Sumbardaily.com – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto pada 8 Februari 2026 yang menyebut Indonesia telah mencapai Swasembada Beras sejak 31 Desember 2025 sekaligus menargetkan Swasembada Pangan secara menyeluruh dalam tiga tahun ke depan menuai perhatian kalangan akademisi. Klaim tersebut dinilai sebagai capaian strategis, namun tetap perlu ditopang data akurat dan terverifikasi secara ilmiah.
Guru Besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Unand), Prof. Dian Fiantis, menyampaikan bahwa keberhasilan Swasembada Beras patut diapresiasi. Meski demikian, ia menegaskan bahwa capaian tersebut harus berdiri di atas basis data yang kuat, bukan semata laporan administratif.
Menurutnya, di era teknologi geospasial saat ini, kondisi lahan sawah tidak lagi hanya bergantung pada survei terbatas atau laporan manual. Perkembangan teknologi memungkinkan pemantauan pertanian dilakukan dari angkasa melalui citra satelit.
“Swasembada bukan hanya soal angka produksi nasional. Ia berkaitan dengan kesehatan tanah, ketersediaan air, dan pengelolaan ruang yang bijaksana. Jika tanah rusak, swasembada bisa runtuh,” ujarnya dikutip Kamis (26/2/2026).
Dian menjelaskan, pemantauan sawah di wilayah tropis seperti Indonesia umumnya memanfaatkan dua jenis satelit, yakni optik dan radar. Satelit optik seperti Sentinel-2 bekerja dengan menangkap pantulan cahaya dari daun tanaman. Dari data tersebut dapat dihitung indeks kehijauan atau NDVI yang menunjukkan tingkat kesehatan vegetasi.
Namun demikian, kondisi Indonesia yang memiliki tutupan awan tinggi kerap menjadi tantangan bagi pengamatan berbasis optik. Karena itu, penggunaan satelit radar seperti Sentinel-1 menjadi pelengkap yang krusial.
Gelombang mikro pada radar mampu menembus awan dan merekam kondisi permukaan lahan, termasuk mendeteksi genangan air, kepadatan tanaman, hingga indikasi kekeringan.
“Dengan kombinasi data optik dan radar, pemantauan sawah dapat dilakukan sepanjang musim, bahkan saat hujan terus-menerus,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa Swasembada Pangan tidak hanya ditentukan oleh luas lahan pertanian. Intensitas tanam juga memegang peranan penting. Sawah yang dipanen dua hingga tiga kali dalam setahun tentu memberi kontribusi produksi yang berbeda dibanding sawah yang hanya satu kali panen.
Dian merujuk pada artikel ilmiah berjudul High-resolution maps of rice cropping intensity across Southeast Asia yang terbit di jurnal Scientific Data pada 2025. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pemetaan intensitas tanam kini dapat dilakukan hingga resolusi setingkat petak sawah.
Melalui integrasi data satelit, peneliti dapat mengidentifikasi sawah dengan pola panen satu, dua, atau tiga kali dalam setahun. Dari biomassa tanaman yang terdeteksi, estimasi produksi dapat dihitung. Meski demikian, Dian mengingatkan bahwa data citra satelit tetap membutuhkan pembuktian langsung di lapangan.
“Satelit tidak menghitung bulir padi satu per satu. Produksi aktual tetap memerlukan verifikasi lapangan,” tegasnya.
Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh, lanjutnya, memungkinkan pemerintah melakukan deteksi dini terhadap potensi kekeringan, banjir, serangan hama, maupun keterlambatan tanam sebelum kerusakan meluas. Dengan sistem pemantauan berbasis data, kebijakan dapat diambil lebih cepat dan berbasis bukti ilmiah.
Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa teknologi bukanlah solusi tunggal dalam mencapai Swasembada Beras dan Swasembada Pangan berkelanjutan. Informasi krusial seperti kadar nitrogen dan fosfor, tingkat kemasaman tanah, hingga kebutuhan pupuk hanya dapat diperoleh melalui survei langsung dan analisis laboratorium.
Menurut Dian, akses terhadap data satelit Sentinel saat ini sudah terbuka secara gratis. Tantangan utama bukan lagi persoalan biaya, melainkan kesiapan sumber daya manusia, baik di Kementerian Pertanian maupun di tingkat daerah, dalam mengolah dan menginterpretasikan data tersebut.
Ia mendorong agar sistem pemantauan disajikan dalam bentuk peta siap pakai sehingga penyuluh pertanian dapat langsung mengidentifikasi waktu tanam, kondisi pertumbuhan tanaman, hingga indikasi puso. Setiap temuan berbasis satelit, katanya, harus dihubungkan dengan verifikasi lapangan sebagai umpan balik untuk meningkatkan akurasi data.
“Integrasi penginderaan jauh, survei tanah, pengamatan lapangan, dan statistik pertanian menjadi kunci. Pendekatan terpadu inilah yang memastikan swasembada beras benar-benar berkelanjutan, bukan sekadar pernyataan,” pungkasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan Swasembada Beras dan target Swasembada Pangan yang dicanangkan pemerintah memerlukan sinergi antara kebijakan nasional dan dukungan data ilmiah yang kuat.
Dengan dukungan teknologi satelit, verifikasi lapangan, serta pengelolaan tanah yang berkelanjutan, klaim swasembada diharapkan tidak hanya menjadi capaian jangka pendek, tetapi fondasi ketahanan pangan nasional dalam jangka panjang. (*)
















