Sumbardaily.com - Kabut asap dan penurunan kualitas udara tidak membuat proses belajar mengajar (PBM) di sejumlah sekolah di Kota Padang dihentikan.
Aktivitas pembelajaran tetap berlangsung di dalam kelas, tetapi sekolah menerapkan sejumlah pembatasan untuk melindungi siswa dan guru dari risiko gangguan kesehatan, khususnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Penerapan kebijakan tersebut dilakukan di antaranya di SD Negeri 34 Simpang Haru dan SMP Negeri 30 Padang.
Langkah itu merupakan tindak lanjut dari imbauan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Padang menyusul kondisi cuaca buruk serta penurunan kualitas udara yang dipengaruhi asap dan abu vulkanik.
Salah satu aturan yang diterapkan adalah kewajiban menggunakan masker bagi seluruh siswa dan guru. Penggunaan masker menjadi perhatian khusus ketika warga sekolah berada di area terbuka maupun pekarangan sekolah.
Sementara itu, berbagai kegiatan yang mengharuskan siswa berada di luar ruangan untuk sementara ditiadakan. Aktivitas seperti olahraga, upacara dan senam tidak dilaksanakan selama kondisi kualitas udara masih menjadi perhatian.
Kebijakan tersebut tidak berarti kegiatan pendidikan di sekolah berhenti. PBM tetap berjalan secara efektif di dalam ruang kelas sehingga siswa masih dapat mengikuti kegiatan pembelajaran dengan tetap memperhatikan aspek kesehatan dan keselamatan.
Kepala SD Negeri 34 Simpang Haru, Zulmarlaini mengatakan, penerapan kewajiban masker di sekolah berjalan dengan baik.
Pihak sekolah juga menyiapkan masker cadangan untuk siswa yang datang tanpa membawa perlengkapan tersebut.
"Penerapan penggunaan masker saat ini berjalan sangat efektif. Bagi siswa yang belum membawa masker, kami terus mengimbau dan pihak sekolah juga menyediakan cadangan masker," katanya, Selasa (15/9/2026).
Menurut Zulmarlaini, sekolah juga mengambil langkah pencegahan dengan menghentikan sementara kegiatan yang berlangsung di luar kelas.
Kebijakan tersebut diterapkan terhadap sejumlah kegiatan rutin yang berpotensi membuat siswa terpapar udara luar lebih lama.
"Selain itu, seluruh kegiatan di luar kelas seperti olahraga, upacara, dan senam ditiadakan sementara demi kesehatan anak-anak dari ancaman ISPA," ucapnya.
Langkah serupa diterapkan di SMP Negeri 30 Padang. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Negeri 30 Padang, Dian Putra, menyebut tingkat kepatuhan siswa terhadap penggunaan masker telah mencapai sekitar 90 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan sebagian besar siswa telah mengikuti arahan sekolah terkait perlindungan diri selama kualitas udara memburuk. Di sisi lain, proses pembelajaran tetap dilaksanakan seperti biasa di dalam kelas.
"Tingkat kepatuhan siswa kami sudah mencapai sekitar 90 persen. Proses PBM tetap berjalan efektif di dalam kelas, hanya saja seluruh kegiatan lapangan ditiadakan. Fokus kami adalah memastikan anak-anak tetap belajar dengan aman," ujar Dian.
Dengan pola tersebut, sekolah tidak memilih menghentikan kegiatan pembelajaran secara keseluruhan.
Penyesuaian justru dilakukan terhadap aktivitas yang memiliki paparan langsung dengan kondisi lingkungan luar sekolah.
Dian menegaskan fokus sekolah saat ini adalah menjaga agar kegiatan pendidikan tetap berjalan tanpa mengabaikan faktor kesehatan siswa.
Karena itu, aktivitas lapangan ditiadakan sementara, sedangkan pembelajaran di ruang kelas tetap dilaksanakan.
Dari sisi siswa, kebijakan penggunaan masker juga dinilai tidak menjadi hambatan dalam mengikuti pembelajaran.
Duta Digital SMP Negeri 30 Padang, Ignacia Noyasiva mengatakan, para siswa mengikuti arahan guru sebagai bentuk kepatuhan terhadap langkah pencegahan yang diberlakukan sekolah.
"Kami dari pihak siswa tentu mematuhi arahan guru-guru demi kebaikan bersama. Sejauh ini penggunaan masker sama sekali tidak mengganggu proses belajar kami di dalam kelas," ucapnya.
Selain menerapkan aturan di lingkungan sekolah, pihak sekolah juga mengimbau orang tua atau wali murid mengambil peran sejak anak meninggalkan rumah.
Anak-anak diharapkan sudah menggunakan masker sejak berangkat, tetap memakainya selama berada di sekolah, hingga dalam perjalanan pulang.
Imbauan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga perlindungan siswa secara menyeluruh, mengingat paparan udara tidak hanya terjadi ketika mereka berada di dalam lingkungan sekolah.
Penggunaan masker sejak dari rumah diharapkan dapat membantu mengurangi paparan selama perjalanan.
Di tengah kondisi kualitas udara yang menurun akibat asap dan abu vulkanik, sekolah di Padang dengan demikian memilih mempertahankan kegiatan belajar dengan sejumlah penyesuaian.
Ruang kelas tetap menjadi pusat kegiatan PBM, sementara kegiatan luar ruangan dihentikan sementara.
Kebijakan itu sekaligus menempatkan kesehatan siswa dan guru sebagai pertimbangan utama tanpa menghentikan hak siswa untuk tetap mendapatkan proses pembelajaran.
Sekolah terus mengingatkan penggunaan masker dan membatasi aktivitas di luar ruangan sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman ISPA. (*)
















