Sumbardaily.com - Ketahanan nasional tidak hanya dibangun melalui kekuatan pertahanan dan keamanan. Perguruan tinggi juga memiliki ruang strategis untuk memperkuat kemandirian bangsa melalui riset, inovasi, pengembangan sumber daya manusia, hingga pemanfaatan potensi lokal.
Universitas Andalas (Unand) menunjukkan kontribusi tersebut melalui berbagai hasil penelitian yang diarahkan untuk menjawab kebutuhan nasional.
Mulai dari pengembangan potensi gambir hingga produk kesehatan, inovasi yang lahir dari lingkungan akademik Unand terus didorong agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
Hal itu terungkap dalam program Lemhannas Goes to Campus yang digelar di Convention Hall Unand, Kamis (3/9/2026) pagi.
Kegiatan yang diselenggarakan Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhanas RI) tersebut dikemas dalam bentuk kuliah umum dengan menghadirkan Gubernur Lemhanas RI, Ace Hasan Syadzily.
Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk melihat ketahanan nasional dari perspektif yang lebih luas. Di lingkungan perguruan tinggi, ketahanan nasional dapat diwujudkan melalui kemampuan menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang mendukung kemandirian Indonesia.
Rektor Unand, Efa Yonnedi, dalam sambutannya menjelaskan kontribusi kampus dalam mendukung ketahanan nasional salah satunya dilakukan melalui riset di bidang ketahanan pangan.
Unand terus mengembangkan penelitian sekaligus produk yang memanfaatkan potensi sumber daya lokal Indonesia.
Upaya tersebut diarahkan agar kekayaan sumber daya yang dimiliki Indonesia tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk yang mempunyai nilai tambah.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Tinta Merah Putih. Selain itu, Unand juga memberikan perhatian terhadap gambir yang memiliki beragam peluang pemanfaatan.
Komoditas yang lekat dengan Sumatera Barat tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk turunan.
Pemanfaatannya tidak hanya terbatas pada satu sektor, tetapi dapat diarahkan ke bidang obat-obatan hingga pangan.
“Gambir memiliki banyak produk turunan yang masih bisa dikembangkan, baik untuk obat-obatan maupun makanan. Ini terus kita teliti, sehingga ke depan diharapkan akan semakin banyak produk yang dapat dihasilkan dari gambir,” ucapnya.
Masuk e-Katalog
Kontribusi Unand terhadap ketahanan nasional juga terlihat dari sektor kesehatan. Kampus tersebut tidak hanya menghasilkan penelitian untuk kepentingan akademik, tetapi juga mengembangkan produk yang dapat mendukung kebutuhan kesehatan nasional.
Saat ini, terdapat sekitar 30 produk riset Unand yang telah tersedia dalam e-Katalog.
Produk tersebut mencakup reagent test untuk Tuberkulosis (TBC) dan reagent test Human Papillomavirus (HPV). Kehadiran produk-produk tersebut menjadi bagian dari upaya Unand untuk mendorong hasil penelitian agar memiliki pemanfaatan yang lebih konkret.
Pengembangan produk kesehatan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana perguruan tinggi dapat mengambil bagian dalam membangun ketahanan nasional melalui bidang yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Ketahanan kesehatan menjadi salah satu bagian penting dari kemampuan sebuah negara dalam menghadapi berbagai tantangan.
Karena itu, pengembangan hasil riset menjadi produk yang dapat digunakan merupakan langkah untuk memperkuat kemandirian nasional.
Pada kesempatan yang sama, Gubernur Lemhanas, Ace Hasan Syadzily yang menjadi keynote speaker dalam kegiatan tersebut, menekankan bahwa generasi muda memiliki posisi penting dalam menghadapi tantangan Indonesia ke depan.
“Tumpuan masa depan bangsa ini ada pada anak muda,” katanya.
Menurut Ace Hasan, posisi Indonesia yang berada di persilangan ekonomi dunia serta memiliki sumber daya alam melimpah membuat negara ini mempunyai nilai strategis.
Pada saat bersamaan, kondisi tersebut juga menjadikan Indonesia bagian dari perebutan pengaruh berbagai kekuatan dunia.
Karena itu, mahasiswa sebagai bagian dari generasi muda perlu memiliki pemahaman terhadap geopolitik. Mereka juga dituntut mampu menempatkan kepentingan Indonesia pada posisi strategis di tengah perubahan global.
“Pemuda memiliki peran besar dalam menentukan ke mana arah negara ini,” ujarnya.
Ace Hasan juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi menghadirkan dua sisi sekaligus. Di satu sisi, teknologi dapat menjadi instrumen untuk mendukung kehidupan dan pembangunan.
Namun, di sisi lain, perkembangan tersebut dapat menjadi ancaman apabila manusia justru kehilangan kendali terhadap sistem yang diciptakannya.
“Kita harus menempatkan teknologi sebagai instrumen, bukan tujuan. Jangan sampai secara tidak sadar kita justru menjadi produk dari sistem yang kita ciptakan,” ucapnya.
Perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan sumber daya manusia yang mampu menggunakan teknologi. Kampus juga memiliki tantangan untuk menghasilkan riset dan inovasi yang menjawab persoalan nyata serta tetap berpijak pada kepentingan nasional.
Ace Hasan menjelaskan ketahanan nasional tidak hanya bergantung pada kekuatan militer.
Terdapat delapan aspek yang saling berkaitan, yakni ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, sumber kekayaan alam, demografi serta geografi.
Aspek sosial budaya, menurutnya, memiliki peran penting dalam membentuk sumber daya manusia yang unggul. Kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu faktor yang menentukan kemampuan bangsa menghadapi berbagai tantangan.
Karena itu, mahasiswa didorong memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat sekaligus memahami dinamika geopolitik. Nasionalisme juga perlu terus diperkuat ketika kehidupan global semakin borderless.
Nilai kebangsaan tersebut dapat dibangun dari kekuatan budaya yang telah hidup di tengah masyarakat.
Ace Hasan mencontohkan falsafah masyarakat Sumatera Barat (Sumbar), “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”, sebagai salah satu nilai yang dapat menjadi kekuatan dalam membentuk karakter masyarakat.
Institusi pendidikan juga didorong untuk menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan akademik.
Nilai tersebut tidak cukup hanya dipelajari secara konseptual, tetapi harus dihayati dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Nilai-nilai Pancasila harus terus diinternalisasi dan menjadi bagian penting dalam pendidikan, termasuk melalui pembelajaran di perguruan tinggi,” katanya.
Komitmen Unand tidak hanya ditunjukkan melalui riset dan inovasi. Dalam rangkaian kegiatan Lemhanas Goes to Campus tersebut, Unand juga melakukan penanaman pohon Andalas dan Tabebuya sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-70.
Penanaman pohon tersebut menjadi simbol komitmen kampus dalam menjaga lingkungan dan membangun keberlanjutan di lingkungan perguruan tinggi.
Peran Unand dalam ketahanan nasional dapat hadir melalui berbagai bidang.
Riset pangan diarahkan untuk mengoptimalkan potensi sumber daya lokal, penelitian kesehatan dikembangkan menjadi produk yang dapat dimanfaatkan, sementara pendidikan menjadi ruang untuk membentuk generasi yang memiliki kompetensi sekaligus kesadaran kebangsaan.
Melalui Lemhannas Goes to Campus, Unand menjadi ruang pertemuan antara gagasan tentang ketahanan nasional dengan praktik yang berkembang di lingkungan perguruan tinggi.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, kontribusi tersebut menjadi penting. Perguruan tinggi tidak hanya dituntut mencetak lulusan, tetapi juga menghasilkan pengetahuan, inovasi, dan sumber daya manusia yang mampu memperkuat kepentingan nasional.
Bagi Unand, pengembangan riset dan inovasi menjadi salah satu cara untuk memastikan potensi lokal Indonesia dapat memberikan nilai tambah sekaligus mendukung kemandirian bangsa. (*)
















