Sejarah Pura Jagatnatha Padang, Simbol Kerukunan Umat Hindu di Sumbar

Sejarah Pura Jagatnatha Padang, Simbol Kerukunan Umat Hindu di Sumbar

Pura Jagatnatha merupakan satu-satunya tempat ibadah umat Hindu di Sumatera Barat yang berada di bawah pembinaan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). (Foto: Kemenag Sumbar)

Sumbardaily.com - Pura Jagatnatha Padang menjadi bukti kuat bahwa kehidupan masyarakat Sumatera Barat telah lama dibangun di atas nilai toleransi dan kebersamaan.

Rumah ibadah yang berada di kawasan Lanud TNI AU Tabing, Kota Padang, ini tidak hanya menjadi tempat persembahyangan umat Hindu, tetapi juga berkembang sebagai pusat pembinaan keagamaan yang melayani umat Hindu di seluruh Sumatera Barat.

Berdasarkan informasi narasumber laman resmi Kanwil Kemenag Sumbar dikutip Senin (27/7/2026), Pura Jagatnatha merupakan satu-satunya tempat ibadah umat Hindu di Sumatera Barat yang berada di bawah pembinaan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI).

Keberadaannya menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan kehidupan beragama sekaligus memperkuat kerukunan di Ranah Minang.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Sumatera Barat, Prof. Dr. I Ketut Budaraga, menjelaskan sejarah pembangunan Pura Jagatnatha saat membuka kegiatan pembinaan yang dihadiri Staf Khusus pada Jumat (24/7/2026) di Wantilan.

Ia mengungkapkan, gagasan pembangunan pura bermula sekitar tahun 1996. Ketika itu, umat Hindu di Kota Padang bersama sejumlah tokoh masyarakat mulai merintis pembangunan rumah ibadah karena belum tersedia pura yang memadai bagi umat Hindu di Sumatera Barat.

Berbagai lokasi kemudian disurvei sebelum akhirnya diputuskan membangun pura di lahan kawasan Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Tabing yang disediakan sebagai lokasi pembangunan.

Proses pembangunan dilakukan secara bertahap. Seluruh tahapan dikerjakan dengan semangat gotong royong umat Hindu, didukung berbagai elemen masyarakat serta mendapat bantuan dari TNI Angkatan Udara.

"Pada tahap awal, bangunan pura masih sangat sederhana dan didominasi penggunaan ornamen kayu. Meski demikian, semangat kebersamaan menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan rumah ibadah tersebut," ujar Ketut Budaraga.

Dua tahun setelah proses perintisan dimulai, Pura Jagatnatha Padang akhirnya diresmikan pada 1998. Berdasarkan prasasti peresmian, peresmian dilakukan oleh Letkol Chaerudin Ray yang saat itu menjabat sebagai Komandan Lanud Tabing.

Seiring berjalannya waktu, kawasan pura terus mengalami pengembangan. Kompleks tersebut kini dilengkapi bangunan utama untuk persembahyangan, pasraman sebagai pusat pendidikan keagamaan Hindu, serta rumah tinggal bagi Pinandita.

Keberadaan Pura Jagatnatha tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah. Sejak diresmikan, pura tersebut menjadi pusat pembinaan umat Hindu di Sumatera Barat dengan berbagai kegiatan keagamaan yang berlangsung secara rutin.

Beragam agenda keagamaan digelar di pura ini, mulai dari persembahyangan Purnama, Tilem, Galungan, Kuningan, Saraswati, Siwaratri, Nyepi hingga berbagai upacara keagamaan Hindu lainnya.

Selain menjadi pusat aktivitas keagamaan, Pura Jagatnatha juga menjalankan fungsi pendidikan melalui kegiatan pasraman. Program tersebut ditujukan sebagai wadah pembinaan karakter sekaligus pendidikan agama Hindu, terutama bagi generasi muda.

Menurut Ketut Budaraga, keberadaan pura memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian ajaran Hindu sekaligus memperkuat nilai toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Sumatera Barat.

Ia menambahkan, lebih dari dua dekade setelah diresmikan, Pura Jagatnatha Padang tetap menjadi simbol persaudaraan, semangat gotong royong, dan penghormatan terhadap keberagaman.

Menurutnya, dukungan yang diberikan berbagai pihak sejak proses pembangunan menjadi bukti bahwa masyarakat Sumatera Barat telah lama menerapkan kehidupan yang harmonis dan saling menghormati, bahkan jauh sebelum konsep moderasi beragama menjadi perhatian di tingkat nasional.

"Terimakasih kami sampaikan pada Pemerintahan Provinsi Sumatera Barat, Pemerintah Kota Padang, Kanwil Kemenag Sumbar beserta jajaran, yang secara aktif memberikan pembinaan pada kami, tokoh masyarakat, tokoh adat serta masyarakat, sampai hari ini kami hidup rukun dan berdamping, saling menghormati dan menghargai satu sama lain," tutup Ketut Budaraga. (*)

Baca Juga

IORA 2027, Sumbar Usulkan Padang Jadi Lokasi Pertemuan Negara Samudra Hindia
IORA 2027, Sumbar Usulkan Padang Jadi Lokasi Pertemuan Negara Samudra Hindia
Pasaman Barat Matangkan Venue Grasstrack dan Arung Jeram untuk Porprov 2026
Pasaman Barat Matangkan Venue Grasstrack dan Arung Jeram untuk Porprov 2026
Bencana Bisa Putus Interaksi Wilayah di Sumbar, Riset UBH Temukan Titik Risikonya
Bencana Bisa Putus Interaksi Wilayah di Sumbar, Riset UBH Temukan Titik Risikonya
Mau Balik Nama Kendaraan ke Sumbar? Ada Diskon PKB 50 Persen dan Bebas Denda
Mau Balik Nama Kendaraan ke Sumbar? Ada Diskon PKB 50 Persen dan Bebas Denda
ASN Sumbar Tak Boleh Berduaan di Ruang Tertutup, Pemprov Terbitkan Aturan Baru
ASN Sumbar Tak Boleh Berduaan di Ruang Tertutup, Pemprov Terbitkan Aturan Baru
Petugas BPBD Kota Padang membagikan masker gratis kepada pengendara di tengah kondisi kualitas udara yang sangat tidak sehat.
Kualitas Udara Sumbar Tak Sehat, Gubernur Minta Pemda Bergerak Sebelum Memburuk