Sumbardaily.com, Padang - Peristiwa duka menyelimuti Universitas Andalas (Unand) setelah seorang mahasiswi berusia 24 tahun ditemukan tidak bernyawa di kamar kosannya pada Rabu (12/3/2025) siang.
Febriza Yusra Andi, mahasiswi yang beralamat di Jalan Koto Panjang Nomor 27 RT 002 RW 007, Kelurahan Limau Manis, Kecamatan Pauh, Kota Padang, ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri oleh teman sekamarnya.
Berdasarkan keterangan saksi Anisa Jenly (19), mahasiswi yang tinggal sekamar dengan korban, penemuan tersebut bermula ketika dirinya selesai mandi dan mendapati Febriza sudah tidak bergerak.
"Sebelumnya korban mengeluh sedang demam. Setelah saya mandi, saya lihat dia sudah tidak bergerak sama sekali," ungkap Anisa kepada petugas Polsek Pauh.
Merasa panik, Anisa langsung menghubungi Aisah Ginanti (20), mahasiswi yang juga tinggal di kosan yang sama.
Keduanya kemudian memanggil Dealif Al Saddam (22), mahasiswa lain penghuni kosan tersebut.
Ketiga saksi tersebut berusaha membangunkan Febriza, namun yang bersangkutan tidak memberi respons.
"Kami bertiga mencoba menggerakkan tubuhnya, tapi dia tidak bereaksi. Tubuhnya sudah terasa dingin dan agak kaku," kata Dealif yang kemudian segera menghubungi pihak Rumah Sakit Universitas Andalas (RS Unand) untuk meminta bantuan medis.
Merespons laporan tersebut, dr Muhammad Gagaz Azandri Putra (27) dari RS Unand segera mendatangi lokasi kejadian.
Setelah melakukan pemeriksaan awal, korban langsung dibawa ke Rumah Sakit Unand untuk penanganan lebih lanjut.
Namun setibanya di rumah sakit dan setelah pemeriksaan lebih lanjut, korban dinyatakan telah meninggal dunia.
Kapolsek Pauh AKP Nasirwan, yang mendapat laporan kejadian tersebut segera memerintahkan Pawas Iptu Rismulyadi bersama personel piket untuk melakukan penyelidikan.
Tim kepolisian tiba di lokasi kejadian sekitar pukul 13.00 WIB, namun korban sudah dibawa ke rumah sakit.
Tim kemudian menyusul ke RS Unand untuk melakukan pemeriksaan dan mengambil keterangan dari para saksi.
"Kami langsung berkoordinasi dengan pihak keluarga korban di Asahan melalui sepupu korban yang bernama Ridholla Perdana," kata Nasirwan.
Ridholla yang beralamat di Kompleks Jundul Rawang Blok S 22, Kelurahan Rawang, Kecamatan Padang Selatan, membantu pihak kepolisian menghubungi keluarga inti korban.
Setelah berkomunikasi dengan keluarga korban, orang tua Febriza membuat surat pernyataan yang menyatakan tidak akan dilakukan visum luar dan dalam terhadap jenazah anaknya.
"Surat pernyataan dikirimkan dalam bentuk PDF dan ditandatangani melalui video call yang disaksikan oleh sepupu korban, pihak rumah sakit, dan pihak keluarga," kata Nasirwan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi mengenai penyebab meninggalnya mahasiswi tersebut.
Namun, berdasarkan keterangan teman kosannya, Febriza sebelumnya mengeluhkan demam.
Pihak Unand juga belum memberikan pernyataan resmi terkait meninggalnya salah satu mahasiswi mereka.
Sementara itu, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan penyebab kematian korban meskipun tidak dilakukan visum.
Kasus meninggalnya mahasiswi ini, kata Nasirwan, mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap kondisi kesehatan teman sekitar, terutama di lingkungan kosan mahasiswa yang umumnya jauh dari keluarga.
"Peristiwa duka ini juga menjadi pengingat bagi semua pihak untuk lebih memperhatikan kesehatan dan keselamatan mahasiswa, khususnya yang tinggal di pemondokan," katanya.
Jenazah Febriza rencananya akan dibawa pulang ke kampung halamannya di Asahan, Sumatera Utara (Sumut) untuk dimakamkan.
"Pihak keluarga yang diwakili oleh sepupunya, Ridholla Perdana, mengurus proses administrasi dan pemulangan jenazah," tutur Nasirwan. (red)
















