Tak Hanya Paru-paru, Polusi Udara Bisa Berdampak ke Jantung dan Otak

Tak Hanya Paru-paru, Polusi Udara Bisa Berdampak ke Jantung dan Otak

Ilustrasi penyakit Influenza A. (Dok. Halodoc)

Sumbardaily.com – Polusi udara selama ini kerap dikaitkan dengan gangguan pada sistem pernapasan. Namun, paparan udara yang tercemar ternyata tidak hanya berisiko terhadap paru-paru. Gangguan akibat polusi juga dapat berkaitan dengan kondisi pembuluh darah hingga berdampak pada kesehatan jantung dan otak.

Guru Besar bidang Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand), Prof. Hardisman, menjelaskan bahwa dampak tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat, khususnya kelompok yang memiliki kerentanan terhadap gangguan pernapasan.

Menurutnya, penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) termasuk kelompok yang perlu lebih waspada ketika kualitas udara memburuk.

"Tubuh sebenarnya memiliki mekanisme pertahanan untuk menghadapi zat asing yang masuk melalui saluran pernapasan. Salah satu bentuk respons awal tubuh terhadap paparan tersebut adalah munculnya iritasi yang dapat ditandai dengan batuk," jelasnya dikutip Jumat (2/10/2026).

Persoalan dapat muncul apabila seseorang terus-menerus terpapar udara tercemar. Dalam kondisi tersebut, keluhan yang dirasakan tidak selalu langsung hilang setelah seseorang menjauh dari sumber pencemaran. Keluhan bahkan dapat menetap meskipun paparan telah berakhir.

Paparan zat berbahaya yang masuk lebih dalam ke saluran pernapasan juga dapat menimbulkan sesak napas. Kondisi ini menjadi perhatian lebih bagi penderita asma dan PPOK karena polusi udara dapat memperburuk keluhan yang sudah ada sekaligus meningkatkan risiko terjadinya serangan yang lebih berat.

Namun, dampak polusi udara tidak berhenti pada sistem pernapasan. Hardisman menjelaskan, zat pencemar juga dapat memengaruhi organ tubuh lainnya melalui gangguan pada pembuluh darah.

Paparan polutan dapat memicu sejumlah proses fisiologis dan patofisiologis yang berhubungan dengan kerusakan pembuluh darah. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan pembentukan plak yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko terhadap kesehatan jantung dan otak.

Karena itu, tingkat risiko yang diterima tubuh tidak dapat hanya dilihat dari seberapa lama seseorang berada di tengah kondisi udara tercemar. Ada sejumlah faktor lain yang turut menentukan dampak paparan.

Hardisman menyebut konsentrasi zat pencemar, jenis polutan, serta kondisi kesehatan seseorang sebagai beberapa faktor yang memengaruhi tingkat risiko. Artinya, paparan dengan durasi yang sama belum tentu memberikan dampak yang sama kepada setiap orang.

"Jenis polutan yang terdapat di udara juga dapat berbeda-beda berdasarkan sumber pencemar. Asap yang berasal dari aktivitas industri, kebakaran rumah, maupun kebakaran hutan dapat membawa kandungan zat yang berbeda," ungkapnya.

Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh material yang terbakar serta tingkat kesempurnaan proses pembakaran. Dalam proses pembakaran yang tidak sempurna, misalnya, dapat terbentuk karbon monoksida atau CO.

Zat tersebut memiliki risiko tersendiri bagi tubuh karena dapat mengganggu kemampuan hemoglobin dalam membawa oksigen. Akibatnya, pasokan oksigen yang dibutuhkan jaringan tubuh dapat mengalami hambatan.

Selain karbon monoksida, paparan dalam jangka panjang terhadap zat hasil pembakaran yang bersifat karsinogen juga perlu diperhatikan. Paparan terhadap zat tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker.

Untuk menekan risiko akibat polusi udara, Prof. Hardisman menyarankan masyarakat membatasi kegiatan di luar ruangan ketika kualitas udara sedang memburuk. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi jumlah paparan terhadap polutan yang masuk ke tubuh.

Meski demikian, mengurangi aktivitas di luar rumah bukan berarti persoalan paparan polusi otomatis selesai. Kualitas udara di dalam ruangan juga perlu diperhatikan karena polutan yang berasal dari luar tetap dapat masuk ke dalam rumah.

Bagi masyarakat yang harus tetap beraktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk, penggunaan masker dengan kemampuan filtrasi tinggi dapat menjadi salah satu upaya untuk mengurangi paparan. Salah satu jenis masker yang disebut dapat membantu menyaring partikel halus, khususnya PM2.5, adalah N95.

"Selain melakukan pencegahan, masyarakat juga perlu mengenali perubahan kondisi tubuh ketika berada dalam lingkungan dengan kualitas udara yang buruk. Beberapa keluhan yang patut diperhatikan antara lain sesak napas, batuk berat, hingga pusing, kata Hardisman.

Ketika gejala tersebut muncul, langkah awal yang perlu dilakukan adalah segera menjauh dari sumber pencemaran dan mencari tempat dengan kualitas udara yang lebih baik.

Namun, berpindah ke lokasi dengan udara yang lebih segar tidak selalu cukup apabila paparan polusi sudah menyebabkan gangguan pernapasan dan menghambat pemenuhan kebutuhan oksigen tubuh.

Dalam kondisi ketika gangguan pernapasan semakin berat, masyarakat perlu segera mencari pertolongan di fasilitas pelayanan kesehatan. Penanganan medis menjadi penting ketika keluhan tidak lagi dapat diatasi hanya dengan mengurangi paparan terhadap udara tercemar.

Lebih jauh Hardisman kembali menekankan bahwa kelompok rentan membutuhkan perhatian lebih dalam menghadapi penurunan kualitas udara. Penderita asma dan PPOK menjadi kelompok yang perlu melakukan langkah perlindungan secara lebih serius karena memiliki risiko mengalami perburukan keluhan pernapasan.

“Perlindungan dari polusi udara perlu mendapat perhatian lebih besar pada kelompok rentan, termasuk penderita asma dan PPOK. Mengenali risiko, mengurangi paparan, dan segera mencari pertolongan ketika keluhan memburuk menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan di tengah kualitas udara yang menurun,” sebutnya. (*)

Baca Juga

Cuaca Sumbar Awal Oktober 2026, 4 Daerah Diprediksi Hujan Bawah Normal
Cuaca Sumbar Awal Oktober 2026, 4 Daerah Diprediksi Hujan Bawah Normal
Profil Irjen Jawari, Kapolda Sumbar Baru Lulusan Akpol 1990 dengan Karier Panjang di Polri
Profil Irjen Jawari, Kapolda Sumbar Baru Lulusan Akpol 1990 dengan Karier Panjang di Polri
Banyak Jalan di Sumbar Belum Bernama, Gamawan Fauzi Usul Nama Tokoh Minang
Banyak Jalan di Sumbar Belum Bernama, Gamawan Fauzi Usul Nama Tokoh Minang
ASN Padang Diingatkan tak Ada Gerakan Tambahan, Kerja Harus Sesuai Tugas dan Aturan
ASN Padang Diingatkan tak Ada Gerakan Tambahan, Kerja Harus Sesuai Tugas dan Aturan
Dubalang Kelurahan Berok Nipah menerima penghargaan dari Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi
Cerita Dubalang Berok Nipah Padang jadi Garda Depan Perangi Narkoba dari Lingkungan Warga
81 Tahun Sumbar, Capaian Pembangunan Berjalan di Tengah Risiko Bencana
81 Tahun Sumbar, Capaian Pembangunan Berjalan di Tengah Risiko Bencana