Sumbardaily.com – Semangat perjuangan Rahmah El Yunusiyyah dalam memajukan pendidikan perempuan kembali digaungkan melalui Festival Literasi Rahmah El Yunusiyyah. Kegiatan ini mendorong generasi muda membangun budaya membaca, menulis, dan meneliti sekaligus melestarikan kekayaan budaya Minangkabau sebagai bagian dari upaya membangun peradaban yang berilmu.
Festival yang diselenggarakan Perguruan Diniyyah Puteri itu berlangsung di aula perguruan tersebut, Rabu (21/10/2026). Menurut Wakil Wali Kota Padang Panjang, Allex Saputra, festival literasi tidak seharusnya hanya menjadi agenda untuk mengenang sosok Rahmah El Yunusiyyah. Kegiatan tersebut perlu menjadi momentum untuk melanjutkan semangat perjuangannya melalui berbagai gagasan, tulisan, dan karya yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia menilai, nilai perjuangan Rahmah El Yunusiyyah dapat terus dihidupkan melalui pengembangan pengetahuan dan pembentukan generasi yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan serta kebudayaan. Karena itu, festival literasi diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi turut mendorong lahirnya karya dan pemikiran baru.
Allex juga menekankan bahwa literasi memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan kebudayaan. Aktivitas membaca, menulis, meneliti, hingga mendokumentasikan pengetahuan menjadi cara untuk merawat ingatan kolektif masyarakat agar nilai-nilai luhur dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Ia mencontohkan kekayaan budaya Minangkabau yang mencakup adat, bahasa, kaba, pantun, randai, serta berbagai tradisi lainnya. Beragam warisan tersebut mengandung nilai kehidupan yang perlu terus dipelajari dan diperkenalkan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
“Minangkabau memiliki kekayaan adat, bahasa, kaba, pantun, randai, dan berbagai tradisi yang mengandung nilai kehidupan. Semua itu perlu terus dikaji, dituliskan, dan diperkenalkan melalui cara-cara yang relevan dengan perkembangan zaman,” tuturnya.
Menurut Allex, upaya pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan generasi muda agar warisan tersebut tidak hanya dikenal sebagai peninggalan masa lalu, tetapi tetap dipahami dan berkembang mengikuti perubahan zaman. Literasi dapat menjadi sarana untuk mengenali, mendokumentasikan, serta menyebarluaskan pengetahuan mengenai kebudayaan daerah.
Ia berharap generasi muda menjadikan literasi sebagai bekal untuk memperluas wawasan dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Dengan begitu, mereka diharapkan dapat mengambil peran aktif dalam menjaga sekaligus mengembangkan kebudayaan daerah.
Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III, Nurmatias, berharap peserta didik Perguruan Diniyyah Puteri dapat tumbuh menjadi generasi berkualitas yang mampu memberikan teladan dan berkontribusi bagi bangsa.
Ia juga menaruh harapan agar lembaga pendidikan tersebut dapat melahirkan calon pemimpin Indonesia pada 2045, disertai generasi yang memiliki pengetahuan luas dan mampu mengikuti jejak tokoh-tokoh besar, termasuk Rahmah El Yunusiyyah.
“Semoga Diniyyah Puteri ini ke depan bisa menjadi tempat lahirnya pemimpin-pemimpin kita pada 2045. Bisa melahirkan orang-orang berpengetahuan baik dan tokoh-tokoh hebat seperti Rahmah El Yunusiyyah,” ujarnya.
Harapan tersebut menempatkan pendidikan dan penguatan literasi sebagai bagian penting dalam mempersiapkan generasi masa depan. Peserta didik diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mampu menjadi teladan dan memberikan kontribusi bagi masyarakat serta bangsa.
Pimpinan Perguruan Diniyyah Puteri, Fauziah Fauzan El Muhammady, menjelaskan bahwa penyelenggaraan festival literasi juga berkaitan dengan upaya mengamalkan wahyu Allah SWT, yakni Iqra yang berarti bacalah.
Menurut Fauziah, membaca, menelaah, dan meneliti merupakan bagian mendasar dalam membangun tradisi keilmuan. Ketiga aktivitas tersebut menjadi fondasi untuk memperluas pengetahuan dan mendorong lahirnya generasi yang memiliki pemahaman luas.
Ia menegaskan bahwa kegiatan literasi tidak sekadar menjadi aktivitas pendidikan, tetapi juga dapat dimaknai sebagai bentuk pengamalan nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kebiasaan membaca dan meneliti, masyarakat diharapkan semakin menghargai ilmu pengetahuan sebagai dasar membangun peradaban.
“Dalam literasi ini kita menjadikan kegiatan membaca, menelaah, dan meneliti sebagai bentuk nyata mengimani wahyu Allah serta fondasi utama membangun peradaban berilmu. Semoga ini bisa menjadi ladang pahala untuk kita semua,” harapnya. (*)
















