Sumbardaily.com, Padang – Upaya pemulihan kondisi psikologis para korban musibah kebakaran di kompleks asrama Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Sumatera Barat mendapat perhatian serius dari pihak kepolisian. Biro Sumber Daya Manusia Polda Sumbar menginisiasi program khusus berupa layanan trauma healing yang diselenggarakan pada Senin, 26 Mei 2025.
Program pendampingan psikologis ini berlangsung intensif selama tiga setengah jam, dimulai pukul 10.00 WIB hingga 13.30 WIB di lokasi SPN Padang Besi. Inisiatif ini merupakan respons komprehensif terhadap dampak psikologis yang dialami personel dan keluarga akibat insiden pembakaran yang menghancurkan sepuluh unit bangunan asrama dalam kompleks tersebut.
Tim spesialis psikologi dari Biro SDM Polda Sumbar hadir langsung untuk memberikan dukungan profesional kepada para penyintas. Pendekatan yang diterapkan mencakup berbagai metode terapeutik, mulai dari sesi konseling individual hingga terapi berkelompok yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing korban.
Khusus untuk anak-anak yang menjadi korban, tim menyiapkan rangkaian aktivitas khusus berupa permainan yang bersifat edukatif dan interaktif. Pendekatan ini dimaksudkan untuk membantu mengalihkan fokus dari memori traumatis sekaligus membangun kembali rasa aman dan nyaman pada diri mereka.
Kombes Pol Riyadi Nugroho, yang menjabat sebagai Kepala Biro SDM Polda Sumbar, menekankan bahwa aspek pemulihan mental memiliki urgensi yang setara dengan bantuan material. Pimpinan ini menegaskan komitmen institusi untuk memberikan dukungan menyeluruh kepada seluruh pihak yang terdampak.
"Kehadiran kami di sini adalah bukti nyata bahwa institusi tidak akan membiarkan anggota dan keluarga menghadapi situasi sulit ini sendirian. Kesehatan mental mereka merupakan prioritas utama yang harus dipulihkan agar dapat menjalani rutinitas sehari-hari secara optimal kembali," ungkap Kombes Pol Riyadi Nugroho.
Aktivitas pemulihan emosional yang diselenggarakan mencakup berbagai pendekatan terapeutik yang disesuaikan dengan kondisi spesifik setiap korban. Sesi konseling individual memberikan ruang bagi para penyintas untuk mengekspresikan perasaan dan kekhawatiran mereka dalam lingkungan yang aman dan terkendali.
Sementara itu, terapi kelompok memungkinkan para korban untuk berbagi pengalaman dengan sesama penyintas, menciptakan rasa solidaritas dan dukungan mutual yang sangat penting dalam proses pemulihan. Pendekatan ini terbukti efektif dalam membantu individu menyadari bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi trauma.
Respons positif langsung terlihat dari para peserta program trauma healing ini. Mereka mengapresiasi perhatian menyeluruh yang diberikan institusi, tidak hanya dalam bentuk bantuan material tetapi juga dukungan psikologis yang sangat dibutuhkan dalam situasi pascamusibah.
Keberhasilan program ini diharapkan dapat mempercepat proses recovery psikologis para korban, sehingga mereka mampu bangkit dari keterpurukan akibat musibah yang menimpa. Dengan pendekatan yang komprehensif dan profesional, Polda Sumbar menunjukkan komitmen serius dalam menjaga kesejahteraan seluruh anggota dan keluarga besar institusi.
















