Sumbardaily.com - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melakukan inspeksi mendadak (sidak) serentak di lima Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah DKI Jakarta pada tanggal 30 April 2026 kemarin.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan sesuai standar keamanan pangan yang telah ditetapkan.
Sidak tersebut dipimpin langsung oleh Kepala BPOM Taruna Ikrar bersama jajaran pejabat terkait.
Pemeriksaan difokuskan pada seluruh rantai proses produksi makanan, mulai dari penyiapan bahan baku, pengolahan dan pemasakan, pemorsian, hingga distribusi makanan kepada para penerima manfaat.
Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah SPPG Tebet Manggarai Selatan. Dapur ini dikelola oleh Yayasan Bina Siwi Oku Timur dan beroperasi di bangunan bekas rumah toko yang dialihfungsikan. Dari lokasi tersebut, layanan MBG menjangkau sebanyak 2.858 penerima manfaat.
Dalam keterangannya di lokasi, Taruna Ikrar menegaskan bahwa sidak ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan BPOM dengan Komisi IX DPR RI.
Ia menyebut, pengawasan dilakukan secara langsung sejak dini hari hingga pagi untuk mendapatkan gambaran nyata di lapangan.
“Mulai dari dini hari sampai pagi ini, kawan-kawan dari BPOM melakukan survei langsung ke SPPG, salah satunya Manggarai Selatan, sebagai tindak lanjut pertemuan dengan Komisi IX DPR RI,” ujar Taruna Ikrar.
Ia menekankan pentingnya memastikan keamanan pangan bagi seluruh penerima manfaat program, yang mencakup anak-anak dari tingkat PAUD hingga SMA, serta ibu hamil.
“Kami ingin memastikan makanan yang sampai ke anak-anak dan adek-adek kita, juga ibu hamil, benar-benar terjamin keamanannya, pasti dan jelas sumbernya. Kami ingin memastikan, bukan pangan kalau tidak aman,” tegasnya.
Selain di Tebet, sidak juga dilakukan di empat lokasi lainnya secara bersamaan. Direktur Pengawasan Produksi Pangan Olahan Sondang Widya E.S melakukan pemeriksaan di SPPG Khusus Kota Jakarta Barat-Pal Merah.
Dapur ini merupakan salah satu percontohan awal program MBG di wilayah tersebut yang telah beroperasi sejak 18 November 2024 dan melayani sekitar 3.800 penerima manfaat.
Sementara itu, Direktur Pengawasan Peredaran Pangan Olahan Didik Joko Pursito mengunjungi SPPG Jatinegara Kampung Melayu 01 yang melayani 2.905 penerima manfaat dari berbagai kelompok, termasuk balita dan ibu menyusui.
Di lokasi lain, Direktur Registrasi Pangan Olahan Sintia Ramadhani melakukan inspeksi di SPPG Tanah Tinggi, Johar Baru.
Dapur ini sebelumnya merupakan kafe yang kemudian dialihfungsikan dan mulai beroperasi sejak September 2025, melayani 2.270 penerima manfaat.
Kepala Balai Besar POM (BBPOM) di Jakarta Sofiyani Chandrawati Anwar juga turut melakukan sidak di SPPG Sunter Jaya 1 yang menyiapkan makanan untuk 2.932 penerima manfaat.
Dari hasil inspeksi di lima lokasi tersebut, BPOM menyimpulkan bahwa secara umum operasional SPPG telah berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Namun demikian, masih ditemukan beberapa catatan perbaikan yang bersifat minor untuk meningkatkan standar keamanan pangan.
Catatan tersebut telah disampaikan langsung kepada pengelola SPPG, termasuk Kepala SPPG Yayasan Bina Siwi Oku Timur, Muhammad Abrar Hariswan, yang mendampingi proses sidak dan memberikan penjelasan terkait operasional dapur.
“Kami datang untuk memastikan program MBG ini berjalan semakin baik. Kunjungan ini adalah bentuk monitoring BPOM agar kita bisa bersama-sama melakukan continuous improvement. Hasilnya nanti kita sampaikan ke BGN sebagai masukan,” kata Taruna Ikrar.
Abrar Hariswan menyampaikan apresiasi atas kunjungan dan evaluasi yang diberikan BPOM. Ia menegaskan komitmen pihaknya untuk terus meningkatkan kualitas layanan.
“Kami beserta tim dapur Tebet Manggarai Selatan akan berkomitmen memberikan makan bergizi gratis kepada seluruh masyarakat Indonesia, dengan menjamin keamanan dan mutu pangan,” ujarnya. Ia juga memastikan akan menindaklanjuti seluruh saran yang diberikan.
Selama sidak berlangsung, BPOM tidak hanya melakukan pemeriksaan teknis, tetapi juga berdialog langsung dengan berbagai pihak di SPPG.
Mulai dari kepala dapur, pengawas gizi, asisten lapangan, hingga relawan turut dilibatkan dalam diskusi terbuka.
Diskusi ini bertujuan untuk mengidentifikasi kendala di lapangan serta menggali potensi peningkatan dalam pelaksanaan program MBG.
Salah satu poin penting yang muncul adalah kebutuhan akan pengawas keamanan pangan di setiap SPPG.
Pengawas ini dinilai memiliki peran strategis dalam memastikan standar keamanan pangan dijalankan secara konsisten, sekaligus memberikan edukasi berkelanjutan kepada para relawan yang terlibat dalam proses produksi makanan.
Selain catatan perbaikan, BPOM juga menemukan sejumlah praktik positif di beberapa lokasi.
Di SPPG Jatinegara, misalnya, tenaga koki yang bertugas merupakan profesional bersertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan tergabung dalam Indonesian Chef Association (ICA).
Tak hanya itu, seluruh penjamah pangan di lokasi tersebut telah mengikuti pelatihan higiene dan sanitasi.
Proses pengujian organoleptik juga telah dilakukan, baik di dapur produksi maupun pada sampel yang diterima, serta tersedia sampel per tinggal untuk setiap menu yang disajikan.
Meski demikian, BPOM menilai masih ada aspek dalam cara produksi pangan olahan yang perlu diperkuat.
Hal ini membutuhkan intervensi berulang agar seluruh pelaku memahami pentingnya keamanan pangan dan tidak mengabaikannya dalam praktik sehari-hari.
Penguatan tersebut, lanjut BPOM, harus didukung dengan komitmen serta sumber daya dari pihak mitra atau yayasan pengelola.
Seluruh temuan dalam sidak telah disampaikan kepada masing-masing kepala SPPG untuk segera ditindaklanjuti.
Selain itu, hasil monitoring di lima lokasi tersebut juga akan dilaporkan secara menyeluruh kepada Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai bahan evaluasi program MBG ke depan.
Taruna Ikrar menegaskan bahwa BPOM akan terus melakukan pendampingan dan pengawasan guna memastikan program ini berjalan optimal dan aman bagi masyarakat.
Ia berharap seluruh pihak yang terlibat dapat bekerja sama untuk menjaga kualitas program yang menyasar kelompok rentan tersebut.
“Saya berharap semua pihak dapat bersinergi mendukung keberhasilan program ini,” tutupnya.(*)















