Sumbardaily.com, Padang – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Padang Panjang mencatat sebanyak 45 kali gempa bumi terjadi di wilayah Sumatera Barat (Sumbar) sejak 13 Oktober hingga Kamis (16/10/2025) pagi.
Gempa dengan kekuatan antara Magnitudo 1 hingga 3,5 itu merupakan aktivitas dari Segmen Sianok bagian utara, yang menjadi salah satu jalur sesar aktif di provinsi tersebut.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Padang Panjang, Suaidi Ahadi, menyampaikan bahwa aktivitas gempa dengan frekuensi cukup rapat ini menjadi indikasi adanya dinamika tektonik yang perlu diwaspadai.
“Sejak tanggal 13 Oktober sampai Kamis pagi ini sudah tercatat 45 kali gempa dengan Magnitudo antara 1 hingga 3,5. Gempa tersebut merupakan aktivitas Segmen Sianok bagian utara,” ujar Suaidi dalam keterangan tertulis, Kamis (16/10/2025) pagi.
Segmen Sianok merupakan bagian dari Patahan Besar Sumatera (Sumatra Fault System), yang melintasi wilayah Sumbar melalui lima segmen utama. Dari kelima segmen itu, Sianok dikenal sebagai yang paling aktif dan memiliki sejarah panjang aktivitas seismik di wilayah tersebut.
Dalam catatan sejarah, Segmen Sianok pernah memicu Gempa Kembar Padang Panjang tahun 1926 dengan kekuatan Magnitudo 7,1 dan 7,2, serta dua gempa besar lainnya pada 2007 dengan kekuatan M6,0 dan M6,1. Kejadian-kejadian itu menunjukkan bahwa wilayah ini termasuk dalam zona dengan potensi kegempaan tinggi di Sumbar.
Suaidi menjelaskan, intensitas gempa yang terjadi berulang dalam waktu berdekatan bisa menunjukkan dua kemungkinan. Pertama, fenomena tersebut dapat dikategorikan sebagai foreshock, yaitu rangkaian gempa awal sebelum terjadi gempa utama dengan kekuatan lebih besar. Kedua, bisa jadi segmen patahan sedang mengalami relaksasi menuju kondisi yang lebih stabil.
Ia menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dan edukasi bagi masyarakat yang tinggal di sekitar jalur patahan aktif. Pemerintah daerah diimbau memperkuat mitigasi bencana gempa bumi melalui sosialisasi, simulasi evakuasi, serta pembangunan infrastruktur tahan gempa.
“Yang perlu diperhatikan pemerintah daerah dan masyarakat adalah memperkuat edukasi serta mitigasi di sekitar sesar aktif. Untuk masyarakat, hindari lokasi tebing yang berpotensi longsor tinggi,” imbau Suaidi.
Aktivitas Segmen Sianok ini menjadi pengingat bahwa wilayah Sumbar masih berada di jalur rawan gempa. Kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko bencana apabila terjadi gempa yang lebih besar di kemudian hari. (pooke)
















