Banjir Bandang Agam Jadi Anomali di Tengah Musim Kemarau, BNPB Soroti Kondisi Sumatera Barat

Banjir Bandang Agam Jadi Anomali di Tengah Musim Kemarau, BNPB Soroti Kondisi Sumatera Barat

Banjir yang melanda Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sabtu (18/7) malam mengakibatkan 70 rumah warga terendam dan ratusan warga terpaksa mengungsi. (Foto: Diskominfo Agam)

Sumbardaily.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyoroti banjir bandang yang melanda Kabupaten Agam, Sumatera Barat, sebagai peristiwa yang tidak biasa di tengah dominasi bencana kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) pada musim kemarau.

Di saat sebagian besar wilayah Indonesia menghadapi keterbatasan air bersih akibat musim kering, Sumatera Barat justru mengalami banjir bandang yang berdampak pada ratusan warga.

Dalam laporan perkembangan bencana periode Sabtu hingga Minggu, 18-19 Juli 2026, dikutip Senin (20/7/2026) BNPB menyebut mayoritas kejadian signifikan di berbagai daerah didominasi kekeringan dan karhutla. Namun, terdapat dua peristiwa yang menjadi perhatian khusus, yakni konflik sosial di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, serta banjir bandang di Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Banjir bandang tersebut terjadi di Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, pada Sabtu (18/7) sekitar pukul 19.45 WIB. Berdasarkan hasil asesmen Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam, banjir dipicu hujan berintensitas tinggi yang disertai pendangkalan aliran Sungai Batang Tumayo sehingga menyebabkan air meluap ke kawasan permukiman warga.

Data sementara menunjukkan sebanyak 90 kepala keluarga (KK) terdampak akibat peristiwa tersebut. Saat banjir terjadi, sebanyak 450 warga harus mengungsi untuk menghindari risiko yang lebih besar.

Seiring kondisi air yang mulai berangsur surut menjelang dini hari, sebagian besar warga yang sempat mengungsi dilaporkan telah kembali ke rumah masing-masing.

Selain kejadian di Sumatera Barat, BNPB juga melaporkan konflik sosial yang terjadi di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Konflik tersebut berlangsung pada Sabtu (18/7) sekitar pukul 06.15 WITA antara masyarakat Dusun Bele, Desa Waiburak, dengan masyarakat Desa Narasaosina.

Peristiwa tersebut mengakibatkan tiga orang meninggal dunia dan tujuh orang lainnya mengalami luka-luka. Selain korban jiwa, kerugian material juga tercatat berupa 20 unit rumah terdampak, satu unit bangunan usaha, serta satu unit sepeda motor.

Merespons kejadian tersebut, Wakil Bupati Flores Timur bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), yang terdiri atas Ketua DPRD, Dandim 1624 Flores Timur, Wakil Kapolres Flores Timur, Sekretaris Daerah, anggota DPRD Kabupaten Flores Timur, personel Kodim 1624 Flores Timur, serta Polres Flores Timur langsung menuju lokasi sekitar pukul 07.30 WITA.

Aparat melakukan langkah persuasif untuk menghentikan bentrokan dan menjaga situasi keamanan di lokasi kejadian. Hingga Minggu (19/7), kondisi di wilayah tersebut masih berada dalam pemantauan dan pengendalian aparat keamanan guna memastikan situasi tetap kondusif.

Beberapa hari sebelum konflik terbaru terjadi, tepatnya Kamis (16/7), Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto bersama Wakil Bupati Flores Timur mengunjungi Kecamatan Adonara Barat untuk meresmikan hunian tetap dan sumur bor pascakonflik antarwarga di Desa Bugalima.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala BNPB juga menjadi saksi ikrar damai antara tokoh masyarakat Desa Bugalima dan Desa Ilepati yang ditandai dengan pertukaran cinderamata berupa sarung di Kantor Kecamatan Adonara Barat.

Di sisi lain, musim kemarau masih memicu bencana kekeringan di sejumlah daerah di Pulau Jawa.

Di Kabupaten Jember, Jawa Timur, kekeringan telah berlangsung sejak awal Juli 2026. Sebanyak 870 kepala keluarga di Desa Sumber Jeruk, Kecamatan Kalisat, serta Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

Pada Sabtu (18/7), BPBD Kabupaten Jember menyalurkan bantuan sebanyak 9.000 liter air bersih ke wilayah terdampak.

Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Pasuruan. Kekeringan melanda Desa Petung, Gerbo, dan Winongan dengan jumlah warga terdampak mencapai 615 kepala keluarga.

BPBD Kabupaten Pasuruan telah mendistribusikan bantuan air bersih sebanyak dua ritase ke Dusun Precet dan Dusun Tegal di Desa Petung pada Sabtu (18/7).

Sementara itu, di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, sebanyak 10.688 warga Kecamatan Kemalang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat menurunnya debit sumber air.

Sebagai bentuk penanganan, BPBD Kabupaten Klaten telah menyalurkan total 285 tangki atau sekitar 1.425.000 liter air bersih selama periode 15 Juni hingga 18 Juli 2026.

BNPB juga mencatat kondisi kekeringan terjadi di Kabupaten Kudus, Boyolali, Banyumas, dan Pemalang di Provinsi Jawa Tengah.

Di Jawa Barat, dampak kekeringan semakin meluas. Kabupaten Bogor mencatat sebanyak 33 desa di 17 kecamatan terdampak dengan jumlah warga mencapai 43.451 jiwa.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menetapkan Status Darurat Bencana Kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan melalui Surat Nomor 360/Kep.307-BPBD/2026 yang berlaku mulai 1 Juli hingga 30 September 2026.

Sebagai upaya penanganan, BPBD Kabupaten Bogor mendistribusikan air bersih ke sejumlah wilayah, yakni Desa Pabuaran di Kecamatan Kemang, Desa Cibanteng di Kecamatan Ciampea, Desa Curug di Kecamatan Jasinga, Desa Sadeng Kolot dan Dusun Leuwisadeng di Kecamatan Leuwisadeng, serta Dusun Tenjo di Kecamatan Tenjo dengan total penyaluran mencapai beberapa ritase sesuai kebutuhan wilayah.

Selain kekeringan, pemerintah pusat juga memantau potensi kebakaran hutan dan lahan di luar enam provinsi prioritas, yaitu Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan.

Salah satu daerah yang menjadi perhatian adalah Aceh. Pada Jumat (17/7) pukul 13.30 WIB, Pos Damkar Meureubo dan BPBD Kabupaten Aceh Barat menerima laporan kebakaran lahan yang berada di dekat permukiman warga di Gampong Gunong Kleng, Kecamatan Meureubo.

Luas lahan yang terbakar mencapai empat hektare, terdiri atas 0,5 hektare di Gampong Gunong Kleng, Kecamatan Meureubo, dan 3,5 hektare di Kecamatan Johan Pahlawan.

Hingga Sabtu (18/7), BPBD Kabupaten Aceh Barat bersama tim pemadam kebakaran masih melakukan penanganan menggunakan dua armada water station. Api di Gampong Gunong Kleng telah berhasil ditangani sekitar 95 persen, sedangkan kebakaran di Gampong Lapang masih dalam proses pemadaman.

BNPB mengimbau masyarakat agar meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi kering selama musim kemarau.

"Isi cadangan air saat pasokan masih tersedia, gunakan air sesuai kebutuhan, perbaiki keran atau pipa yang bocor, dan gunakan kembali air bekas yang masih layak (misalnya air cucian sayur untuk menyiram tanaman)."

BNPB juga mengingatkan masyarakat untuk tetap mewaspadai potensi bencana geologi seperti gempa bumi yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

"Masyarakat diharapkan menyiapkan tas siaga bencana sebagai langkah kesiapsiagaan dan senantiasa memantau pembaruan informasi dari sumber resmi dan terpercaya seperti BNPB, BPBD dan BMKG." (*)

Baca Juga

El Nino Menguat, Sumatera Barat Masih Berpotensi Diguyur Hujan Sedang hingga 23 Juli
El Nino Menguat, Sumatera Barat Masih Berpotensi Diguyur Hujan Sedang hingga 23 Juli
El Nino Kian Menguat, Sebagian Besar Wilayah Indonesia Masih Dilanda Kemarau
El Nino Kian Menguat, Sebagian Besar Wilayah Indonesia Masih Dilanda Kemarau
Rumah Huntap Korban Siklon Senyar di Sumbar Rampung, BNPB Mulai Serahkan Kunci
Rumah Huntap Korban Siklon Senyar di Sumbar Rampung, BNPB Mulai Serahkan Kunci
Huntap Mandiri Pertama di Kota Pariaman Diserahkan kepada Korban Bencana Hidrometeorologi
Huntap Mandiri Pertama di Kota Pariaman Diserahkan kepada Korban Bencana Hidrometeorologi
Harapan Korban Bencana Padang Pariaman Terwujud, Pembangunan 685 Huntap Resmi Dimulai
Harapan Korban Bencana Padang Pariaman Terwujud, Pembangunan 685 Huntap Resmi Dimulai
Wakil Wali Kota (Wawako) Padang Maigus Nasir menyerahkan bantuan sosial kepada korban kebakaran rumah di Jalan Raya Banuaran, Kecamatan Lubuk Begalung.
Korban Terdampak Kebakaran di Banuaran Padang Terima Bantuan Rp10 Juta, Warga Diminta Waspada Ancaman Kemarau