Flyover Sitinjau Lauik Gunakan Cable-Stayed 300 Meter, Ini Progres dan Target Rampungnya

Sumbardaily.com – Pembangunan Flyover Sitinjau Lauik di Sumatera Barat (Sumbar) menghadirkan tantangan teknis melalui desain konstruksi yang tidak sederhana. Salah satu bagian jembatan dalam proyek tersebut menggunakan konstruksi cable-stayed dengan bentang sekitar 300 meter.

Selain konstruksi cable-stayed, proyek ini juga mencakup jembatan dengan desain melengkung yang memiliki bentang hingga sekitar 180 meter. Karakteristik tersebut menjadi bagian dari rancangan pembangunan infrastruktur strategis yang ditujukan untuk meningkatkan keselamatan dan konektivitas di kawasan Sitinjau Lauik.

Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah meninjau langsung perkembangan pembangunan Flyover Sitinjau Lauik pada Kamis (17/9/2026). Dalam kunjungan tersebut, Mahyeldi memperoleh penjelasan teknis mengenai karakter desain jembatan sekaligus melihat perkembangan pekerjaan di lapangan.

Peninjauan dilakukan bersama sejumlah pihak terkait, termasuk Hutama Karya dan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN). Mahyeldi juga mendengarkan penjelasan mengenai tahapan pembangunan yang sedang dilaksanakan oleh pihak terkait.

Menurut Mahyeldi, desain dan konstruksi Flyover Sitinjau Lauik menunjukkan bahwa proyek tersebut bukan pekerjaan infrastruktur biasa. Namun, ia menilai perkembangan pembangunan saat ini cukup menggembirakan setelah persoalan pengadaan tanah diselesaikan.

“Alhamdulillah dengan dukungan semua pihak, untuk masalah tanah sudah selesai. Berarti sekarang Hutama Panorama Sitinjau Lauik selaku pelaksana sudah bergerak untuk pembangunan fisik. Dan sekarang ini progresnya cukup menggembirakan,” kata Mahyeldi, dikutip Jumat (18/9/2026).

Jembatan Cable-Stayed Bentang 300 Meter

Mahyeldi menjelaskan, pembangunan Flyover Sitinjau Lauik memiliki tingkat kompleksitas tersendiri, baik dari sisi rancangan maupun pelaksanaan konstruksi. Hal itu terlihat dari perbedaan karakter desain pada Jembatan 3 dan Jembatan 4.

Berdasarkan penjelasan tim teknis yang diterimanya saat peninjauan, salah satu bagian jembatan menggunakan konstruksi melengkung dengan bentang hingga sekitar 180 meter. Sementara itu, bagian lainnya dirancang menggunakan konstruksi cable-stayed dengan bentang sekitar 300 meter.

Konstruksi cable-stayed merupakan jenis struktur jembatan yang menggunakan kabel sebagai elemen penyangga bagian bentang jembatan. Dalam proyek Flyover Sitinjau Lauik, desain tersebut menjadi salah satu bagian dari konstruksi yang tengah dikembangkan.

Perbedaan rancangan antara Jembatan 3 dan Jembatan 4 memperlihatkan tantangan teknis yang harus ditangani dalam pembangunan proyek tersebut. Mahyeldi pun mengapresiasi kemampuan pelaksana dan tim ahli yang terlibat dalam pekerjaan.

“Ini suatu hal yang tidak sederhana. Alhamdulillah dari pelaksana dan juga tim yang ahli-ahli, mereka ini luar biasa. Ini suatu kebanggaan juga bagi kita,” ujar Mahyeldi.

Ia menilai, pembangunan infrastruktur dengan karakter desain seperti Flyover Sitinjau Lauik membutuhkan dukungan serta kerja sama berbagai pihak. Karena itu, Mahyeldi menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam mendukung pelaksanaan proyek.

Pihak-pihak tersebut meliputi Hutama Panorama Sitinjau Lauik (HPSL), Kementerian Pekerjaan Umum, Agrinas, DPR RI, pemerintah kabupaten dan kota, jajaran teknis, serta masyarakat.

Pengadaan Tanah Flyover Sitinjau Lauik Tuntas

Selain menyoroti kompleksitas desain, Mahyeldi menyampaikan perkembangan penting terkait proses pembangunan Flyover Sitinjau Lauik. Persoalan pengadaan tanah yang sebelumnya menjadi salah satu kendala kini telah diselesaikan.

Dengan tuntasnya proses tersebut, HPSL selaku pelaksana pembangunan telah bergerak ke tahapan pekerjaan fisik. Mahyeldi berharap penyelesaian persoalan lahan dapat mendukung kelancaran pelaksanaan proyek hingga tahap berikutnya.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur strategis tidak dapat dipisahkan dari sinergi dan komunikasi antara berbagai pihak. Koordinasi yang kuat diperlukan agar setiap tahapan pekerjaan dapat berjalan sesuai dengan rencana.

Mahyeldi juga berharap pengalaman dalam pembangunan Flyover Sitinjau Lauik dapat menjadi pembelajaran bagi pelaksanaan pembangunan infrastruktur lainnya di Sumbar.

Ia menekankan bahwa keberhasilan suatu proyek tidak semestinya dikaitkan dengan satu pihak saja. Menurutnya, pembangunan merupakan hasil kerja bersama yang melibatkan banyak unsur.

“Semangat kebersamaan ini harus dikembangkan. Jangan ada yang mengatakan bahwasanya ini adalah hasil saya, karena semuanya adalah hasil kerja bersama dan sinergi banyak pihak,” tegas Mahyeldi.

Mahyeldi Minta Masyarakat Dilibatkan

Dalam kesempatan tersebut, Mahyeldi turut menyoroti pentingnya komunikasi dengan masyarakat, terutama dalam pembangunan yang berkaitan dengan kebutuhan lahan.

Ia menilai, masyarakat perlu mendapatkan ruang untuk menyampaikan pendapat dan pandangan sejak awal proses pembangunan. Keterlibatan tersebut diharapkan dapat membantu membangun pemahaman bersama mengenai tujuan dan manfaat infrastruktur yang akan dibangun.

Mahyeldi berpandangan, persoalan lahan di Sumatera Barat pada dasarnya dapat dikelola melalui komunikasi yang baik. Pemerintah dan pihak pelaksana perlu membangun hubungan yang terbuka dengan masyarakat agar proses pembangunan dapat berlangsung lebih lancar.

Menurutnya, masyarakat yang merasa dihargai dan dilibatkan secara maksimal akan lebih mudah memahami proses pembangunan yang dilaksanakan untuk kepentingan bersama.

“Di Sumatera Barat ini sebenarnya masalah lahan tidak sulit, yang penting komunikasi dengan masyarakat harus lancar, minta pendapat dan pandangan mereka. Ketika masyarakat merasa dihargai dan dilibatkan secara maksimal, maka percepatan bisa diwujudkan,” katanya.

Mahyeldi kemudian berharap seluruh pihak dapat menjaga semangat kolaborasi dan koordinasi selama pembangunan Flyover Sitinjau Lauik berlangsung. Ia ingin proyek tersebut berjalan sesuai tahapan yang telah disepakati serta memberikan manfaat bagi masyarakat Sumbar.

Manfaat yang diharapkan mencakup peningkatan keselamatan, konektivitas antarwilayah, kelancaran mobilitas masyarakat, serta distribusi logistik.

Dibangun dengan Skema KPBU

Sementara itu, PPK Sitinjau Lauik, Risma, yang mewakili pihak Balai, menjelaskan bahwa pembangunan Flyover Sitinjau Lauik dilaksanakan melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).

Dalam skema tersebut, badan usaha memiliki peran dalam pembiayaan pembangunan infrastruktur. Selain itu, badan usaha juga terlibat dalam operasional dan pemeliharaan infrastruktur selama masa layanan.

Risma menjelaskan, pembangunan flyover tersebut diarahkan untuk meningkatkan keselamatan dan mendukung kelancaran lalu lintas di kawasan Sitinjau Lauik. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah Tikungan Panorama 1.

Kawasan tersebut memiliki radius tikungan yang kecil dan kemiringan yang cukup tinggi. Kondisi itu selama ini menjadi tantangan bagi kendaraan yang melintas, terutama kendaraan angkutan logistik.

Karena itu, pembangunan Flyover Sitinjau Lauik diharapkan dapat membantu meningkatkan aspek keselamatan sekaligus mendukung kelancaran lalu lintas di kawasan tersebut.

Menurut Risma, proses pengadaan tanah yang sebelumnya sempat mengalami kendala kini telah diselesaikan. Penyelesaian tahapan tersebut memberikan ruang bagi pelaksanaan pekerjaan konstruksi untuk berjalan lebih optimal.

“Dengan tuntasnya pembebasan lahan ini, kami optimis pembangunan akan berjalan lebih optimal. Target kita ini tuntas Mei 2028,” ujarnya.

Target Konstruksi Selesai Mei 2028

Risma menyampaikan, penyelesaian proses pengadaan tanah juga diikuti dengan penyesuaian terhadap jadwal kerja sama pembangunan Flyover Sitinjau Lauik. Berdasarkan penyesuaian tersebut, target penyelesaian konstruksi ditetapkan pada Mei 2028.

Dengan demikian, pembangunan Flyover Sitinjau Lauik kini memasuki tahapan penting setelah persoalan lahan dinyatakan tuntas. HPSL selaku pelaksana telah bergerak mengerjakan pembangunan fisik, sementara koordinasi antara pihak terkait terus diperlukan untuk mendukung kelancaran proyek.

Proyek ini memiliki tantangan teknis melalui desain Jembatan 3 dan Jembatan 4 yang berbeda. Salah satu konstruksinya berupa jembatan melengkung dengan bentang hingga sekitar 180 meter, sedangkan konstruksi lainnya menggunakan desain cable-stayed dengan bentang sekitar 300 meter.

Di luar aspek teknis, pembangunan Flyover Sitinjau Lauik juga berkaitan dengan kebutuhan peningkatan keselamatan lalu lintas di kawasan Sitinjau Lauik. Keberadaan Tikungan Panorama 1 dengan radius kecil dan kemiringan cukup tinggi menjadi salah satu kondisi yang hendak diatasi melalui pembangunan infrastruktur tersebut.

Risma menyebutkan, skema KPBU yang digunakan dalam proyek ini mencakup peran badan usaha dalam pembiayaan, operasional, dan pemeliharaan infrastruktur selama masa layanan. Sementara itu, dukungan pemerintah dan berbagai pihak tetap menjadi bagian penting dalam pelaksanaan pembangunan.

Mahyeldi pun menekankan bahwa keberlanjutan proyek membutuhkan sinergi dari seluruh pihak yang terlibat. Ia mengapresiasi dukungan HPSL, Kementerian Pekerjaan Umum, Agrinas, DPR RI, pemerintah kabupaten dan kota, jajaran teknis, BPJN, serta masyarakat.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur bukan hanya berkaitan dengan penyelesaian pekerjaan fisik, tetapi juga membutuhkan komunikasi yang baik, khususnya dalam proses yang menyangkut kepentingan masyarakat.

Dengan pengadaan tanah yang telah tuntas, pekerjaan fisik yang mulai berjalan, serta target konstruksi pada Mei 2028, pembangunan Flyover Sitinjau Lauik diharapkan dapat terus bergerak sesuai tahapan yang telah disepakati.

Infrastruktur tersebut diharapkan nantinya memberikan manfaat bagi keselamatan pengguna jalan, konektivitas, mobilitas masyarakat, dan kelancaran distribusi logistik di Sumbar.

Di sisi lain, pengalaman pembangunan proyek dengan desain konstruksi yang kompleks ini diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi pelaksanaan pembangunan infrastruktur strategis lainnya di daerah tersebut. (*)

Baca Juga

Aset Daerah Tak Boleh Sekadar Tercatat, Harus Beri Manfaat Masyarakat
Aset Daerah Tak Boleh Sekadar Tercatat, Harus Beri Manfaat Masyarakat
Pembangunan Flyover Sitinjau Lauik Perhatikan Perlindungan Satwa Liar, Ini Langkah HPSL
Pembangunan Flyover Sitinjau Lauik Perhatikan Perlindungan Satwa Liar, Ini Langkah HPSL
IORA 2027, Sumbar Usulkan Padang Jadi Lokasi Pertemuan Negara Samudra Hindia
IORA 2027, Sumbar Usulkan Padang Jadi Lokasi Pertemuan Negara Samudra Hindia
Petugas BPBD Kota Padang membagikan masker gratis kepada pengendara di tengah kondisi kualitas udara yang sangat tidak sehat.
Kualitas Udara Sumbar Tak Sehat, Gubernur Minta Pemda Bergerak Sebelum Memburuk
Puluhan Tahun Menanti, Pompanisasi Tenaga Surya Kini Aliri 400 Hektare Sawah di Tanah Datar
Puluhan Tahun Menanti, Pompanisasi Tenaga Surya Kini Aliri 400 Hektare Sawah di Tanah Datar
ISPU PM2,5 Sumbar Fluktuatif hingga Sangat Tidak Sehat, Pemprov Keluarkan Arahan untuk Daerah
ISPU PM2,5 Sumbar Fluktuatif hingga Sangat Tidak Sehat, Pemprov Keluarkan Arahan untuk Daerah