Dari Jalan hingga Air Bersih, Hutama Karya Percepat Pemulihan Aceh Pascabencana

Sumbardaily.com – Upaya pemulihan infrastruktur pascabencana di Aceh terus dikebut. PT Hutama Karya (Persero) menangani sejumlah titik kerusakan pada jalan nasional, jembatan, hingga Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) untuk mengembalikan konektivitas sekaligus layanan dasar masyarakat di wilayah terdampak.

Penanganan tersebut mencakup tiga ruas jalan nasional yang berada di bawah Direktorat Jenderal Bina Marga (BM), serta infrastruktur SPAM di Aceh Tamiang dan Aceh Timur di bawah sektor Direktorat Jenderal Cipta Karya. Beragam metode konstruksi diterapkan sesuai kondisi kerusakan di masing-masing lokasi, mulai dari penguatan lereng dan badan jalan, pembangunan dinding penahan tanah (DPT), pemasangan blok beton, bore pile, drainase, box culvert, perkerasan, hingga pekerjaan jembatan.

Pada sektor air minum, pekerjaan diarahkan untuk mengembalikan fungsi fasilitas yang terdampak bencana. Penanganannya meliputi pembersihan fasilitas, pembangunan sumur bor sebagai sumber air, rehabilitasi Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang sudah ada, serta pembangunan IPA baru.

Rangkaian pekerjaan ini menjadi bagian dari penanganan tanggap darurat akibat bencana yang menimbulkan longsor, kerusakan jembatan, serta gangguan terhadap infrastruktur penyediaan air minum di sejumlah wilayah Aceh.

Tiga Ruas Jalan Nasional Ditangani

Hutama Karya menangani tiga ruas jalan nasional di Aceh, yakni SP Uning–Bts. Gayo Lues pada PPK 3.3, Bts. Aceh Tengah/Gayo Lues–Blangkejeren pada PPK 3.4, serta Bts. Gayo Lues/Aceh Tenggara–Kota Kutacane pada PPK 3.5.

Pada ruas SP Uning–Bts. Gayo Lues atau PPK 3.3, terdapat 28 titik yang masuk dalam penanganan tanggap darurat. Titik-titik tersebut tersebar di sepanjang ruas jalan dengan panjang 82,4 kilometer dan terdiri atas 24 titik longsor serta empat titik perbaikan jembatan.

Pekerjaan di lokasi tersebut disesuaikan dengan kebutuhan setiap titik terdampak. Lingkupnya mencakup penanganan jembatan, pembangunan dinding penahan tanah atau DPT, pemasangan blok beton, hingga pekerjaan bore pile. Seluruh metode tersebut diarahkan untuk memperkuat lereng dan badan jalan yang terkena dampak langsung bencana.

Penguatan itu juga diperlukan agar fungsi ruas jalan dapat kembali berjalan dan konektivitas masyarakat tidak terus terganggu. Jalan yang kembali berfungsi menjadi bagian penting dalam mendukung mobilitas masyarakat di wilayah terdampak.

Pekerjaan pada ruas SP Uning–Bts. Gayo Lues telah dimulai sejak 5 Desember 2025. Target penyelesaiannya ditetapkan pada 31 Desember 2026.

Hingga minggu ketiga Agustus 2026, progres fisik pekerjaan telah mencapai 58,78%. Dari total 28 titik penanganan, sebanyak delapan titik telah diselesaikan. Delapan titik tersebut terdiri atas dua titik blok beton, dua titik DPT, tiga titik shotcrete, dan satu titik jembatan.

Pelaksanaan pekerjaan di ruas tersebut melibatkan setidaknya 81 karyawan dan 315 tenaga kerja.

23 Titik Terdampak di Ruas Aceh Tengah-Gayo Lues

Penanganan berikutnya dilakukan pada Ruas Jalan Nasional Bts. Aceh Tengah/Gayo Lues–Blangkejeren atau PPK 3.4. Pada ruas sepanjang 123 kilometer itu, Hutama Karya menangani 23 titik terdampak bencana dengan total panjang penanganan efektif mencapai 2,7 kilometer.

Sebaran kerusakan berada pada dua ruas jalan. Pada Ruas Jalan N22 Aceh Tengah–Blangkejeren, terdapat tujuh titik longsor dan satu jembatan yang masuk dalam penanganan. Sementara pada Ruas Jalan N23 Blangkejeren–Aceh Tenggara terdapat 15 titik longsor.

Berbagai pekerjaan konstruksi dilakukan untuk memperkuat sekaligus meningkatkan stabilitas badan jalan pada lokasi terdampak. Lingkup pekerjaan di antaranya pemasangan precast buis beton, beton siklop FC15, dinding penahan beton, serta timbunan pilihan.

Penanganan tersebut ditujukan agar fungsi jalan dapat dipulihkan sehingga mobilitas masyarakat kembali berjalan dengan lebih baik. Selain perjalanan masyarakat, pemulihan ruas jalan juga diharapkan mendukung distribusi barang dan jasa di wilayah yang terdampak bencana.

Pekerjaan pada PPK 3.4 dimulai pada 6 Desember 2025 dan ditargetkan rampung pada 31 Desember 2026.

Sampai minggu ketiga Agustus 2026, progres fisik penanganan telah mencapai 46,17%. Pekerjaan tersebut didukung sekitar 130 karyawan dan 190 tenaga kerja.

Enam Titik di Jalur Menuju Kutacane

Sementara itu, Hutama Karya juga melakukan penanganan pada Ruas Bts. Gayo Lues/Aceh Tenggara–Kota Kutacane atau PPK 3.5. Pada ruas ini terdapat enam titik yang terdampak bencana, terdiri atas dua jembatan dan empat titik longsor.

Total panjang penanganan pada ruas tersebut mencapai 3.775 meter. Titik-titik yang ditangani meliputi longsor daerah Ketambe sepanjang 325 meter, longsor daerah Kafetingir sepanjang 1.072 meter, longsor daerah Bener Berpapah sepanjang 500 meter, Jembatan Penanggalan sepanjang 793 meter, Jembatan Mengkudu sepanjang 410 meter, serta longsor daerah Lawe Ger-ger sepanjang 675 meter.

Karakteristik kerusakan di setiap titik membuat pekerjaan yang dilakukan juga beragam. Hutama Karya mengerjakan drainase, box culvert, pekerjaan tanah, perkerasan jalan, serta struktur penahan tanah berupa DPT dan bore pile.

Selain itu, terdapat pekerjaan pembangunan jembatan rangka baja. Keseluruhan pekerjaan tersebut diarahkan untuk memperkuat struktur jalan, menjaga stabilitas lereng, sekaligus meningkatkan keandalan infrastruktur pada lokasi yang terdampak.

Dengan penguatan tersebut, konektivitas antarkawasan diharapkan dapat kembali berjalan dengan lebih baik.

Pekerjaan PPK 3.5 dimulai sejak 5 Desember 2025 dan ditargetkan selesai pada 31 Desember 2026. Hingga minggu ketiga Agustus 2026, progres fisiknya telah mencapai 57,06%.

Pelaksanaan pekerjaan di lokasi tersebut didukung sekitar 76 karyawan dan 155 pekerja.

Air Bersih Aceh Tamiang dan Aceh Timur Ikut Dipulihkan

Pemulihan pascabencana tidak hanya menyasar jalan dan jembatan. Hutama Karya juga menangani infrastruktur penyediaan air minum melalui SPAM Pascabencana Aceh di Aceh Tamiang dan Aceh Timur.

Pekerjaan pada sektor ini mencakup pembersihan fasilitas, pembangunan 20 titik sumur bor, rehabilitasi IPA, serta pembangunan dua lokasi IPA. Langkah tersebut dilakukan untuk mengembalikan fungsi infrastruktur penyediaan air minum yang terdampak bencana.

Di Aceh Tamiang, pekerjaan meliputi pembangunan dua IPA baru dan delapan titik sumur bor. Sementara di Aceh Timur, Hutama Karya menangani rehabilitasi dua IPA dan pembangunan 12 titik sumur bor.

Dengan pekerjaan tersebut, pemulihan tidak hanya diarahkan pada kondisi fisik fasilitas air minum, tetapi juga pada keberlanjutan layanan air bersih yang dibutuhkan masyarakat.

Pekerjaan SPAM Pascabencana Aceh dimulai pada 22 Desember 2025 dan ditargetkan selesai pada 17 Desember 2026.

Sampai minggu ketiga Agustus 2026, progres fisik penanganan SPAM pascabencana Aceh mencapai 39,25%. Pelaksanaannya melibatkan 30 karyawan dan 48 tenaga kerja.

Pemulihan Infrastruktur Bukan Sekadar Perbaikan Fisik

Penanganan yang dilakukan Hutama Karya di sejumlah titik tersebut merupakan respons terhadap dampak bencana yang menyebabkan longsor, kerusakan jembatan, serta terganggunya infrastruktur penyediaan air minum.

Pada sektor jalan, metode penanganan diterapkan berdasarkan karakteristik kerusakan masing-masing titik. Penguatan lereng dan badan jalan dilakukan dengan DPT, blok beton, bore pile, drainase, box culvert, perkerasan, serta pekerjaan jembatan.

Sementara itu, pada sektor air minum, penanganan dilakukan melalui pembersihan fasilitas, pembangunan sumur bor sebagai sumber air, rehabilitasi IPA eksisting, dan pembangunan IPA baru.

Hutama Karya menempatkan pemulihan fungsi sebagai bagian penting dari keseluruhan pekerjaan. Artinya, pembangunan kembali infrastruktur tidak berhenti pada perbaikan kerusakan secara fisik, tetapi diarahkan agar fasilitas tersebut kembali memberikan manfaat kepada masyarakat.

Pada sektor jalan, pemulihan diharapkan dapat menopang kembali mobilitas warga, distribusi logistik, serta aktivitas sosial dan ekonomi antarkawasan. Adapun pemulihan SPAM diharapkan dapat menjaga ketersediaan layanan air bersih sebagai kebutuhan dasar masyarakat di wilayah yang terdampak.

Untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai kebutuhan di lapangan, Hutama Karya melakukan koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum, BP2JN/BPJN Provinsi Aceh, PPK terkait, serta konsultan pengawas sesuai dengan lingkup pekerjaan masing-masing.

Koordinasi tersebut berjalan beriringan dengan penyesuaian metode dan kebutuhan teknis di setiap titik terdampak. Dengan pendekatan tersebut, penanganan diharapkan dapat mengembalikan fungsi infrastruktur sekaligus membantu pemulihan konektivitas dan layanan dasar masyarakat.

Sejalan dengan Asta Cita Pemerintah

Upaya pemulihan infrastruktur pascabencana yang dilakukan Hutama Karya juga disebut sejalan dengan Asta Cita Pemerintah, terutama dalam mendorong pembangunan infrastruktur yang mendukung pemerataan pembangunan.

Selain pemerataan, pembangunan dan pemulihan infrastruktur juga diarahkan untuk memperkuat konektivitas antardaerah serta meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

Dalam konteks Aceh, penanganan jalan, jembatan, dan SPAM menjadi bagian dari dukungan terhadap proses pemulihan di wilayah yang terkena dampak bencana. Infrastruktur yang kembali berfungsi diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih merata kepada masyarakat di wilayah terdampak.

Pj. Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, mengatakan penanganan tanggap darurat tersebut merupakan bagian dari upaya perseroan membantu mempercepat pemulihan infrastruktur dan layanan dasar masyarakat setelah bencana.

“Bagi Hutama Karya, penanganan infrastruktur terdampak bencana merupakan bagian dari tanggung jawab kami untuk mendukung pemulihan masyarakat di wilayah terdampak. Melalui penanganan jalan, jembatan, serta infrastruktur penyediaan air minum di Aceh, kami berupaya memastikan infrastruktur dapat kembali berfungsi secara optimal sehingga aktivitas dan mobilitas masyarakat dapat berlangsung dengan lebih baik. Dalam pelaksanaannya, kami terus mengedepankan kualitas pekerjaan, keselamatan, serta ketepatan waktu agar setiap penanganan dapat memberikan manfaat yang nyata dan mendukung percepatan pemulihan di wilayah terdampak,” tutup Hamdani.

Dengan pekerjaan yang mencakup jalan, jembatan, hingga penyediaan air minum, Hutama Karya terus menjalankan penanganan di sejumlah wilayah terdampak Aceh. Pemulihan tersebut diarahkan untuk mengembalikan fungsi infrastruktur sekaligus mendukung masyarakat agar aktivitas dan layanan dasar dapat kembali berjalan lebih baik. (*)

Baca Juga

Hutama Karya Tutup Sementara Tol Fungsional Padang Tiji-Seulimeum 9-11 September, Ini Jalur Alternatifnya
Hutama Karya Tutup Sementara Tol Fungsional Padang Tiji-Seulimeum 9-11 September, Ini Jalur Alternatifnya
Kecelakaan Beruntun di Tol Palembang-Indralaya, Hutama Karya Tegaskan Bukan karena Karhutla
Kecelakaan Beruntun di Tol Palembang-Indralaya, Hutama Karya Tegaskan Bukan karena Karhutla
Penataan Anak Usaha BUMN, HKA dan TBKA Teken Perjanjian Penggabungan Bersyarat
Penataan Anak Usaha BUMN, HKA dan TBKA Teken Perjanjian Penggabungan Bersyarat
Hari Pelanggan Nasional 2026, Hutama Karya Hadirkan Layanan Kesehatan dan Apresiasi Pengguna Jalan
Hari Pelanggan Nasional 2026, Hutama Karya Hadirkan Layanan Kesehatan dan Apresiasi Pengguna Jalan
Diskon Tarif Tol 10% JTTS Saat Hari Pelanggan Nasional, Ini Syarat dan Rutenya
Diskon Tarif Tol 10% JTTS Saat Hari Pelanggan Nasional, Ini Syarat dan Rutenya
Hutama Karya Raih Penghargaan Kementerian Hukum, Laporan Tahunan Jadi yang Tercepat
Hutama Karya Raih Penghargaan Kementerian Hukum, Laporan Tahunan Jadi yang Tercepat