Sumbardaily.com, Agam – Kasus dugaan keracunan massal yang menimpa siswa penerima program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Agam terus menunjukkan peningkatan. Data terbaru hingga Kamis (2/10/2025) pukul 12.00 WIB mencatat jumlah korban melonjak menjadi 110 orang, dengan 31 siswa masih menjalani perawatan intensif di sejumlah fasilitas kesehatan.
Meskipun sebagian besar pasien sudah diperbolehkan pulang, puluhan siswa lain masih dirawat di empat fasilitas kesehatan berbeda. Rinciannya, 24 pasien berada di RSUD Lubuk Basung, tiga pasien di RSIA Rizki Bunda, tiga pasien di Puskesmas Lubuk Basung, dan satu pasien di Puskesmas Manggopoh.
Perkembangan data korban juga menunjukkan dinamika: dari 11 kasus di Puskesmas Manggopoh, delapan orang telah pulang, sementara tiga lainnya masih dalam observasi. Di RSUD Lubuk Basung, dari total 13 pasien, sembilan masih dirawat dan empat sudah pulang. Adapun tiga pasien di RSIA Rizki Bunda serta tiga lainnya di Puskesmas Lubuk Basung masih menjalani perawatan.
Sekretaris Daerah Kabupaten Agam, Mhd Lutfi, yang meninjau langsung pasien di RSUD Lubuk Basung, menyampaikan bahwa kondisi korban secara umum mulai membaik. “Alhamdulillah, kondisi pasien sudah berangsur pulih, bahkan sebagian sudah ada yang dipulangkan,” ujarnya.
Pemkab Lakukan Penanganan Cepat
Menanggapi insiden tersebut, Bupati Agam Benni Warlis menyatakan keprihatinan mendalam sekaligus memastikan langkah cepat sudah diambil. “Kami sangat prihatin atas kejadian ini. Saat ini terdapat 31 anak yang masih menjalani perawatan di rumah sakit dan puskesmas,” ungkapnya, Kamis (2/10/2025).
Menurut Benni, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Agam telah menginstruksikan Dinas Kesehatan agar memberikan layanan medis optimal untuk seluruh korban. Tidak hanya itu, langkah investigasi juga segera dilakukan dengan pengambilan sampel sisa makanan dan sampel simpanan di SPPG. Seluruh sampel kini tengah diuji oleh Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) guna memastikan penyebab pasti keracunan.
“Proses uji laboratorium sedang berlangsung agar dapat diketahui apa yang menjadi faktor utama dugaan keracunan MBG ini,” tegas Benni.
Evaluasi Program MBG
Selain fokus pada penanganan medis, Pemkab Agam juga melakukan pendataan korban berdasarkan asal sekolah. Tujuannya, agar seluruh siswa terdampak terdata jelas dan memperoleh perawatan sesuai standar.
Benni Warlis menambahkan, kejadian ini menjadi momentum untuk melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG. Ia menekankan perlunya peninjauan ulang prosedur distribusi makanan agar kasus serupa tidak kembali terjadi.
“Insiden ini akan menjadi bahan evaluasi menyeluruh. Program Makanan Bergizi Gratis sangat baik bagi anak-anak, tetapi pelaksanaannya harus benar-benar terjamin dari sisi kualitas dan keamanannya,” kata Benni.
Dengan jumlah korban yang terus bertambah, perhatian publik kini tertuju pada hasil uji laboratorium BPOM yang akan menentukan penyebab pasti keracunan. Sementara itu, Pemkab Agam memastikan pemulihan korban tetap menjadi prioritas utama, di samping memperbaiki sistem program MBG di lapangan. (red)
















