Sumbardaily.com, Padang Panjang – Upaya menemukan puluhan korban hilang akibat banjir bandang dan longsor di Padang Panjang, Sumatera Barat (Sumbar) kembali ditingkatkan. Memasuki hari ke-11 pascabencana, Pemerintah Kota (Pemko) Padang Panjang bersama tim Basarnas dan BNPB mengoptimalkan seluruh kekuatan untuk mempercepat proses pencarian.
Intensitas operasi kembali diperluas seiring masih adanya 33 korban yang belum ditemukan hingga siang hari kemarin. Sekretaris Daerah Kota Padang Panjang, Sonny Budaya Putra, menegaskan bahwa seluruh personel harus kembali memusatkan energi untuk menyisir setiap sektor pencarian secara sistematis dan terukur. Ia menyampaikan bahwa 33 korban tersebut terdiri atas 17 warga Padang Panjang dan 16 warga yang berasal dari luar daerah.
Sonny menuturkan, pembagian area pencarian kini dibuat lebih rinci agar setiap sektor dapat dijangkau dengan lebih efektif. Kondisi cuaca yang tidak stabil membuat tim diminta bekerja lebih berhati-hati, terutama di sekitar jalur sungai dan titik-titik rawan longsor. Ia menekankan bahwa operasi harus tetap berjalan dengan maksimal mengingat waktu pencarian sudah memasuki hari ke-11 pascabencana.
Empat Sektor Pencarian, Termasuk Teknik Arung Jeram
Koordinator Pencarian dan Pertolongan Banjir Bandang Padang Panjang dari Basarnas, Samsul Akmal, menjelaskan bahwa operasi dibagi ke dalam empat sektor utama. Sektor pertama mencakup aliran sungai dari titik 0 Jembatan Kembar hingga wilayah Mega Mendung. Di sepanjang jalur tersebut, tim menyisir lokasi-lokasi yang diduga menjadi tempat hanyutnya material banjir.
Pada saat bersamaan, tim lain turut mengawasi proses normalisasi sungai yang masih berlangsung sejak awal masa tanggap darurat. Aktivitas normalisasi penting untuk membantu membuka akses visual sekaligus mempercepat pencarian di sepanjang jalur yang sebelumnya tertutup endapan tebal.
Sektor berikutnya berada di area Kayu Tanam hingga Bendungan Anai. Pada sektor ini, teknik arung jeram diterapkan untuk menjangkau bagian sungai yang sulit diakses dengan metode biasa. Alur sungai yang curam dan berkelok membuat teknik tersebut dinilai paling efektif untuk memantau kemungkinan korban terbawa arus jauh ke hilir.
Sektor terakhir meliputi wilayah Bendungan Batang Anai hingga Lubuk Alung. Di area ini, pencarian memanfaatkan perahu karet bermesin untuk memperluas jangkauan dan mempercepat proses penyisiran. Aliran sungai yang relatif lebih lebar memungkinkan tim bergerak lebih cepat untuk memeriksa tepian sungai maupun bagian tengah arus.
Kekuatan Personel Diperluas dari Berbagai Daerah
Operasi pencarian korban dikerahkan dengan dukungan personel dari berbagai daerah. Selain Basarnas Padang Panjang, tim tambahan hadir dari BNPB, Basarnas Riau, Jambi, Palembang, Limapuluh Kota, serta Tanah Datar. Kekompakan tim lintas wilayah ini menjadi faktor penting dalam memperluas cakupan pencarian dalam waktu yang lebih singkat.
Unsur pendukung, seperti Satpol PP Damkar, TNI, Polri, PMI, Tagana, dan sejumlah potensi SAR lainnya turut memperkuat barisan pencarian. Kehadiran lembaga-lembaga tersebut memberikan dukungan logistik, teknis, dan pengamanan lapangan, terutama di area yang memiliki medan berat dan risiko longsor lanjutan. Seluruh unsur menyatakan komitmen untuk memberikan dukungan penuh hingga seluruh korban ditemukan.
Update Temuan Korban: 39 Teridentifikasi, 3 Lainnya Belum Dikenal
Posko Tanggap Darurat Kota Padang Panjang merilis pembaruan temuan korban pada Minggu (7/12/2025) pukul 13.00 WIB. Berdasarkan laporan tersebut, 39 korban telah berhasil diidentifikasi. Data tersebut mencakup korban yang berasal dari Padang Panjang maupun sejumlah daerah lain di Sumatera Barat.
Selain itu, tiga korban perempuan masih belum dapat diidentifikasi dan tengah ditangani di RS Bhayangkara Padang. Identifikasi lanjutan dilakukan untuk memastikan setiap korban dapat diketahui identitasnya dan diserahkan kepada keluarga masing-masing.
Didominasi Warga RT 20 Silaing Bawah
Sebagian besar korban yang teridentifikasi merupakan warga RT 20 Silaing Bawah, Padang Panjang. Dari total 24 korban asal kota tersebut, rentang usia yang ditemukan sangat bervariasi, mulai dari anak-anak hingga lansia.
Korban tertua tercatat berusia 84 tahun bernama Idrus, sementara korban termuda berusia 12 tahun yakni Dafi Hamdani dan Rafa Saputra. Seorang garin musala, Novi Hendri (39), juga berada dalam daftar korban.
Beberapa nama lain yang termasuk dalam kelompok korban asal Padang Panjang, antara lain:
- Nilmawati (59)
- Maryulis (52)
- Junimar (52)
- Zainal (50)
- Fitri Ramayani (29)
- Hengki (40)
- Zahara Hidayani (12)
- Yulia Fitria Ningsih (19)
- Yesi Mulyani (45)
- Yusna (78)
- Gustiardi (53)
Korban dari Luar Daerah
Sebanyak 15 korban lainnya diketahui berasal dari luar Padang Panjang. Mereka datang dari berbagai daerah, mulai dari Kota Bukittinggi hingga Pekanbaru. Identitas yang tercatat antara lain:
- Agung Purnomo (35), Kota Bukittinggi
- Silvi Marta Putri (20)
- Rahayu Putri Anjani (21), Lolo Pantai Cermin, Kabupaten Solok
- Robi Handaryo (42), anggota TNI dari Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar
- Angger Raja Prakarsa (25), Sei Durian, Kota Payakumbuh
- Johansa (66), Koto Hilia, Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan
- Elvarida Susanti (43), Kota Pekanbaru
- Yudi Gusnaldi (49), Kabupaten Pasaman
Laporan temuan korban ini menjadi rujukan penting bagi masyarakat yang masih mencari keberadaan anggota keluarga. Pemko Padang Panjang mendorong warga agar terus memantau informasi resmi untuk memastikan perkembangan terbaru pencarian. (red)
















