Sumbardaily.com, Padang – Pemerintah Kota (Pemko) Padang bersiap menggelar Drill Tsunami Tingkat Kota pada 5 November 2025 mendatang. Kegiatan ini menjadi salah satu langkah nyata dalam memperkuat kesiapsiagaan bencana, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di zona merah tsunami.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, menjelaskan bahwa kegiatan drill akan melibatkan ribuan warga dari berbagai wilayah pesisir. Latihan ini bertujuan untuk menguji kecepatan evakuasi, efektivitas sistem peringatan dini, serta koordinasi antarinstansi dalam menghadapi potensi tsunami.
“BPBD juga akan menggelar Workshop pada 21–22 Oktober, dan Drill Tsunami pada 5 November mendatang. Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan misi ke-6 Pemko Padang, yaitu memperkuat jaringan ketahanan bencana, sekaligus mendukung program unggulan Padang Sigap,” ujar Hendri Zulviton.
Ia menambahkan, sejauh ini BPBD telah melakukan sosialisasi drill tsunami di 8 kecamatan dan 55 kelurahan yang termasuk dalam zona merah. Berdasarkan peta risiko, sekitar 60 hingga 70 persen wilayah Kota Padang masuk dalam kategori rawan tsunami.
Drill ini juga menjadi momentum penting untuk memastikan kesiapan seluruh unsur masyarakat, mulai dari aparat, relawan, hingga warga pesisir dalam menghadapi situasi darurat. BPBD menilai latihan seperti ini sangat penting karena Padang merupakan salah satu kota dengan risiko bencana tertinggi di Indonesia.
Sebelum pelaksanaan drill tsunami, Pemko Padang terlebih dahulu mengadakan Seminar Latihan Kesiapsiagaan di Palanta Rumah Dinas Wali Kota Padang, Kamis (16/10/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari tahap awal untuk memperkuat pemahaman dan koordinasi seluruh pihak terkait dalam menghadapi ancaman gempa dan tsunami.
Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir, yang membuka seminar tersebut, menegaskan bahwa kesiapsiagaan merupakan elemen penting bagi kota yang berada di jalur rawan gempa seperti Padang.
“Kota Padang memang berada pada wilayah yang secara kodrat selalu diintai oleh potensi gempa bumi. Karena itu, Kota Padang menjadi perhatian bukan hanya di tingkat nasional tetapi juga dunia. Secara nasional, Kota Padang direncanakan akan menjadi lokasi pembangunan Balai Wilayah Logistik Kebencanaan untuk Pulau Sumatera,” ujar Maigus Nasir.
Ia menegaskan bahwa ancaman gempa besar dari megathrust Mentawai harus diantisipasi secara serius karena berpotensi menimbulkan guncangan di atas 8 skala magnitudo. Dengan kondisi geografis yang sedemikian rentan, kesiapan warga menjadi mutlak.
“Kita berharap melalui seminar ini, semua pihak dapat lebih siap menghadapi bencana secara teknis. Lebih baik kita siap tanpa bencana daripada bencana datang kita tidak siap,” tegasnya.
Maigus Nasir menambahkan, Pemko Padang tidak hanya fokus pada aspek teknis, tetapi juga memperkuat infrastruktur kebencanaan, memperbarui sirine dan sistem peringatan dini, serta memastikan jalur evakuasi berfungsi optimal.
Selain itu, pemerintah kota juga terus mengedepankan pendekatan spiritual dan pembinaan karakter masyarakat melalui program Smart Surau, yang menjadikan rumah ibadah sebagai pusat pembelajaran nilai dan kesiapsiagaan.
“Selain upaya antisipasi teknis, Pemko Padang juga tengah menjalankan program Smart Surau bagi generasi muda dan jamaah. Melalui program ini, rumah ibadah akan menjadi tempat pembinaan karakter dan penguatan nilai-nilai keagamaan dalam menghadapi bencana,” tambahnya.
Drill Tsunami pada 5 November mendatang diharapkan dapat menjadi simulasi besar untuk mengukur tingkat kesiapan masyarakat menghadapi bencana. Pemko Padang menargetkan, kegiatan ini dapat memperkuat kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, relawan, dan masyarakat sipil.
Melalui kegiatan ini, Pemko Padang ingin memastikan seluruh warga pesisir memahami jalur evakuasi, titik kumpul aman, dan langkah penyelamatan diri ketika peringatan tsunami dikeluarkan. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan Padang sebagai kota tangguh bencana yang mampu menghadapi ancaman alam dengan sigap dan terkoordinasi. (red)
















