Sumbardaily.com – Mantan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus mantan Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Gamawan Fauzi, mengusulkan agar nama-nama tokoh berpengaruh asal Ranah Minang diabadikan sebagai nama jalan di Sumbar.
Usulan tersebut disampaikan Gamawan melalui artikelnya berjudul Pemberian Nama Jalan yang diterbitkan Minangsatu.com pada Kamis (1/10/2026). Ia menilai Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar sudah perlu memikirkan penamaan jalan secara lebih serius, mengingat masih terdapat banyak ruas jalan di Sumbar yang belum memiliki nama resmi.
Menurut Gamawan, pengabadian jasa tokoh dan pahlawan daerah tidak seharusnya berhenti melalui penulisan sejarah dalam buku. Nama mereka, katanya, dapat ditempatkan pada fasilitas publik sehingga keberadaan dan jasa para tokoh tersebut tetap dikenal masyarakat.
"Kehebatan (tokoh-tokoh) itu tidaklah cukup dinukilkan dalam sebuah buku, tapi selayaknya diterjemahkan dalam bentuk yang lebih luas. Salah satunya adalah dengan mencantumkan nama tokoh atau pahlawan itu dalam berbagai fasilitas publik," tulis Gamawan, dilansir dari Minangsatu.com, Sabtu (3/10/2026).
Ia juga menyoroti kondisi penamaan jalan di Sumbar, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota. Selain masih ada jalan yang belum mempunyai nama, menurut Gamawan, sejumlah nama jalan yang telah digunakan juga dapat dievaluasi mengikuti perkembangan zaman.
"Di Sumatera Barat atau di Kota dan Kabupaten masih banyak jalan yang belum memiliki nama, ataupun bila telah bernama, layak dievaluasi sesuai perkembangan masa," tegasnya.
Usulkan Nama Sejumlah Tokoh
Dalam tulisannya, Gamawan turut menyebut sejumlah tokoh yang menurutnya layak dipertimbangkan sebagai nama jalan di Sumbar.
Beberapa nama yang diusulkan antara lain AK. Gani, Mr. Asaat, Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Syekh Muhammad Yasin Al Fadani, Rahmah El Yunusiah, dan Siti Manggopoh.
Selain itu, Gamawan menyebut lima mantan Gubernur Sumbar yang menurutnya juga layak dipertimbangkan untuk menjadi nama jalan. Kelima tokoh tersebut yakni Kaharuddin Dt. Rangkayo Basa, Harun Zain, Azwar Anas, Hasan Basri Durin, dan Zainal Bakar.
Usulan itu disampaikan Gamawan dalam konteks pentingnya negara mengatur kehidupan masyarakat agar berlangsung secara teratur berdasarkan falsafah bernegara dan konstitusi. Ia melihat nama jalan yang digunakan saat ini sebagian merupakan warisan dari masa lalu dengan periode penamaan yang berbeda-beda.
"Salah satu tugas negara adalah mengatur agar hidup teratur berdasarkan falsafah bernegara dan konstitusi. Saat ini sebagian besar nama jalan adalah sebuah warisan masa lalu yang waktunya amat beragam. Ada yang diwarisi sejak awal kemerdekaan dan ada juga yang sudah beberapa kali diperbarui," jelas Gamawan.
Mantan Bupati Solok periode 1995-2005 itu kemudian mendorong adanya evaluasi terhadap nama jalan yang telah ada sekaligus pemberian nama untuk ruas jalan yang hingga kini belum memiliki nama resmi.
Menurutnya, evaluasi maupun penamaan jalan baru tersebut dapat menjadi salah satu perhatian pemerintah daerah, khususnya dalam momentum HUT ke-81 Sumbar.
"Saat ini tak banyak daerah di indonesia melakukan evaluasi terhadap nama jalan yang sudah ada atau menamai jalan baru, saya kira dalam menyambut HUT Sumbar ke 81, ada baiknya pemerintah daerah memikirkan untuk memberi nama setiap jalan yang ada di daerah masing-masing. Utamakanlah memberinya dengan nama tokoh yang berjasa dari Ranah Minang," harapnya.
Tak Ingin Gagasan Dianggap Etnosentris
Gamawan menyadari usulan penggunaan nama tokoh asal Ranah Minang sebagai nama jalan dapat dikaitkan dengan upaya mengangkat identitas daerah. Namun, ia menegaskan gagasan tersebut tidak dimaksudkan sebagai sikap etnosentris ataupun sekadar upaya membesar-besarkan daerah asal.
Ia mengatakan masyarakat Sumbar sudah semestinya ikut memperjuangkan marwah tokoh-tokoh yang berasal dari daerah tersebut.
"Ini bukan berarti saya terjangkit paham 'Padang Disease' atau etnosentris dan premordialisme Minangkabau berlebihan, tapi siapa lagi bila bukan kita membesarkannya?," sebutnya.
Dalam tulisannya, Gamawan juga menempatkan gagasan penamaan jalan tersebut sebagai sebuah pemikiran sederhana, bukan sebagai gagasan besar yang secara khusus dibuat dalam momentum ulang tahun ke-81 Sumbar.
Ia berharap gagasan tersebut tetap dapat menjadi bahan pemikiran bagi pemerintah daerah maupun masyarakat, meskipun menurutnya usulan itu bersifat kecil dan hanya menjadi bagian dari berbagai hal yang berkaitan dengan peringatan HUT Sumbar.
"Pikiran ini bukan gagasan besar menyambut ulang tahun ke 81 tahun Sumbar. Tapi meskipun kecil dan pernak-pernik, saya berharap tulisan ini menjadi bermakna untuk di kunyah -kunyah. Kadang yang kecil itu indah juga. 'Small is beautiful'," tutupnya. (*)
















