti) tapi wasit tidak membunyi peluit dan membuat pemain lebih terpancing emosinya," kata Joni.
Pernyataan tersebut kemudian menjadi perhatian para pendukung PSP Padang yang turut mempertanyakan kepemimpinan wasit dalam pertandingan penentuan tersebut.
Kericuhan Usai Laga Jadi Sorotan
Situasi semakin memanas setelah pertandingan berakhir. Kekalahan yang dialami PSP Padang tidak hanya menyisakan kekecewaan di atas lapangan, tetapi juga memunculkan insiden yang kemudian ramai diperbincangkan di media sosial.
Sebuah rekaman video yang beredar luas menunjukkan adanya keributan di area lapangan usai peluit panjang dibunyikan. Video tersebut memperlihatkan dugaan aksi kekerasan yang melibatkan oknum panitia pelaksana pertandingan terhadap pemain PSP Padang.
Rekaman itu dengan cepat menyebar dan menjadi bahan perbincangan di kalangan pecinta sepak bola nasional, khususnya pendukung PSP Padang yang menilai insiden tersebut tidak seharusnya terjadi dalam sebuah pertandingan resmi.
Saat dimintai konfirmasi mengenai video yang viral tersebut, Joni Efendi membenarkan adanya dugaan tindakan fisik terhadap pemain timnya.
"Iya, panitia ikut juga memukul pemain," ujar Joni singkat.
Pernyataan tersebut semakin memperkuat sorotan terhadap jalannya pertandingan yang sejak awal sudah diwarnai protes terkait kepemimpinan wasit.
Hingga berita ini diturunkan, kekalahan PSP Padang dari Persma Manado yang berujung pada kegagalan lolos ke fase berikutnya masih menjadi perbincangan hangat di kalangan suporter.
Selain menyoroti hasil pertandingan, banyak pendukung yang meminta penyelenggara melakukan evaluasi terhadap kepemimpinan wasit serta mengusut dugaan tindakan kekerasan yang terjadi setelah laga di Stadion Mandala Krida.
Kekalahan 0-1 dari Persma Manado akhirnya memastikan langkah PSP Padang di Liga 4 Nasional Piala Presiden 2026 terhenti di babak penyisihan Grup S. Meski demikian, polemik yang muncul selama dan setelah pertandingan justru menjadi sorotan utama yang menyita perhatian publik sepak bola Indonesia. (*)
















