Sumbardaily.com - Peringatan satu abad Gempa Padang Panjang 1926 dimanfaatkan Pemerintah Kota Padang Panjang untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman bencana. Salah satu langkah yang didorong adalah mengoptimalkan fungsi masjid sebagai pusat edukasi, penyebaran informasi, sekaligus penguatan budaya mitigasi bencana di tengah masyarakat.
Upaya tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) Bulan Mitigasi Bencana Satu Abad Gempa Padang Panjang 1926 yang mengangkat tema "Peran Masjid dalam Mitigasi dan Kesiapsiagaan Bencana". Kegiatan berlangsung di Hall Lantai III Balai Kota Padang Panjang, Sabtu (6/6/2026), dan dibuka langsung oleh Wali Kota Padang Panjang, Hendri Arnis.
Sejumlah pejabat dan tokoh hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Ketua DPRD Imbral, Ahli Geologi Sumatera Barat Ade Edward, Asisten I Setdako I Putu Venda, Kepala Dinas Kominfo Harry Rizka Perdana, Plh Kepala BPBD Kesbangpol Dian Eka Purnama, Kepala Dinas Sosial PPKBPPPA Winarno, Ketua PJKIP Rifnaldi, Ketua Dewan Masjid Ade Sehabudin, serta berbagai unsur masyarakat lainnya.
Dalam sambutannya, Hendri Arnis menegaskan bahwa peringatan 100 tahun gempa yang pernah melanda Padang Panjang harus menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bencana.
Menurutnya, kondisi geografis Padang Panjang yang berada di kawasan rawan bencana menuntut adanya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam membangun sistem mitigasi yang kuat dan berkelanjutan.
"Padang Panjang merupakan daerah yang memiliki kerentanan terhadap berbagai potensi bencana alam. Oleh karena itu, diperlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk masjid sebagai pusat aktivitas umat, untuk menjadi bagian dari sistem mitigasi dan kesiapsiagaan bencana yang terintegrasi," ujarnya.
Hendri menilai masjid memiliki posisi yang sangat strategis karena menjadi tempat berkumpulnya masyarakat dalam berbagai aktivitas. Fungsi masjid, menurutnya, tidak hanya terbatas sebagai sarana ibadah, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai pusat edukasi dan penyebaran informasi yang efektif.
Dengan jangkauan yang luas hingga tingkat komunitas terkecil, masjid dinilai mampu menjadi sarana penyampaian edukasi kebencanaan yang lebih dekat dengan masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, pemahaman mengenai mitigasi dan kesiapsiagaan bencana diharapkan dapat tumbuh secara merata di berbagai lapisan masyarakat.
"Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir berbagai gagasan dan rekomendasi strategis yang dapat diterapkan dalam penguatan peran masjid sebagai bagian dari sistem mitigasi bencana daerah. Dengan sinergi antara pemerintah, tokoh agama, akademisi, komunitas, dan masyarakat, Padang Panjang diharapkan mampu menjadi kota yang semakin tangguh dan siap menghadapi tantangan kebencanaan di masa depan," katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia, Eko Susilo, menyampaikan bahwa masjid memiliki kedekatan emosional dan sosial yang kuat dengan masyarakat. Kondisi tersebut menjadikan masjid sebagai sarana yang potensial untuk membangun kesadaran kolektif terkait pentingnya mitigasi bencana.
Menurut Eko, penguatan fungsi masjid dapat menjadi salah satu strategi efektif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap risiko kebencanaan yang mungkin terjadi sewaktu-waktu.
Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid juga dapat dimaksimalkan sebagai pusat informasi, edukasi, serta pemberdayaan masyarakat dalam menghadapi berbagai ancaman bencana.
"Masjid merupakan institusi yang dekat dengan masyarakat. Melalui penguatan fungsi masjid, kita dapat membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya mitigasi bencana sehingga masyarakat lebih siap menghadapi berbagai potensi risiko yang dapat terjadi sewaktu-waktu," ujarnya.
Melalui forum diskusi tersebut, berbagai masukan dan pandangan dari para peserta diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi yang aplikatif untuk mendukung penguatan program mitigasi bencana berbasis masyarakat.
Hasil FGD nantinya juga diharapkan menjadi landasan dalam memperluas keterlibatan masyarakat dalam upaya pengurangan risiko bencana sekaligus mempertegas peran masjid sebagai salah satu elemen penting dalam sistem kesiapsiagaan daerah.
Dengan kolaborasi antara pemerintah daerah, tokoh agama, akademisi, komunitas, dan masyarakat, Padang Panjang berupaya membangun ketangguhan menghadapi berbagai potensi bencana di masa mendatang.
Momentum satu abad Gempa Padang Panjang 1926 pun menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan harus terus ditanamkan melalui berbagai jalur, termasuk memanfaatkan peran strategis masjid sebagai pusat edukasi dan mitigasi bencana. (*)
















