Sumbardaily.com - Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai menjadi bagian penting dalam proses pendampingan riset siswa.
Hal itu turut menjadi perhatian Universitas Negeri Padang (UNP) melalui kegiatan Pengabdian Masyarakat yang membekali guru-guru Sosiologi se-Kota Padang untuk meningkatkan kemampuan membina siswa dalam ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI).
Sebanyak 31 guru Sosiologi yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sosiologi mengikuti pelatihan yang digelar di ruang belajar Sekolah Pasca Sarjana Kampus UNP Air Tawar, Rabu (19/8/2026).
Kegiatan tersebut tidak hanya berisi penyampaian materi secara satu arah. Para guru justru diajak membedah persoalan yang kerap muncul dalam proses penelitian siswa, termasuk mencari isu dan masalah yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi proposal OPSI bidang Sosiologi.
Pelatihan ini menjadi bagian dari implementasi Tridharma Perguruan Tinggi di bidang Pengabdian Masyarakat. Tim pengabdian menghadirkan materi yang berkaitan langsung dengan kebutuhan guru sebagai pembina OPSI di sekolah masing-masing.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat OPSI, Prof Dr Erianjoni membuka kegiatan tersebut. Setelah itu, materi diberikan oleh Dr Alfajri Yusra yang membahas pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam penyusunan proposal OPSI.
Sementara itu, Dr Eka Asih Febriani memberikan materi mengenai cara mencari isu dan masalah yang dapat dikembangkan untuk penelitian OPSI bidang Sosiologi.
Bagi para guru, kemampuan menemukan persoalan yang tepat menjadi salah satu bagian penting dalam mendampingi siswa menyusun penelitian.
Sebab, ide penelitian tidak cukup hanya menarik, tetapi juga harus mampu dirumuskan menjadi persoalan yang dapat dikaji secara ilmiah.
Kegiatan pengabdian ini merupakan keberlanjutan program pengabdian tahun sebelumnya dan kegiatan ini juga atas permintaan guru-guru Sosiologi sebagai guru Pembina OPSI di sekolahnya masing-masing," kata Ketua Penyelenggara, Prof Erian Joni.
Pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris UNP itu mengatakan, program yang digelar pada tahun ini merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya sekaligus merespons kebutuhan guru Sosiologi yang berperan sebagai pembina OPSI di sekolah.
Menariknya, proses pelatihan tidak berhenti pada pemberian materi mengenai AI maupun pencarian isu penelitian. Peserta juga terlibat dalam diskusi bersama pemateri serta melakukan analisis terhadap berbagai kasus yang berkaitan dengan kegagalan peserta dalam ajang OPSI.
"Sesi tersebut menjadi ruang bagi para guru untuk membawa berbagai ide riset yang telah dibuat oleh siswa. Ide-ide tersebut kemudian dikonsultasikan kepada pemateri dan dibedah satu per satu," katanya.
Antusiasme peserta terlihat dari proses konsultasi yang berlangsung selama kegiatan. Berbagai gagasan penelitian siswa menjadi bahan diskusi untuk melihat sejauh mana sebuah ide dapat dikembangkan dan memiliki peluang untuk dipertajam menjadi penelitian yang lebih kuat.
Pembahasan terhadap kasus-kasus kegagalan peserta OPSI juga menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut.
Guru tidak hanya diajak melihat bagaimana sebuah penelitian dapat dikembangkan, tetapi juga memahami berbagai faktor yang berpotensi membuat peserta gagal dalam kompetisi penelitian siswa.
Dari proses tersebut, peserta mendapatkan kesempatan untuk belajar dari pengalaman dan kasus yang pernah terjadi. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu guru dalam melakukan evaluasi terhadap ide penelitian siswa sebelum dikembangkan lebih jauh.
Selain membahas faktor kegagalan, rangkaian Pengabdian Masyarakat UNP itu juga mengulas potensi serta peluang meraih kemenangan dalam OPSI bidang Sosiologi.
Pembahasan dilakukan dengan mempelajari kasus-kasus sekolah yang berhasil mengantarkan siswanya mengikuti ajang OPSI hingga tingkat nasional.
Pengalaman sekolah yang sukses tersebut menjadi bahan pembelajaran bagi para guru. Dengan memahami pola dan strategi dari kasus yang berhasil, guru dapat memperoleh gambaran mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan ketika membina siswa yang akan mengikuti kompetisi penelitian.
Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa peran guru pembina menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan siswa menuju kompetisi penelitian tingkat nasional.
"Guru tidak hanya berperan mengarahkan siswa dalam menemukan ide, tetapi juga mendampingi proses pengembangan gagasan hingga menjadi proposal penelitian," ucap Erianjoni.
Melalui pelatihan yang menggabungkan pemanfaatan AI, pencarian isu dan masalah, diskusi, analisis kasus kegagalan, serta pembelajaran dari sekolah yang berhasil di tingkat nasional, UNP berupaya memperkuat kapasitas guru Sosiologi di Kota Padang dalam membina peserta OPSI.
Dengan melibatkan 31 guru yang tergabung dalam MGMP Sosiologi, kegiatan Pengabdian Masyarakat tersebut diarahkan pada kebutuhan praktis di lapangan.
"Guru mendapatkan ruang untuk menguji sekaligus mendiskusikan ide riset siswa, sehingga proses pembinaan OPSI tidak hanya mengandalkan teori, tetapi juga melalui pembahasan kasus dan konsultasi secara langsung," imbuhnya. (*)
















