Meluruskan Kesalahan Fatal Jam Gadang

Meluruskan Kesalahan Fatal Jam Gadang

Khairul Jasmi (Foto: Istimewa)

Soal Djam Gedang atau Jam Gadang, setelah usianya 100 tahun, mulailah dengan yang pasti-pasti saja. Jika tak pasti, jangan disampaikan juga lagi, ditertawakan orang kita nanti. Termasuk pengelola web Bukittinggi Kota Wisata, seperti tak belajar sejarah saja.

Minimal tiga hal kerap salah diceritakan tentang Jam Gadang. Pertama, mesin jamnya yang konon hanya dua di dunia. Salah, Soal angka IIII yang dikira keliru. Juga salah. Dan, bangunannya yang katanya berdiri tanpa besi dan semen, sangat salah. Ketiganya bisa diuji. Berikut duduk perkaranya.

Satu: Mesin Jam, Bukan Cuma Dua di Dunia

Beredar cerita, mesin jam sejenis hanya ada dua di dunia. Pertama Jam Gadang di Bukittinggi, kedua Big Ben di London. Tahu nanti Raja Inggris, dijajahnya kita sekali lagi, siapa yang bertanggung jawab. Yang di Bukittinggi dibuat di Jerman, yang London dibuat di Inggris. Ciek NPM, ciek lai ANS. Beda tu mah, Pak Wali.

Tak percaya? Ini buktinya:

Pabrik pembuat mesin Jam Gadang bernama B. Vortmann, di kota Recklinghausen, Jerman. Berdiri pada 1851, tutup 1967. Seratus enam belas tahun aktif pabrik tersebut. Masak duo se nyo buek? Yang ketidak-tidak saja. Keliru kuadrat.

Pabrik ini bukan tukang jam biasa. Ia pabrik jam menara, pemasok gereja dan bangunan publik di Jerman, lalu meluas ke berbagai negeri Eropa. Selama lebih seabad, mustahil hanya membuat dua jam. Bahkan ia membuat lonceng: koran Haagsche courant di Den Haag edisi 20 Oktober 1928 memuat siaran radio Jerman yang memperdengarkan permainan carillon empat belas lonceng perunggu buatan pabrik B. Vortmann di Recklinghausen. Riwayat pabrik ini pun dibukukan di Jerman oleh Ilse Reimold dan Josef Schröer.

Jejaknya masih terekam dalam catatan gereja dan arsip warisan budaya di Jerman dan Belanda sampai hari ini. Saya ambilkan beberapa saja untuk bukti:

  1. Bad Iburg, jam gereja, 1892
  2. Lüchtringen, gereja, dipasang 12 September 1903
  3. Zeddam di Belanda, gereja Sint-Oswaldus, 19
  4. Datteln, gereja biara St. Dominikus, sekitar pergantian abad
  5. Mellrich, gereja St. Alexander, 1919
  6. Köln-Ehrenfeld, gereja St. Joseph, 1924
  7. Bukittinggi, Jam Gadang, 1926
  8. Aschaffenburg-Leider, gereja St. Laurentius, 1936; jam ini bertugas sampai 2012 dan beratnya sekitar 500 kilogram
  9. Halingen, gereja, 1947
  10. Bamenohl, gereja, 1947
  11. Paderborn, jam katedral, 1954

Sebelas contoh dari satu nama pabrik. Dan, itu baru yang tercatat. Jadi “hanya dua di dunia” itu omong kosong.

Lalu Big Ben? Big Ben bukan saudara Jam Gadang. Mesin dan loncengnya dibuat di Inggris oleh E. Dent & Co., dirancang Edmund Beckett Denison dan dipasang pada 1859. Jauh ke belakang, enam puluh tujuh tahun sebelum Jam Gadang berdiri. Buatan Inggris, bukan Jerman. Beda pabrik, beda negeri, beda zaman. Ciek Singgalang, ciek lai Marapi. Keduanya tidak ada urusan. Satu nenek, satu sepangkat cucu. Jam Gadang sebesar rumah kita; yang di Inggris rumah gadang sambilan ruang. Gadang bana.

Dua: Bukan Hadiah Ratu

Ini mitos yang paling lengket: katanya Jam Gadang hadiah Ratu Belanda untuk sekretaris kota Fort de Kock, Rookmaaker. Indah betul ceritanya. Sayang, tak ada buktinya. Buka koran sezaman. Sumatra-Bode terbitan Padang, 27 Juli 1927, memberitakan peresmian Jam Gadang dua hari sebelumnya, Senin 25 Juli 1927. Siapa yang bicara di hari penting itu? Controleur Fort de Kock, sang demang dan seorang warga Tionghoa. Itu saja. Tak ada nama Ratu. Tak ada utusan istana. Tak ada kata “hadiah”. Het Nieuws terbitan Batavia, 2 Agustus 1927, memberitakan hal yang sama persis. Menaranya, kata koran itu, 27,5 meter, tertinggi di seluruh Hindia Belanda dan akan diterangi listrik pada malam hari begitu Fort de Kock dialiri listrik.

Kalau benar jam itu pemberian Ratu Wilhelmina, mana mungkin koran melewatkannya? Hadiah dari seorang ratu itu berita besar. Tapi, koran-koran itu diam soal ratu. Sebab memang tak ada ratu di situ. Cerita ke cerita saja.

Lalu dari mana uangnya? Bukan dari istana. Laporan resmi pemerintah Hindia yang terbit pada 1928, Rapport van de Commissie van onderzoek, mencatat biaya Jam Gadang sekitar lima belas ribu gulden. Ini, di luar upah kuli dan kerja paksa narapidana. Dari jumlah itu sedikitnya enam ribu gulden diambil dari Pasarfonds, dana pasar kota. Laporan itu bahkan menyebutnya pemborosan uang pasar. Maka yang membangun Jam Gadang adalah dana pasar Fort de Kock sendiri, ditambah keringat kuli dan narapidana. Bukan kemurahan hati seorang ratu di seberang lautan.

Bukti lain ada di anggaran kota. Dalam rancangan anggaran Fort de Kock tahun 1929 yang dimuat Sumatra-Bode edisi 24 Desember 1928, nama Djam Gadang sudah jadi patokan ruas jalan yang diaspal kota: Belvedère ke Djam Gadang, Djam Gedang ke Tokra. Ensiklopedia Hindia Belanda pun mencatat menara ini dibangun di Raaffplein, tegak di depan pasar. Milik kota dan dirawat kota.

Soal hadiah untuk kita tak ada. Yang ada hadiah untuk ratu dari kita orang Hindia Belanda. Besar benar hati rakyat pribumi pada ratunya di Belanda sama. Lihat kejadian tahun 1937. Ketika Putri Juliana menikah, rakyat Hindia Belanda mengumpulkan dana, badoncek. Pemerintah malah dibatasi lima gulden saja perorang. Uang itu untuk sebuah gelang berlian. Album peringatan resmi mencatatnya berlembar-lembar, lengkap dengan nama firma pembuatnya dan asal berliannya. Pemberian sungguhan ke istana terdokumentasi rapi sampai sekecil-kecilnya. Jam Gadang tak pernah muncul dalam catatan semacam itu. Sebab, memang bukan hadiah Ratu. Ada jelas?

Tiga: Angka Empat Romawi IIII

Ini satu lagi, serantau kita salah. Angka IIII untuk empat, tidak keliru sama sekali. No! Ah, membela-bela saja. Begini:

Angka Romawi itu tua. Lahir di Roma kuno. Kota Roma tahukan? Yang tak satu jalan ke Roma itu. Di sanalah angka ini lahir, dipakai jauh sebelum angka yang kita pakai sekarang. Dan, di Roma asli, empat ditulis IIII. Sembilan ditulis VIIII. Bukan IV, bukan IX. Ini, baru jadi kebiasaan belakangan, sekitar zaman Renaissance. Jadi yang lebih tua justru IIII. Di jam matahari peninggalan Romawi pun, empatnya IIII. Jelas, IIII bukan salah ketik tukang Jerman itu.

Bukan pula saya mengarang. Saya beberapa kali ke Belanda. Saya saksikan sendiri, dengan mata kepala sendiri, di jam-jam menara mereka, angka empat ditulis IIII. Bukan IV. Itu adat tua jam Eropa, jauh sebelum jam kita lahir.

Lagi pula, soal jam menara, kita ini murid baru, masuk siang pula. Tengok Domtoren di Utrecht, menara gereja tertinggi di Belanda yang menjulang 112 meter lebih, dengan mesin jam buatan 1859 yang disebut Wijzerwerk mekanik terbesar di negeri itu. Jam Gadang kita? Hanya 27,5 meter. Dibandingkan, bak ayam dengan anaknya. Yang di Belanda induknya, Jam Gadang anaknya. Di dunia jam, IIII bertahan berabad-abad. Bukan tanpa alasan.

Satu, soal keseimbangan. Di muka jam, IIII yang tebal di kanan mengimbangi VIII yang tebal di kiri. Kalau dipakai IV, berat sebelah. Tak elok dipandang. Cobalah kalau tak percaya. Dua, soal keteraturan. Dengan IIII, angka terbagi rapi tiga kelompok: empat angka pertama cuma pakai I, empat berikutnya pakai V, empat terakhir pakai X. Tertib.

Tiga, ada cerita lama. IV adalah dua huruf pertama nama dewa tertinggi Romawi, IVPPITER, si Jupiter. Supaya tak mengusik dewa, orang menghindari menulis IV. Ini sebatas dugaan, tapi enak diceritakan.

Yang penting begini: IIII itu lazim, bukan ajaib. Hampir semua jam tua di dunia memakai IIII. Yang justru langka, jam yang memakai IV. Salah satunya Big Ben. Menara jam London itu memakai IV, bukan IIII. Maka soal angka pun Jam Gadang dan Big Ben tidak sama. Yang satu IIII, yang lain IV. Cerita kembaran itu runtuh sekali lagi. Jatuh berderai si bungo lado.

Dan tolong, jangan ada lagi cerita empat huruf I itu menandai empat pekerja yang tewas saat membangun menara. Itu karangan. Angka IIII sudah dipakai di jam-jam Eropa ratusan tahun sebelum batu pertama Jam Gadang dipasang. Itu cuma cara Eropa menulis empat di muka jam. Titik.

Empat: Besi dan Semen

Putih telur, kata web kota Bukittinggi. Sensa kita dibuatnya. Sudah bertunas muncung mengatakan “pakai semen,” dia bersikeras juga pakai putih telur. Berapa juta butir telurnya? Ke mana dijemput? Kuningnya untuk apa?Dan, Jam Gadang itu dibangun 1926. Pabrik semen sudah berdiri di Padang 1910. Jaraknya 16 tahun. Peradaban beton Indonesia justru dimulai dari Sumbar. Lantas Jam Gadang basikakeh sendirian dengan putih telur? Yang ketidak-tidak saja.

Berikut bukti ilmiah:

Setelah gempa 2007, Jam Gadang miring dan retak. Lalu diselidiki betul-betul. Badan Pelestarian Pusaka Indonesia bekerja sama dengan Kedutaan Belanda lewat program Shared Heritage, bersama Universitas Bung Hatta, Padang. Laboratorium Teknologi Beton universitas itu melaporkan hasilnya pada 2010. Temuannya dianalisis ulang dalam Jurnal Rekayasa Konstruksi Mekanika Sipil oleh Khadavi dan Yulcherlina pada 2018.

Apa kata mereka? Tegas: struktur Jam Gadang adalah beton bertulang. Kuat tekan betonnya rata-rata 25 MPa atau lebih, setara standar bangunan modern. Pondasinya pasangan batu masif berbentuk prisma, menghunjam sampai 1,8 meter ke dalam tanah.

Besinya nyata, terukur. Kolom menara 800 kali 800 milimeter di lantai dasar, mengecil jadi 400 kali 400 milimeter di puncak. Tulangannya 18 milimeter untuk longitudinal, 10 milimeter untuk geser. Balok dan pelatnya berstruktur komposit, memakai baja profil H.

Sekarang berhitung sederhana. Beton bertulang itu apa? Ada semen, ada besi. Tak ada beton tanpa semen. Tak ada beton bertulang tanpa besi. Maka cerita “tanpa semen” itu rontok di hadapan angka.Putih telur? Penelitian itu menyebut struktur Jam Gadang sama sekali tidak bergantung pada bahan organik semacam putih telur. Mungkin saja telur terpakai sedikit di plesteran, seperti lazim pada bangunan lama sebelum ada semen. Tapi, yang menyangga menara, yang membuatnya tegak hampir seabad melewati gempa demi gempa, bukan telur. Itu beton dan besi. Sains yang bilang, bukan saya. Malu kita sama orang PT Semen Padang.

Jadi demikianlah Jam Gadang yang dibangun mungkin secara swasekelola itu. Saya belum menemukan dokumen tendernya. Biasanya NV Nedam yang membangun banyak kantor, gereja, jembatan dan lainnya di Sumatra Waskust. Dan, selamat 100 tahun Klokketeron te Fort de Kock. (*)

Tulisan ini telah pernah terbit di Harian Singgalang

Baca Juga

Flyover Sitinjau Lauik Capai Progres 18,755 Persen, Bappenas Pastikan Pembangunan Berjalan Sesuai Rencana
Flyover Sitinjau Lauik Capai Progres 18,755 Persen, Bappenas Pastikan Pembangunan Berjalan Sesuai Rencana
Rencana Lanjutan Tol Sicincin–Bukittinggi, Pangkas Waktu Tempuh Hingga 55%
Rencana Lanjutan Tol Sicincin–Bukittinggi, Pangkas Waktu Tempuh Hingga 55%
Masjid Kapal Al-Fauzan Ketaping Diresmikan, Siap Jadi Destinasi Wisata Religi Baru di Sumbar
Masjid Kapal Al-Fauzan Ketaping Diresmikan, Siap Jadi Destinasi Wisata Religi Baru di Sumbar
Parade 1.700 Perempuan Berbusana Minang Meriahkan 100 Tahun Jam Gadang di Bukittinggi
Parade 1.700 Perempuan Berbusana Minang Meriahkan 100 Tahun Jam Gadang di Bukittinggi
Wali Kota Padang, Fadly Amran bersama pimpinan DPRD Kota Padang menandatangani persetujuan pengesahan Perda Penguatan Lembaga Adat dan Pelestarian Nilai Budaya Minangkabau dalam rapat paripurna.
Pemko Padang Sahkan Perda Adat Minangkabau, Diharapkan jadi Benteng Hadapi Tawuran hingga Penyalahgunaan Narkotika
Nil Maizar Kembali ke Semen Padang FC: Target Juara Liga 2 dan Bawa Kabau Sirah ke Super League
Nil Maizar Kembali ke Semen Padang FC: Target Juara Liga 2 dan Bawa Kabau Sirah ke Super League