Sumbardaily.com, Padang – Hari ketiga gelaran Pekan Nan Tumpah (PNT) 2025 resmi berakhir pada Selasa (26/8/2025). Seperti hari-hari sebelumnya, rangkaian acara seni yang dihadirkan terus menjadi magnet bagi masyarakat, baik dari Padang maupun daerah lain. Dari pameran, pelatihan interaktif, diskusi seni, hingga pertunjukan lintas genre, semua dirangkai untuk menghidupkan suasana seni yang dinamis sekaligus membuka ruang pertemuan antara seniman dan publik.
Kegiatan hari ketiga dibuka pukul 10.00 WIB dengan pameran seni yang berlangsung hingga malam hari. Pameran ini kembali menjadi titik temu pengunjung, menghadirkan karya seniman lokal dan nasional dengan beragam medium dan perspektif. Sejak awal, pameran tersebut menjadi denyut utama PNT, mengantar masyarakat menikmati sekaligus memahami seni dalam konteks yang lebih luas.
Memasuki pukul 13.30 WIB, perhatian publik tertuju pada pelatihan unik bertajuk “Melukis di Media Terserah”. Tiga seniman dari kolektif Silo Tigo, yaitu Olimsyaf Putra Asmara, Imam Teguh, dan Boy Nistil, hadir sebagai fasilitator. Sambutan peserta di luar perkiraan panitia. Jumlah yang awalnya diperkirakan belasan orang, melonjak hingga membuat ruang pelatihan penuh sesak.
“Saya tidak menyangka peserta yang datang bisa sebanyak ini. Awalnya hanya 12 orang, tetapi terus bertambah sampai panitia sedikit kewalahan. Meski begitu, ini kabar baik karena menandakan minat masyarakat terhadap seni lukis masih sangat tinggi,” ujar Olimsyaf.
Bersamaan dengan pelatihan tersebut, pengunjung juga diajak mengikuti tur kuratorial yang dipandu oleh Nessya Fitryona dan Mahatma Muhammad. Dalam tur itu, publik diajak mendalami gagasan di balik karya-karya pameran, sehingga pengalaman seni tidak hanya berhenti pada visual, tetapi juga pada pemaknaan yang lebih mendalam.
Selepas tur, audiens diarahkan menuju area diskusi seni yang dipandu oleh Diah Risqiqa, pembawa acara PNT 2025. Diskusi dipandu oleh Misza Oktafiani dengan menghadirkan dua narasumber, Iswandi dan Albert Rahman Putra. Tema besar pameran tahun ini, “Seni Murni Seni Terapan Seni Terserah: Jika Kamu Paham Semua Ini, Mungkin Kamu Salah Paham”, menjadi bahan bahasan menarik yang menggugah cara pandang publik terhadap dunia seni.
Suasana semakin semarak saat giliran SMK Penerbangan Nusantara tampil dalam program Nan Tumpah Masuk Sekolah (NTMS). Parade marching band yang mereka sajikan memicu antusiasme penonton, disusul penampilan Katumbak Anak Abak dengan musik tradisional Minangkabau yang menggetarkan ruang pertunjukan.
Menjelang malam, Galanggang Dance menghadirkan karya tari kontemporer bertajuk “Lingkaran Dalam Gelap”. Keunikan karya ini terletak pada penggunaan cahaya senter di kepala dan tangan penari, menciptakan atmosfer magis sekaligus eksperimental. Sebagai penutup, Indonesia Performance Syndicate (IPS) menampilkan teater “Perempatan Perempuan”. Pertunjukan ini sukses memikat penonton lewat tema yang relevan dan penyajian artistik yang kuat.
Agenda Hari Keempat
PNT 2025 berlanjut pada Rabu (27/8/2025) dengan rangkaian acara yang tak kalah beragam. Agenda pagi dimulai pukul 10.00 WIB dengan pameran seni serta diskusi buku “Mandulang Cinto” karya Hasbunallah Haris, menghadirkan Arif P. Putra dan Alizar Tanjung sebagai pembahas.
Pukul 13.30 WIB, publik akan disuguhi dua agenda bersamaan. Diskusi buku “Cara Kerja Tuhan” karya Maulidan Rahman Siregar akan diulas oleh Ilhamdi Sulaiman dan Yona Primadesi, sementara di area lain, Nona Jewelry memandu pelatihan kreatif “Membuat Mozaik dari Manik”.
Menjelang sore, pukul 16.00 WIB, panggung eksibisi dibuka dengan pertunjukan teater “Retak Logos di Negeri Huruf” dari SMA Negeri 2 Gunung Talang. Sesi ini berlanjut dengan tari “Buai Buai” dari Sanggar Tari Kasang Saiyo, serta pertunjukan “Fatamorgana” oleh Komunitas Seni Punago.
Malam hari diwarnai pemutaran film “Cukup Sudi Untuk Rayu” karya Halvika Padma, dilanjutkan dengan dua karya kontemporer, yaitu “Nata Sukma” dari Tatang R. Macan dan “Sonic Matter” karya Taufik Adam. Dua karya ini diperkirakan memberi pengalaman multisensori yang tak terlupakan.
Ruang Ekspresi dan Kolaborasi
Melalui beragam agenda harian, Pekan Nan Tumpah 2025 membuktikan diri sebagai ruang perayaan seni lintas media, lintas generasi, dan lintas disiplin. Tidak hanya menampilkan karya, acara ini juga menjadi medium interaksi antara seniman dan publik, sekaligus ruang belajar bagi siapa pun yang ingin menyelami dunia seni lebih dalam.
Dengan perpaduan antara seni tradisi, kontemporer, hingga eksperimen, PNT 2025 terus memperlihatkan wajah seni yang inklusif dan terbuka. Gelaran ini sekaligus menegaskan bahwa seni bukan hanya tontonan, melainkan juga ruang perjumpaan, percakapan, dan perayaan atas keberagaman gagasan. (red)
















