Tidak Semua Luka Masa Kecil Adalah Trauma, Membaca Ulang Pola Asuh Orang Tua

Tidak Semua Luka Masa Kecil Adalah Trauma, Membaca Ulang Pola Asuh Orang Tua

Ilustrasi anak dan orang tua. (Dok. Pixabay)

Oleh: Tiara Yulanda, S.H.I.
Praktisi Keluarga dan Hukum Islam

Dalam beberapa tahun terakhir, diskursus parenting kerap dipersempit menjadi daftar larangan dan anjuran. Apa yang boleh dan tidak boleh. Apa yang traumatis dan apa yang dianggap menyembuhkan.

Orang tua, terutama ibu dituntut untuk selalu sadar, selalu lembut, selalu benar. Masalahnya, manusia tidak selalu hidup dalam kondisi ideal.

Sebagian dari kita tumbuh dalam keluarga yang tidak mengenal istilah inner child, tidak membaca buku parenting, dan tidak pernah mengikuti seminar pengasuhan.

Namun anehnya, dari keluarga seperti itulah lahir pribadi-pribadi yang mampu bertahan, berpikir jernih, dan berdiri dengan kaki sendiri.

Saya adalah salah satunya, anak yang tumbuh tanpa seminar parenting, namun dibesarkan dengan batas yang jelas.

Saya dibesarkan oleh dua orang tua dengan pola asuh yang sangat berbeda, namun saling melengkapi. Ayah saya tegas, pendiam dan keras dalam batas-batas tertentu. Ibu saya disiplin, pekerja keras dan tidak segan melibatkan anak dalam tanggung jawab rumah tangga sejak kecil.

Ada pukulan. Ada marah. Ada luka yang secara kasat mata bisa disebut kekerasan.
Namun ada satu hal yang tidak pernah ditarik dari saya, tanggung jawab dan batas hidup.

Ketika saya salah, orang tua saya tidak bertele-tele. Teguran diberikan, emosi reda, lalu perkara selesai. Tidak ada pengulangan, tidak ada penghinaan berkepanjangan tidak ada pelabelan. Yang ada hanya pesan jelas, kesalahan punya konsekuensi, dan hidup menuntut kedewasaan.

Dalam perspektif Hukum Keluarga Islam, pengasuhan anak tidak berdiri pada satu metode tunggal atau pola baku. Ia bertumpu pada prinsip maqāṣid al-syarī‘ah, khususnya penjagaan akal (ḥifẓ al-‘aql), jiwa (ḥifẓ al-nafs), dan kehormatan (ḥifẓ al-‘irḍ).

Artinya, ukuran keberhasilan pengasuhan bukan pada seberapa “lembut” prosesnya, melainkan pada apakah anak tumbuh dengan akal yang sehat, jiwa yang stabil, serta kemampuan memikul tanggung jawab hidupnya.

Islam tidak pernah membenarkan pengasuhan yang merusak. Kaidah lā ḍarar wa lā ḍirār, tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain menjadi batas tegas. Namun Islam juga tidak menuntut orang tua menjadi figur sempurna yang bebas dari emosi, kelelahan, dan keterbatasan manusiawi.

Di sinilah sering terjadi kekeliruan dalam membaca luka masa lalu. Tidak semua luka harus dibesarkan. Tidak semua ketidaknyamanan masa kecil berujung trauma patologis.

Sebagian justru menjadi proses pembentukan daya tahan mental (resilience), selama tidak merusak martabat dan keselamatan anak.

Saya menyadari, banyak ingatan lama yang muncul ketika saya hamil dan memasuki fase menjadi ibu. Emosi menjadi lebih sensitif. Refleksi menjadi lebih dalam.

Namun dengan ilmu, saya belajar membedakan antara luka yang perlu disembuhkan dan pengalaman yang cukup dipahami. Pemahaman ini penting, agar refleksi tidak berubah menjadi tudingan.

Menariknya, pola asuh orang tua saya sejalan dengan konsep yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib: tujuh tahun pertama anak diperlakukan dengan kasih, tujuh tahun kedua dengan disiplin, dan tujuh tahun berikutnya dengan kepercayaan dan dialog.

Mereka tidak pernah menyebut teorinya.
Namun mereka menjalaninya secara naluriah. Inilah yang sering luput dalam diskursus parenting modern, naluri orang tua selama tidak dikuasai ego dan kekerasan adalah bagian dari hikmah.

Kontras dengan itu, saya melihat pola asuh lain dalam keluarga suami saya. Anak-anak dibesarkan dengan pemenuhan hampir semua keinginan. Ketika dewasa dan menghadapi kesulitan, bantuan selalu tersedia. Niatnya baik. Kasih sayang.

Namun dalam jangka panjang, ketergantungan juga dapat menjadi mudarat. Dalam Hukum Keluarga Islam, bantuan dan nafkah harus diarahkan pada kemaslahatan, bukan pada pemeliharaan ketidakmandirian.

Bantuan yang terus-menerus tanpa batas dan evaluasi berpotensi melemahkan fungsi taklīf, kemampuan seseorang memikul beban hidupnya sendiri.

Maka, parenting bukan soal memilih mana yang paling ideal di atas kertas. Ia adalah seni menimbang:
Kapan harus menahan.
Kapan harus melepas.
Kapan harus membantu.
Dan kapan harus membiarkan anak jatuh agar belajar bangun.

Penutup

Pada akhirnya, membaca ulang pola asuh orang tua bukanlah upaya untuk mencari siapa yang salah, melainkan ikhtiar memahami dari mana kita dibentuk. Tidak semua luka masa kecil adalah trauma, sebagaimana tidak semua kenyamanan adalah kasih yang menyelamatkan.

Dalam banyak keluarga, keterbatasan justru melahirkan ketangguhan, dan disiplin yang proporsional menumbuhkan daya tahan hidup.

Islam mengajarkan bahwa setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban sesuai kapasitasnya. Lā yukallifullāhu nafsan illā wus‘ahā, Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. Maka, orang tua pun tidak dituntut sempurna, melainkan bertanggung jawab, sadar dan terus belajar.

Dengan ilmu, refleksi, dan niat menjaga kemaslahatan, kita belajar berdamai, bukan hanya dengan masa lalu orang tua kita, tetapi juga dengan peran kita hari ini sebagai orang tua yang sedang berproses menunaikan amanah. (*)

Baca Juga

Kemenag Terbitkan Aturan Gawai di Sekolah, Orang Tua Diminta Awasi Anak di Rumah
Kemenag Terbitkan Aturan Gawai di Sekolah, Orang Tua Diminta Awasi Anak di Rumah
Gubernur Lemhanas Republik Indonesia Menaburkan Nalar Kritis yang Santun untuk Merawat Kebangsaan
Gubernur Lemhanas Republik Indonesia Menaburkan Nalar Kritis yang Santun untuk Merawat Kebangsaan
Pencegahan Kebakaran di Kota Padang dari Perspektif Agama, Kearifan Lokal dan Kepedulian Sosial
Pencegahan Kebakaran di Kota Padang dari Perspektif Agama, Kearifan Lokal dan Kepedulian Sosial
Sumatera Barat Dikepung Api: Karhutla Bukan Lagi Sekadar Musiman
Sumatera Barat Dikepung Api: Karhutla Bukan Lagi Sekadar Musiman
Dua wisatawan asal Jerman menikmati suasana kawasan Kota Tua di Padang sambil mengunjungi destinasi wisata bersejarah dan ikon kota.
Dibutuhkan Ketegasan Pemko yang Persuasif untuk Menjadikan Padang Destinasi Global yang Digemari Wisman
Gunung dan Wisata Masa Depan
Gunung dan Wisata Masa Depan