Sumbardaily.com, Padang – Upaya Pemerintah Kota (Pemko) Padang dalam menghidupkan kembali kawasan Kota Tua Padang sebagai destinasi wisata bersejarah terus menunjukkan perkembangan positif. Program revitalisasi kawasan bersejarah ini kini memasuki tahap penting dengan disusunnya pedoman penataan (guidelines) yang akan menjadi acuan utama dalam pengelolaan dan pelestarian kawasan tersebut.
Langkah konkret itu diwujudkan melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) laporan pendahuluan penyusunan pedoman penataan kawasan Kota Tua Padang yang digelar di Padang, Kamis (16/10/2025). FGD ini menghadirkan berbagai pihak, mulai dari unsur pemerintah daerah, akademisi, komunitas, pelaku usaha, hingga para pemilik bangunan cagar budaya yang berada di kawasan heritage.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang, Yudi Indra Syani, menjelaskan bahwa pedoman ini akan menjadi panduan strategis dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian sejarah dan pengembangan ekonomi melalui sektor pariwisata.
“Guideline Kota Tua Padang ini menjadi rujukan utama dalam pengelolaan dan pelestarian cagar budaya, termasuk revitalisasi kawasan dan penataan ruang yang sejalan dengan prinsip pelestarian yang tepat,” ujar Yudi.
Menurutnya, penyusunan pedoman dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai unsur agar hasilnya tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga aplikatif di lapangan.
“FGD ini penting supaya seluruh pihak punya acuan yang sama. Kita ingin Kota Tua Padang menjadi destinasi wisata bersejarah yang hidup, memiliki nilai ekonomi, namun tetap menjaga karakter budaya aslinya,” lanjut Yudi.
Potensi Besar Jadi Ikon Wisata Sumbar
Kawasan Kota Tua Padang dinilai memiliki nilai historis dan arsitektur yang khas, menjadikannya salah satu aset penting dalam pengembangan pariwisata Sumatera Barat (Sumbar). Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sumbar, Lila Yanwar, menilai revitalisasi kawasan ini akan memberikan dampak signifikan, tidak hanya terhadap citra pariwisata daerah tetapi juga terhadap perekonomian masyarakat sekitar.
“Kawasan ini punya potensi luar biasa, baik dari sisi sejarah maupun ekonomi. Jika dikelola dengan baik, Kota Tua Padang bisa menjadi ikon baru wisata unggulan di Sumatera Barat,” ungkap Lila.
Ia menambahkan, Pemko Padang sudah menunjukkan keseriusan melalui penyelenggaraan berbagai agenda budaya yang terpusat di kawasan heritage tersebut, seperti Festival Siti Nurbaya dan Festival Kota Tua Padang.
“Kita menargetkan tahun 2026 kawasan ini sudah siap beroperasi sebagai destinasi wisata unggulan. Tahap awalnya dimulai dengan penataan fisik sederhana seperti pengecatan bangunan, pengaturan warna khas, pemasangan lampu jalan, serta penambahan bangku bergaya kolonial,” ujarnya optimistis.
Penataan Bertahap dan Kepatuhan terhadap Aturan Pelestarian
Yudi Indra menambahkan, sebelum pedoman selesai disusun, penataan awal sudah dilakukan secara bertahap di beberapa titik kawasan Kota Tua. Tahapan awal itu meliputi pengecatan bangunan lama, pengaturan jalur transportasi, dan penyediaan ruang publik yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan budaya maupun aktivitas wisatawan.
“Kita mulai dari langkah sederhana agar masyarakat bisa langsung merasakan perubahan suasana kawasan. Ini juga penting untuk menarik kembali minat wisatawan,” jelas Yudi.
Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya kepatuhan terhadap aturan pelestarian bagi semua pihak, termasuk pemilik bangunan pribadi yang berada di kawasan heritage.
“Meski bangunan itu milik pribadi, karena berada di kawasan bersejarah, maka tetap harus mengikuti pedoman pelestarian bersama. Tujuannya agar nilai budaya dan sejarah kawasan tidak hilang,” tegasnya.
Langkah Menuju Wisata Berkelanjutan
FGD ini merupakan bagian dari rangkaian panjang pengembangan Kota Tua Padang yang sebelumnya telah memiliki masterplan sejak 2023. Dengan hadirnya pedoman baru, pengelolaan kawasan heritage ini diharapkan berjalan lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan.
Pemerintah berharap, melalui kolaborasi lintas sektor, kawasan ini dapat menjadi model pengembangan wisata berbasis sejarah dan budaya yang mengedepankan prinsip quality tourism. Selain menjaga nilai-nilai sejarah, revitalisasi juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar melalui pertumbuhan sektor ekonomi kreatif dan jasa pariwisata.
“Visi kita adalah menjadikan Kota Tua Padang sebagai destinasi wisata berkelas yang bukan hanya indah dipandang, tapi juga bermanfaat secara ekonomi dan budaya bagi masyarakat,” pungkas Yudi Indra Syani.
Dengan sinergi antara Pemko Padang, Pemprov Sumbar dan seluruh pemangku kepentingan, cita-cita menjadikan Kota Tua Padang sebagai destinasi wisata unggulan 2026 semakin mendekati kenyataan. Kawasan bersejarah yang dulu menjadi pusat aktivitas kolonial itu kini bersiap kembali menjadi wajah baru pariwisata berkelas di Sumbar. (red)
















