PT Semen Padang terus berupaya mewujudkan Pabrik Indarung I dan PLTA Rasak Bungo menjadi cagar budaya dan warisan dunia UNESCO.
Saat ini, PT Semen Padang bersama Tim Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang sedang melakukan pengumpulan data dan dokumen.
Terutama data dan dokumen mengenai aktivitas pendirian pabrik Semen Padang dari zaman kemerdekaan. Baik pada arsip Semen Padang maupun yang tersimpan di Belanda, dan tempat lainnya.
“Nanti, data dan dokumen kita serahkan ke Tim Cagar Budaya Pemko Padang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang,” kata Kepala Unit Humas & Kesekretariatan PT Semen Padang Nur Anita Rahmawati, Kamis (8/9/2022).
Selain pengumpulan data dan dokumen, pihak PT Semen Padang bersama Tim Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang juga melakukan pengukuran area calon cagar budaya.
Menurut Anita, setelah Pabrik Indarung I dan PLTA Rasak Bungo menjadi cagar budaya, prosesnya akan berlanjut secara paralel.
Pasalnya, target PT Semen Padang adalah menjadikan Indarung I dan PLTA Rasak Bungo sebagai Cagar Budaya Nasional dan Warisan Dunia UNESCO.
Baca Juga:
Andre Rosiade Minta Menteri BUMN Konkretkan Program Minyak Makan Merah di Sumbar
Sering Duet, Penyanyi Minang Randa Putra dan Rana Lida Bertunangan
Rencana ini mendapat dukungan dari Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI.
“Dukungan itu disampaikan langsung Dirjen pada PT Semen Padang ketika beliau berkunjung ke Dharmasraya,” sebut Anita.
Sejarah Singkat Pabrik Indarung I dan PLTA Rasak Bungo
Pabrik Indarung I berdiri pada 18 Maret 1910 dengan berbagai fasilitas penunjang. Salah satunya PLTA Rasak Bungo. Pembangunan PLTA ini tahun 1908.
Sejak berdiri, PLTA Rasak Bungo menjadi sumber energi untuk operasional pabrik Indarung I PT Semen Padang yang dulu bernama NV Nederlands Indische Portland Cement.
PT Semen Padang mengusulkan Pabrik Indarung I untuk menjadi cagar budaya, lantaran aset yang luar biasa dari sisi sejarah, ekonomi dan budaya.
Dengan kondisi tidak beroperasi lagi sejak tahun 1999, Pabrik Indarung I harus tetap lestari sebagai pembelajaran bagi generasi mendatang. Sebab, Pabrik Indarung I ini memiliki peran strategis.
Jika telah menjadi cagar budaya, fungsi Pabrik Indarung I dapat menjadi pusat pengetahuan dan pusat budaya. (red)
















