Sumbardaily.com – Swiss menciptakan salah satu kisah paling menarik di Piala Dunia 2026 setelah memastikan tiket ke babak perempat final untuk pertama kalinya sejak 1954. Keberhasilan tersebut diraih melalui perjuangan panjang yang menguras tenaga usai menyingkirkan Kolombia lewat adu penalti, sekaligus membuka jalan menuju laga besar menghadapi juara bertahan Argentina yang diperkuat Lionel Messi.
Kesuksesan Swiss tidak datang dengan mudah. Duel melawan Kolombia berlangsung sengit hingga babak tambahan waktu berakhir tanpa gol. Kedua tim gagal memecah kebuntuan selama 120 menit sehingga pemenang harus ditentukan melalui adu penalti.
Dalam momen penuh tekanan itu, Swiss mampu menjaga ketenangan. Mereka akhirnya keluar sebagai pemenang dengan skor 4-3 dalam adu penalti dan mengamankan satu tempat di delapan besar Piala Dunia FIFA 2026.
Keberhasilan tersebut juga menjadi pencapaian bersejarah bagi kapten Swiss, Granit Xhaka. Pada usia 33 tahun, gelandang bertahan itu akhirnya berhasil membawa negaranya menembus perempat final setelah dalam tiga edisi sebelumnya selalu terhenti di babak 16 besar.
Xhaka mengenang perjalanan panjangnya bersama tim nasional Swiss sejak menjalani turnamen besar pertamanya pada Piala Dunia 2014. Menurutnya, Swiss telah beberapa kali tampil kompetitif dalam berbagai turnamen internasional, namun keberuntungan belum berpihak sehingga mereka berulang kali gagal melangkah lebih jauh, termasuk karena kekalahan lewat adu penalti.
Baginya, mengenakan ban kapten dan mewakili Swiss merupakan kehormatan yang sangat besar. Pencapaian menembus perempat final membuat kebanggaan tersebut terasa semakin istimewa karena tim akhirnya mampu melewati batas yang selama ini sulit ditembus.
Tantangan berikutnya jauh lebih berat. Swiss akan berhadapan dengan Argentina, sang juara bertahan yang masih diperkuat Lionel Messi. Meski menyadari kualitas lawan, Xhaka menegaskan timnya tidak datang dengan rasa takut.
Ia menyebut Argentina sebagai salah satu tim terbaik dalam sejarah sepak bola, atau setidaknya yang terbaik pada era sekarang. Namun, menurutnya, pertandingan tersebut harus dinikmati sekaligus menjadi kesempatan bagi Swiss untuk menunjukkan kepada dunia bahwa negara dengan ukuran kecil juga mampu memberikan perlawanan sengit kepada raksasa sepak bola dunia.
Xhaka menilai Swiss harus tetap fokus memainkan sepak bola terbaik mereka, tanpa mempersoalkan apakah pertandingan berakhir dalam 90 menit, 120 menit, atau kembali ditentukan melalui adu penalti. Ia optimistis seluruh skuad akan siap menghadapi tekanan besar di laga tersebut.
Di sisi lain, perjalanan Argentina menuju babak perempat final juga tidak sepenuhnya mulus. Walaupun tampil meyakinkan pada fase grup, mereka harus bekerja keras ketika memasuki fase gugur.
Tanjung Verde mampu memaksa Argentina bermain dalam pertandingan yang ketat, sedangkan Mesir berhasil mengganggu aliran umpan La Albiceleste untuk waktu yang cukup lama. Kendati demikian, Lionel Messi dan rekan-rekannya tetap mampu mengamankan tiket menuju delapan besar.
Melihat perjalanan tersebut, Swiss diperkirakan akan menggunakan pendekatan yang tidak jauh berbeda. Tim asuhan Murat Yakin diyakini kembali mengandalkan organisasi pertahanan yang disiplin untuk membatasi ruang gerak Argentina sekaligus mengganggu ritme permainan mereka.
Murat Yakin menegaskan bahwa kekuatan terbesar Swiss terletak pada kolektivitas tim. Menurut pelatih berusia 49 tahun itu, timnya memiliki organisasi pertahanan yang sangat solid dan telah membuktikannya melalui dua pertandingan terakhir dengan catatan clean sheet.
Selain bertahan dengan baik, Swiss juga percaya diri mampu memberikan ancaman melalui skema transisi cepat. Pendekatan tersebut menjadi salah satu senjata utama yang akan kembali dimaksimalkan ketika menghadapi Argentina.
Sepanjang turnamen, pertahanan disiplin Swiss ditambah penampilan impresif penjaga gawang Gregor Kobel menjadi fondasi keberhasilan tim. Hingga mencapai perempat final, Swiss baru kebobolan satu gol, sebuah catatan yang memperlihatkan kokohnya lini belakang mereka.
Saat menghadapi Argentina nanti, Swiss diperkirakan tetap mempertahankan identitas permainan tersebut. Mereka akan berusaha menutup ruang, memanfaatkan serangan balik, sekaligus mengeksploitasi area yang dinilai menjadi titik lemah lawan.
Yakin menjelaskan timnya ingin menciptakan berbagai kesulitan bagi Argentina dengan menyerang sektor yang dianggap rentan, namun tetap bermain sesuai kekuatan yang dimiliki. Menurutnya, hanya ada satu cara untuk mengalahkan Argentina dan Lionel Messi, yakni bermain sebagai sebuah tim yang benar-benar kompak.
Keyakinan serupa juga terlihat dari sosok Granit Xhaka. Sang kapten telah lama meyakini Swiss memiliki kemampuan untuk meraih pencapaian besar di panggung internasional.
Murat Yakin mengungkapkan bahwa selama bertahun-tahun Xhaka selalu berbicara mengenai mimpi membawa Swiss mencapai partai final. Pada awalnya hanya Xhaka yang memiliki keyakinan tersebut, tetapi kini semakin banyak pemain yang mempunyai kualitas dan visi yang sama sehingga ambisi itu menjadi milik seluruh tim.
Menurut Yakin, karisma Xhaka menjadi salah satu faktor penting yang menjaga kekompakan skuad. Kehadirannya tidak hanya berpengaruh ketika pertandingan berlangsung, tetapi juga di ruang ganti dan dalam kehidupan sehari-hari bersama tim.
Peran Xhaka bahkan kerap menyerupai pelatih kedua di lapangan. Ia aktif mengatur tempo permainan, mengarahkan rekan-rekannya, sekaligus memberikan motivasi ketika tim berada dalam tekanan.
Xhaka mengaku telah terbiasa memikul tanggung jawab besar sejak usia muda. Kini pengalaman tersebut ia manfaatkan untuk membantu seluruh anggota tim nasional Swiss. Ia mengakui tekanan sebagai kapten tidak pernah ringan, namun menganggap kesempatan memimpin dan mewakili negaranya sebagai sebuah kehormatan yang sangat berharga.
Kini, dengan sejarah baru yang telah tercipta, Swiss bersiap menghadapi tantangan terbesar mereka di Piala Dunia 2026. Berbekal pertahanan kokoh, semangat kolektif, serta kepemimpinan Granit Xhaka, Nati bertekad memberikan perlawanan maksimal kepada Argentina dan Lionel Messi demi menjaga asa melangkah lebih jauh di turnamen paling bergengsi dunia. (*)















