Sumbardaily.com – Perkembangan pembangunan Interchange Lubuk Alung pada ruas Tol Padang–Sicincin menunjukkan kemajuan signifikan. Hingga akhir Februari 2026, proyek yang dibangun untuk membuka akses langsung menuju Nagari Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman tersebut telah mencapai progres konstruksi sebesar 21,07 persen.
Proyek yang dikerjakan oleh PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI) ini dirancang untuk mempermudah mobilitas masyarakat sekaligus meningkatkan konektivitas antara jalan tol dan kawasan permukiman serta pusat aktivitas di Lubuk Alung.
Direktur Operasi III HKI, Novendra Jaya, menyampaikan bahwa interchange ini nantinya menjadi titik keluar bagi pengguna Tol Padang–Sicincin yang hendak menuju kawasan Lubuk Alung.
“Nantinya, pengguna Jalan Tol Padang–Sicincin dapat mengambil jalan keluar di IC Lubuk Alung yang terletak di KM 19+000 jika hendak menuju pemukiman atau pusat aktivitas lain di Lubuk Alung,” ujarnya.
Interchange tersebut dibangun dengan akses jalan sepanjang 3 kilometer yang akan menghubungkan ruas tol langsung dengan kawasan Nagari Lubuk Alung.
Dalam proses pembangunan, HKI telah melaksanakan pekerjaan penting berupa erection girder atau pemasangan balok penyangga jembatan interchange. Pekerjaan ini dilakukan pada jalan tol sisi B pada 23–24 Februari 2026, kemudian dilanjutkan pada sisi A pada 2–3 Maret 2026.
Girder yang digunakan merupakan beton prategang yang dihubungkan menggunakan tendon sehingga membentuk satu kesatuan balok penyangga jembatan. Metode ini dipilih untuk meningkatkan efisiensi proses konstruksi di lapangan.
Selain itu, HKI juga memanfaatkan load scanner untuk mengukur volume material yang disuplai ke lokasi proyek secara lebih presisi. Teknologi tersebut digunakan guna menekan potensi pemborosan material selama proses pembangunan.
Dalam pelaksanaannya, HKI menerapkan prinsip green construction atau pembangunan ramah lingkungan. Desain proyek tetap memperhatikan tata guna lahan masyarakat seperti sawah dan kebun, serta memastikan saluran irigasi tetap berfungsi selama proses pembangunan berlangsung.
Perusahaan juga mewajibkan setiap alat berat memiliki emission pass guna mengendalikan emisi yang dihasilkan selama pekerjaan konstruksi. Selain itu, jumbo bag digunakan untuk melindungi timbunan material agar tidak larut terbawa air hujan dan menghindari sedimentasi pada lahan persawahan maupun saluran irigasi milik warga.
Meski demikian, pembangunan proyek ini memiliki tantangan tersendiri. Salah satu kendala utama adalah sebagian pekerjaan dilakukan di area yang bersinggungan langsung dengan jalan tol yang telah beroperasi.
Kondisi tersebut membuat aspek keselamatan menjadi perhatian utama selama pekerjaan berlangsung. HKI pun melakukan berbagai langkah mitigasi risiko sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan proyek.
“HKI melakukan mitigasi risiko sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan, memperketat pengendalian keselamatan kerja, serta meningkatkan koordinasi operasional dengan pihak terkait dan para vendor agar pekerjaan dapat berlangsung aman tanpa mengganggu keselamatan maupun kelancaran lalu lintas,” tambah Novendra Jaya.
HKI menegaskan komitmennya untuk terus menjaga kualitas pekerjaan sekaligus memperkuat koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar pembangunan Interchange Lubuk Alung dapat selesai sesuai target.
Keberadaan akses baru ini diharapkan memberikan dampak positif bagi masyarakat di Sumatera Barat, khususnya dalam meningkatkan kelancaran mobilitas serta distribusi logistik.
Selain itu, konektivitas antara wilayah Padang, Bukittinggi, hingga Pariaman juga diproyeksikan semakin lancar sehingga dapat mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut.
“Keberadaan IC ini diharapkan memperlancar mobilitas masyarakat dan distribusi logistik serta pemerataan ekonomi di wilayah Sumatera Barat khususnya Padang, Bukittinggi, hingga Pariaman,” tutup Novendra. (*)
















