Sumbardaily.com - Sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) Sumatera Barat menunjukkan kinerja positif sepanjang 2026. Pertumbuhan terutama terlihat dari pembiayaan perusahaan keuangan, fintech lending, hingga lembaga keuangan mikro yang mencatat kenaikan pada periode pengukuran masing-masing.
Perkembangan sektor IKNB Sumatera Barat tersebut menjadi bagian dari kondisi sektor jasa keuangan daerah yang masih terjaga. Stabilitas sektor jasa keuangan juga berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat yang terus menunjukkan pemulihan.
Berdasarkan siaran resmi yang dikutip pada Minggu (9/8/2026), kondisi sektor jasa keuangan Sumatera Barat tetap positif dan memberikan dukungan terhadap penguatan aktivitas ekonomi daerah.
"Stabilitas dan kinerja positif sektor jasa keuangan di Sumatera Barat terus terjaga, memberikan dukungan terhadap penguatan aktivitas ekonomi daerah," demikian keterangan dalam siaran resmi tersebut.
Kinerja tersebut sejalan dengan pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumatera Barat pada triwulan II-2026 yang tumbuh 4,54 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Pertumbuhan itu menunjukkan keberlanjutan pemulihan ekonomi daerah.
Salah satu perkembangan yang mencolok berada pada industri perusahaan pembiayaan. Pada posisi Mei 2026, total pembiayaan yang disalurkan perusahaan pembiayaan di Sumatera Barat mencapai Rp6,03 triliun.
Nilai tersebut tumbuh 8,92 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Di sisi risiko, rasio Non Performing Financing (NPF) tercatat sebesar 2,65 persen atau mengalami penurunan dibandingkan posisi yang sama pada tahun sebelumnya.
Pertumbuhan juga terlihat pada industri fintech lending. Pada posisi April 2026, outstanding pinjaman daring mencapai Rp1,49 triliun.
Nilai outstanding tersebut tumbuh 8,72 persen secara tahunan atau yoy. Pertumbuhan itu meningkat dibandingkan posisi yang sama pada tahun sebelumnya. Sementara itu, risiko kredit fintech lending masih berada pada level 2,53 persen.
Perkembangan positif lainnya tercatat pada lembaga keuangan mikro. Pada posisi Juni 2026, total aset lembaga keuangan mikro mencapai Rp7,06 miliar atau tumbuh 8,71 persen secara yoy.
Penyaluran pembiayaan lembaga keuangan mikro juga mencapai Rp2,80 miliar atau tumbuh 11,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jumlah debitur eksisting tercatat sebanyak 919 debitur, meningkat 23,03 persen secara yoy.
Sementara itu, perusahaan dana pensiun pada posisi Juni 2026 mencatat total aset Rp2,80 triliun. Nilai tersebut tumbuh 5,94 persen secara yoy.
Jumlah peserta dana pensiun tercatat sebanyak 4.710 peserta. Namun, jumlah tersebut mengalami kontraksi 1,51 persen secara tahunan.
Pada subsektor perusahaan modal ventura, kondisi pada Juni 2026 masih relatif terjaga. Penyertaan modal tercatat sebesar Rp55,98 miliar.
Meski demikian, penyertaan modal tersebut mengalami kontraksi 7,10 persen secara yoy. Angka itu disebut meningkat dibandingkan posisi pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Perusahaan penjaminan yang berkantor pusat di Sumatera Barat juga mencatat perkembangan positif. Pada posisi Juni 2026, total aset perusahaan penjaminan mencapai Rp472,65 miliar.
Total aset tersebut tumbuh 1,44 persen secara yoy atau mengalami kenaikan dibandingkan posisi yang sama pada tahun sebelumnya.
Perkembangan IKNB tersebut melengkapi kinerja sektor jasa keuangan Sumatera Barat secara keseluruhan yang juga ditopang sektor perbankan dan pasar modal.
Pada sektor perbankan, total aset perbankan pada posisi Juni 2026 mencapai Rp88,20 triliun. Nilai tersebut tumbuh 4,72 persen dibandingkan posisi yang sama pada tahun sebelumnya.
Total penyaluran kredit atau pembiayaan mencapai Rp77,70 triliun atau tumbuh 5,92 persen secara yoy. Sementara total penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp65,55 triliun dengan pertumbuhan 13,02 persen secara tahunan.
Dari sisi risiko, rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) masih terjaga pada level 2,87 persen. Namun, angka tersebut sedikit meningkat dibandingkan posisi yang sama pada tahun sebelumnya sebesar 2,65 persen.
Penyaluran kredit kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mencapai Rp31,17 triliun. Angka itu terkontraksi 1,44 persen secara yoy dan menyumbang 40,11 persen dari total kredit.
Perbankan syariah juga mencatat pertumbuhan pada periode yang sama. Total aset perbankan syariah pada Juni 2026 mencapai Rp15,14 triliun atau tumbuh 10,91 persen secara yoy.
Penghimpunan DPK perbankan syariah mencapai Rp11,62 triliun dengan pertumbuhan 6,70 persen. Sementara total penyaluran pembiayaan mencapai Rp13,27 triliun atau tumbuh 16,22 persen secara tahunan.
Risiko pembiayaan syariah masih terjaga dengan rasio Non Performing Financing (NPF) sebesar 1,94 persen. Angka tersebut sedikit meningkat dibandingkan posisi yang sama pada tahun sebelumnya sebesar 1,58 persen.
Kinerja positif juga tercatat pada Bank Perekonomian Rakyat (BPR), baik konvensional maupun syariah. Pada posisi Juni 2026, total aset BPR mencapai Rp3,04 triliun atau tumbuh 6,34 persen secara yoy.
Penghimpunan DPK BPR mencapai Rp2,21 triliun atau tumbuh 7,05 persen. Adapun total penyaluran kredit atau pembiayaan mencapai Rp2,27 triliun dengan pertumbuhan 1,62 persen secara tahunan.
Dari total penyaluran tersebut, sebanyak 71,15 persen merupakan kredit atau pembiayaan bagi UMKM.
Selain perbankan dan IKNB, pasar modal Sumatera Barat juga memperlihatkan peningkatan jumlah investor. Data Juni 2026 menunjukkan jumlah Single Investor Identification (SID) mencapai 501.131 investor.
Jumlah SID tersebut tumbuh 139,16 persen secara yoy. Dari jumlah tersebut, SID saham tercatat sebanyak 143.819 investor atau tumbuh 38,56 persen.
Kemudian, jumlah SID Reksa Dana tercatat sebanyak 483,75 investor atau tumbuh 144,63 persen secara yoy. Jumlah SID Surat Berharga Negara (SBN) mencapai 11.261 investor atau tumbuh 26,09 persen.
Sementara itu, jumlah SID Efek Beragunan Aset (EBA) tercatat sebanyak 3 investor.
Rangkaian perkembangan tersebut menunjukkan sektor jasa keuangan Sumatera Barat masih mencatat pertumbuhan pada berbagai subsektor. Khusus sektor IKNB, pertumbuhan pembiayaan perusahaan pembiayaan, fintech lending, serta lembaga keuangan mikro menjadi salah satu bagian dari penguatan aktivitas pembiayaan di daerah.
Dengan pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat pada triwulan II-2026 sebesar 4,54 persen, perkembangan sektor jasa keuangan tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap keberlanjutan pemulihan ekonomi daerah. (*)
















