Sumbardaily.com - Cuaca ekstrem Padang Pariaman dalam sepekan terakhir menyebabkan sejumlah kerusakan infrastruktur, termasuk putusnya jalan utama masyarakat di Korong Sungai Pingai, Nagari III Koto Aur Malintang, Kecamatan IV Koto Aur Malintang.
Jalan tersebut terputus total setelah longsor terjadi akibat hujan lebat yang disertai angin kencang. Kondisi ini menjadi perhatian serius Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Wilayah Sumatera, khususnya Sumatera Barat.
Satgas PRR turun langsung ke sejumlah lokasi terdampak banjir, longsor, dan pohon tumbang di Kabupaten Padang Pariaman, Senin (10/8/2026).
Peninjauan dipimpin Ketua Tim sekaligus Ketua Tim Supervisi Satgas PRR Pascabencana Wilayah Sumatera, khususnya Sumatera Barat, Brigjen Pol. Yopie Indra Prasetya Sepang.
Kedatangan Satgas PRR dilakukan untuk melihat kondisi lapangan secara langsung sekaligus memetakan kerusakan yang muncul setelah cuaca ekstrem melanda wilayah tersebut.
Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah jalan di Korong Sungai Pingai. Akses tersebut memiliki fungsi penting bagi masyarakat karena digunakan untuk mobilitas warga, aktivitas pertanian, pendidikan, hingga menghubungkan sejumlah wilayah di Padang Pariaman dengan Kabupaten Agam.
Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis (JKA) turut mendampingi peninjauan tersebut. Dia menyebut kedatangan Satgas PRR menjadi kesempatan untuk melihat langsung kondisi kerusakan dan mendorong penanganan lebih lanjut.
“Hari ini kami kedatangan Satgas penanggulangan bencana dari pusat yang dipimpin oleh Brigjen Pol. Yopie Indra Prasetya Sepang. Kita melihat secara langsung kondisi Padang Pariaman setelah banjir dan longsor yang terjadi satu minggu yang lalu,” ujar Bupati.
Menurut John Kenedy Azis, kejadian yang berlangsung dalam sepekan terakhir merupakan bencana kedua yang dihadapi Padang Pariaman dalam rangkaian bencana hidrometeorologi.
Sebelumnya, wilayah tersebut juga mengalami bencana hidrometeorologi pada November 2025 hingga Januari 2026.
“Ini bencana yang kedua. Yang pertama adalah bencana hidrometeorologi yang terjadi pada November 2025 hingga Januari 2026. Sekarang tahap keduanya, yaitu bencana yang terjadi satu minggu yang lalu,” jelasnya.
Jalan di Korong Sungai Pingai menjadi salah satu dampak yang paling dirasakan masyarakat. Kondisinya semakin memburuk dalam beberapa hari terakhir.
Jika sebelumnya sepeda motor masih dapat melewati jalur tersebut, saat peninjauan dilakukan akses sudah terputus sepenuhnya dan tidak lagi bisa digunakan.
Putusnya jalan tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat. Selain menjadi akses utama warga, jalur itu juga digunakan para petani untuk mendukung aktivitas pertanian.
Jalan tersebut juga berfungsi sebagai penghubung antarkorong dan nagari hingga menuju Kabupaten Agam.
“Akibat cuaca ekstrem yang disertai hujan lebat dan angin kencang satu minggu lalu, jalan di titik ini putus sama sekali dan tidak bisa diakses. Ini jalur utama dan vital bagi warga dan para petani, bahkan jalan ini juga menghubungkan Kabupaten Padang Pariaman dengan Kabupaten Agam,” ungkapnya.
Gangguan akses tidak hanya berpengaruh terhadap kegiatan ekonomi dan mobilitas warga. Aktivitas pendidikan juga mulai terdampak karena anak-anak sekolah harus mencari jalur lain untuk menuju tujuan mereka.
Jalur alternatif yang tersedia dinilai lebih berisiko. Warga, termasuk anak-anak sekolah, harus melewati bagian bawah tebing dan menyeberangi sungai di sekitar lokasi untuk melanjutkan perjalanan.
Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah meminta penanganan dilakukan secepatnya. Pemerintah menilai pembukaan kembali akses menjadi kebutuhan mendesak karena berkaitan dengan keselamatan masyarakat sekaligus keberlangsungan aktivitas sehari-hari.
“Saya sangat berharap kepada Satgas Korwil Sumatera Barat agar kondisi ini dapat segera ditanggulangi dan ditindaklanjuti. Akses jalan ini betul-betul vital, bukan hanya menghubungkan korong dan nagari, tetapi juga menjadi akses penghubung Kabupaten Padang Pariaman dengan Kabupaten Agam,” tegas Bupati.
Sementara itu, Brigjen Pol. Yopie Indra Prasetya Sepang mengatakan peninjauan tidak hanya ditujukan untuk melihat kerusakan akibat kejadian terbaru. Satgas PRR juga berupaya memastikan perbedaan antara dampak bencana yang terjadi sebelumnya dengan kerusakan baru yang muncul akibat cuaca ekstrem dalam sepekan terakhir.
“Tadi kami sudah melihat secara langsung beberapa titik longsor. Yang pertama akibat bencana hidrometeorologi yang terjadi pada November 2025 lalu, kemudian yang kedua adalah titik yang terdampak cuaca ekstrem satu minggu yang lalu,” ujarnya.
Dari pemantauan langsung di lapangan, Satgas PRR menemukan adanya sejumlah titik kerusakan baru. Beberapa di antaranya berada di lokasi yang sebelumnya juga pernah mengalami dampak bencana.
“Kami datang ke sini untuk melihat secara langsung dampak banjir dan longsor yang terjadi. Kami ingin melihat apakah dampaknya terjadi di titik yang sebelumnya terdampak pada November atau justru di tempat yang baru. Ternyata, di beberapa titik memang ada lokasi-lokasi baru. Seperti di tempat ini, terjadi longsor lagi,” jelas Yopie.
Temuan tersebut menunjukkan adanya kerusakan baru yang kembali mengganggu akses masyarakat. Salah satu dampaknya terlihat dari terputusnya jalan yang menjadi jalur utama warga di Korong Sungai Pingai.
Satgas PRR kemudian akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman untuk menentukan langkah penanganan. Koordinasi tersebut diarahkan agar penanganan kerusakan dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terukur.
“Kami akan mencoba mendiskusikan, sesuai dengan permintaan Pak Bupati Padang Pariaman, bagaimana supaya penanganannya bisa lebih cepat dan segera. Kami dari Satgas PRR memang mempunyai tugas, salah satunya mempercepat proses penanganan bencana untuk wilayah Sumatera Barat,” tegasnya.
Peninjauan lapangan tersebut menjadi bagian dari upaya mempercepat pemulihan infrastruktur setelah bencana. Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman berharap koordinasi dengan Satgas PRR dan pemerintah pusat dapat segera menghasilkan langkah konkret untuk menangani kerusakan.
Salah satu prioritasnya adalah membuka kembali jalan yang terputus di Korong Sungai Pingai. Jalan tersebut memiliki peran penting bagi mobilitas masyarakat, aktivitas pertanian, pendidikan, serta konektivitas antarkorong dan nagari.
Pemulihan akses juga diharapkan dapat mengurangi risiko yang saat ini dihadapi warga dan pelajar yang terpaksa menggunakan jalur alternatif.
Dengan kembali normalnya akses jalan, aktivitas masyarakat diharapkan dapat berangsur pulih. Kondisi tersebut mencakup kegiatan warga, pendidikan, pertanian, perekonomian, serta konektivitas Kabupaten Padang Pariaman dengan wilayah sekitarnya, termasuk Kabupaten Agam. (*)
















