Sumbardaily.com, Padang Panjang - Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setdako Padang Panjang, Putra Dewangga melaporkan bahwa Padang Panjang mencatat inflasi tahunan (year-on-year) sebesar 1,70 persen pada September 2024.
"Namun secara bulanan (month-to-month), kami justru mengalami deflasi sebesar -0,28 persen," jelasnya usai mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah secara virtual yang dipimpin oleh Pelaksana Tugas (Plt) Sekjen Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Tomsi Tohir pada Senin (21/10/2024).
Lebih lanjut, Dewangga memaparkan bahwa IPH Padang Panjang pada minggu ketiga Oktober 2024 berada di level 0,5 yang mengindikasikan fluktuasi rendah positif.
"Pergerakan ini terutama dipengaruhi oleh dinamika harga bawang merah, daging ayam ras, dan jeruk," ungkapnya.
Dari pemantauan terhadap 48 komoditas, sebagian besar menunjukkan kondisi harga yang stabil. Hanya delapan komoditas yang mengalami fluktuasi. Empat di antaranya mencatat kenaikan, yakni telur itik, cabai merah, kacang tanah, dan bawang daun.
Di sisi lain, empat komoditas tercatat mengalami penurunan harga, meliputi daging ayam broiler, cabai hijau, cabai rawit, dan bawang merah. Kondisi ini menunjukkan adanya dinamika pasar yang masih terkendali di wilayah Padang Panjang.
Sementara itu, Plt Sekjen Kemendagri Tomsi Tohir meminta Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) diminta segera melakukan intervensi terhadap komoditas pangan yang mengalami tren kenaikan harga.
"Kita tidak boleh lengah dalam mengawasi pergerakan harga. Meskipun kenaikan masih di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) dan masih dalam batas toleransi, TPID harus tetap waspada," tegas Tomsi.
Tomsi menggarisbawahi pentingnya pengawasan ketat terhadap komoditas strategis seperti bawang merah, telur ayam ras, dan cabai yang menunjukkan tren kenaikan di sejumlah kabupaten/kota.
"Khusus untuk minyak goreng dan bawang putih, kita perlu investigasi lebih dalam penyebab kenaikan harganya," ujarnya. (red)
















