Dosen UBH Ungkap Cara Sederhana Kurangi Emisi CO₂ Lewat Teknologi Plasma

Dosen UBH Ungkap Cara Sederhana Kurangi Emisi CO₂ Lewat Teknologi Plasma

Orasi ilmiah itu disampaikan oleh Ulung Muhammad Sutopo, ST., M.Eng., Ph.D, dosen Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri Universitas Bung Hatta. (Foto: UBH)

Sumbardaily.com - Teknologi plasma menjadi solusi potensial dalam mengolah karbon dioksida (CO₂) menjadi lebih bermanfaat. Melalui pemisahan gas CO dan O₂, penelitian terbaru menunjukkan peningkatan signifikan pada efisiensi konversi sekaligus menekan pembentukan kembali CO₂.

Hal ini terungkap dalam momentum Wisuda Akademik ke-85 sekaligus peringatan Dies Natalis ke-45 Universitas Bung Hatta dengan adanya orasi ilmiah yang mengangkat isu global.

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi seremoni akademik, tetapi juga wadah penyampaian gagasan strategis terkait tantangan perubahan iklim.

Orasi ilmiah itu disampaikan oleh Ulung Muhammad Sutopo, ST., M.Eng., Ph.D, dosen Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri Universitas Bung Hatta.

Ia memaparkan hasil risetnya dalam forum yang berlangsung di Bung Hatta Convention Hall, Kampus Proklamator I, pada 25 April 2026, di hadapan wisudawan, sivitas akademika, serta tamu undangan.

Dalam presentasinya, Ulung mengangkat judul “Pengaruh Pemisahan CO dan O₂ untuk Meningkatkan Konversi CO₂ Menggunakan Plasma: Studi Kasus Berdasarkan Ansys Chemkin”.

Ia menyoroti pentingnya inovasi teknologi untuk menjawab persoalan emisi karbon yang menjadi pemicu utama pemanasan global.

Menurutnya, karbon dioksida (CO₂) yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil merupakan salah satu kontributor terbesar terhadap perubahan iklim. Namun, sifat molekul CO₂ yang sangat stabil menjadi kendala utama dalam proses penguraiannya.

Ulung menjelaskan bahwa pendekatan konvensional membutuhkan energi besar untuk memecah molekul tersebut. Oleh karena itu, ia menawarkan teknologi plasma sebagai solusi alternatif yang lebih efisien.

Teknologi ini memungkinkan proses dekomposisi CO₂ terjadi melalui tumbukan elektron pada suhu kamar dan tekanan normal.

Dengan karakteristik tersebut, teknologi plasma dinilai lebih fleksibel dan berpotensi dikombinasikan dengan sumber energi terbarukan.

Meski demikian, ia menekankan adanya tantangan dalam proses tersebut, yakni reaksi rekombinasi. Proses ini menyebabkan hasil dekomposisi kembali membentuk CO₂, sehingga menurunkan efisiensi konversi.

"Penelitian ini berfokus pada bagaimana pemisahan produk gas, khususnya karbon monoksida (CO) dan oksigen (O₂), dapat menekan reaksi rekombinasi dan meningkatkan konversi CO₂ secara signifikan," jelasnya dilansir laman resmi UBH Selasa (28/4/2026).

Dalam penelitiannya, Ulung memanfaatkan simulasi menggunakan perangkat lunak Ansys Chemkin-Pro untuk menganalisis berbagai parameter operasional. Beberapa faktor yang diuji meliputi daya plasma, waktu tinggal, laju aliran gas, serta suhu gas.

Hasil simulasi menunjukkan bahwa peningkatan daya plasma dan waktu tinggal memberikan dampak positif terhadap konversi CO₂. Sebaliknya, peningkatan laju aliran gas dan suhu justru menurunkan efisiensi proses.

Pada konfigurasi reaktor standar, penelitian ini menghasilkan konversi CO₂ sebesar 70,63% dengan efisiensi energi mencapai 29,41%. Kondisi optimal tersebut diperoleh pada daya plasma 100 W, suhu 350 K, laju aliran gas 0,2 liter per menit, serta waktu tinggal selama 5 detik.

Selain itu, temuan penting lainnya menunjukkan bahwa pemisahan gas hasil reaksi memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan kinerja sistem. Dalam hal ini, pemisahan karbon monoksida (CO) terbukti lebih efektif dibandingkan oksigen (O₂) dalam menekan reaksi rekombinasi.

"CO menjadi faktor utama dalam pembentukan kembali CO₂ melalui interaksinya dengan atom oksigen. Oleh karena itu, pengendalian keberadaan CO dalam sistem menjadi kunci dalam meningkatkan efisiensi konversi," ungkapnya.

Orasi ilmiah ini juga mencerminkan latar belakang akademik Ulung yang memiliki pengalaman pendidikan internasional di bidang teknik energi. Ia diketahui meraih gelar Magister dan Doktor dari Gifu University, Jepang, dengan fokus pada kajian energi dan lingkungan.

Melalui kegiatan ini, Universitas Bung Hatta menegaskan komitmennya dalam mengembangkan riset yang relevan dengan isu global. Upaya tersebut sejalan dengan tema Dies Natalis ke-45, yakni “Impactful Campus, Meaningful Future”, yang menekankan pentingnya kontribusi nyata perguruan tinggi dalam menciptakan masa depan berkelanjutan. (*)

Baca Juga

Padang Panjang Gelap Satu Jam, Dukung Earth Hour dan Aksi Hemat Energi
Padang Panjang Gelap Satu Jam, Dukung Earth Hour dan Aksi Hemat Energi
Pencarian 2 Pelajar SD Padang Hilang Terseret Ombak di Pantai, Radius Diperluas
Pencarian 2 Pelajar SD Padang Hilang Terseret Ombak di Pantai, Radius Diperluas
Ketika Kampus Hanya Tempat Mencari Gelar: Krisis Empati dan Kekerasan Struktural di Dunia Akademik
Ketika Kampus Hanya Tempat Mencari Gelar: Krisis Empati dan Kekerasan Struktural di Dunia Akademik
Dampak Perubahan Iklim, Agam Dorong Transformasi Ekonomi Berkelanjutan
Dampak Perubahan Iklim, Agam Dorong Transformasi Ekonomi Berkelanjutan
Kolaborasi GNI dan BPBD Padang: Simulasi Banjir dan Aksi Penghijauan untuk Ketahanan Iklim
Kolaborasi GNI dan BPBD Padang: Simulasi Banjir dan Aksi Penghijauan untuk Ketahanan Iklim
Lakukan Mitigasi Perubahan Iklim, Kelurahan di Padang Panjang Ini Terima Sertifikat Proklim
Lakukan Mitigasi Perubahan Iklim, Kelurahan di Padang Panjang Ini Terima Sertifikat Proklim