IDAI Sampaikan Surat Terbuka untuk Badan Gizi Nasional, Soroti Kasus Keracunan Anak dalam Program MBG

IDAI Sampaikan Surat Terbuka untuk Badan Gizi Nasional, Soroti Kasus Keracunan Anak dalam Program MBG

Siswa SDN 24 Ujung Gurun nikmati makan bergizi gratis. (Foto: Kominfo Padang)

Sumbardaily.com, Jakarta - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyampaikan keprihatinan mendalam terkait maraknya kasus keracunan makanan yang menimpa anak-anak sekolah dalam kegiatan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah.

Program yang sejatinya bertujuan meningkatkan status gizi dan kesehatan anak Indonesia ini justru menimbulkan risiko serius akibat berulangnya kasus keracunan.

Dalam surat terbuka yang ditujukan kepada Badan Gizi Nasional (BGN), IDAI menekankan bahwa keselamatan anak dan kelompok rentan seperti balita serta ibu hamil harus menjadi prioritas utama.

“Anak, balita, dan ibu hamil merupakan kelompok rentan yang harus dilindungi dari risiko keracunan makanan,” demikian isi poin pertama dalam surat terbuka tersebut, Minggu (28/9/2025).

IDAI menegaskan pentingnya penerapan standar keamanan pangan pada setiap tahapan penyediaan, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan. Menurut IDAI, pengawasan ketat perlu dilakukan agar tidak terjadi kontaminasi yang dapat membahayakan kesehatan.

Selain itu, kualitas gizi dan keseimbangan menu program MBG disebut harus disusun oleh ahli gizi anak, dengan mempertimbangkan kebutuhan nutrisi yang sesuai demi mendukung tumbuh kembang optimal.

IDAI juga mendorong agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) beserta seluruh kelengkapannya memiliki sertifikasi resmi, serta terus diawasi dan dievaluasi oleh BGN.

Tak hanya itu, IDAI meminta agar pemerintah menyiapkan prosedur mitigasi dan layanan aduan yang responsif jika terjadi kasus keracunan.

“Mitigasi harus melibatkan pemerintah, sekolah, dokter spesialis anak, tenaga kesehatan, hingga masyarakat. Layanan aduan juga penting sebagai kanal untuk mengatasi masalah di lapangan,” tegas IDAI.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso menekankan bahwa kasus keracunan sekecil apa pun tidak boleh dianggap sepele.

“Satu anak keracunan saja sudah menjadi masalah, apalagi ini terjadi pada ribuan anak di Indonesia. Diperlukan evaluasi menyeluruh atas program ini, terutama di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar),” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Umum Pengurus Pusat IDAI, Hikari Ambara Sjakti, menyatakan kesiapan IDAI untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak.

“Kami siap bekerjasama dengan pemerintah, sekolah, dan masyarakat agar program MBG benar-benar memberi manfaat nyata bagi kesehatan dan masa depan anak Indonesia,” ungkapnya.

Dengan surat terbuka ini, IDAI berharap Badan Gizi Nasional dapat memperkuat sistem pengawasan dan standar pelaksanaan program MBG, sehingga kasus serupa tidak lagi berulang.

IDAI menilai bahwa keberhasilan program gizi nasional hanya akan tercapai bila keselamatan anak-anak Indonesia terjamin. (adl)

Baca Juga

Survei SMRC: 61,4% Warga Tak Puas Program MBG, 71% Ragu Kopdes Merah Putih Maju
Survei SMRC: 61,4% Warga Tak Puas Program MBG, 71% Ragu Kopdes Merah Putih Maju
SMRC: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Anjlok Jadi 44,5 Persen pada Oktober 2026
SMRC: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Anjlok Jadi 44,5 Persen pada Oktober 2026
Limbah Dapur MBG Bikin Ikan Mati, Wako Padang Panjang Minta Pengawasan SPPG Diperketat
Limbah Dapur MBG Bikin Ikan Mati, Wako Padang Panjang Minta Pengawasan SPPG Diperketat
Influenza A H3N2 Naik di Indonesia, IDAI Ungkap Risiko Penularan pada Anak
Influenza A H3N2 Naik di Indonesia, IDAI Ungkap Risiko Penularan pada Anak
MBG di Padang Pariaman Disorot, Bupati Pertanyakan Jeda Masak hingga Makanan Diterima Siswa
MBG di Padang Pariaman Disorot, Bupati Pertanyakan Jeda Masak hingga Makanan Diterima Siswa
Sidak Dapur MBG Pasaman Barat, Sejumlah SPPG Masih Belum Penuhi SOP
Sidak Dapur MBG Pasaman Barat, Sejumlah SPPG Masih Belum Penuhi SOP