Sumbardaily.com - Perpustakaan Umum Kota Bukittinggi Syafruddin Prawiranegara kini hadir bukan hanya sebagai tempat membaca, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk belajar dan mengembangkan keterampilan.
Perpustakaan yang berada di samping SMPN 4 Bukittinggi itu telah beroperasi dan melayani masyarakat. Pengelolaannya berada di bawah Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bukittinggi.
“Perpustakaan ini dikonsep tidak hanya menjadi tempat membaca dan menyimpan koleksi buku, tetapi juga dikembangkan sebagai ruang belajar bersama yang interaktif, edukatif dan inklusif,” demikian keterangan Pemko Bukittinggi yang dicuplik dari laman resmi Pemko Bukittinggi, Sabtu (29/8/2026).
Konsep tersebut membuat Perpustakaan Umum Kota Bukittinggi memiliki fungsi yang lebih luas. Masyarakat dapat memanfaatkannya untuk membaca, belajar bersama, berdiskusi, berkegiatan hingga mengembangkan konten kreatif.
Dari sisi fasilitas, perpustakaan menyediakan ruang baca umum dan ruang referensi. Ada pula ruang baca anak yang dilengkapi corner storytelling.
Selain itu, tersedia ruang teater dan aula multifungsi yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan. Masyarakat juga dapat memanfaatkan working space, Pojok Baca Digital (POCADI), serta komputer publik dengan akses internet.
Fasilitas lainnya berupa area outdoor dan taman literasi. Penataan ruang perpustakaan juga menghadirkan sejumlah sudut yang mengangkat karakter dan identitas Kota Bukittinggi.
“Penataan ruang juga menghadirkan berbagai sudut yang mengangkat karakter dan identitas Kota Bukittinggi, sehingga dapat menjadi ruang membaca sekaligus tempat belajar, berdiskusi, berkegiatan dan menghasilkan konten kreatif,” demikian keterangan Pemko Bukittinggi.
Selain fasilitas, koleksi menjadi salah satu bagian utama yang ditawarkan perpustakaan tersebut. Saat ini tersedia 14.468 judul buku yang dapat menjadi pilihan bacaan masyarakat.
Jumlah itu terdiri atas 1.763 judul buku anak, 1.087 judul buku fiksi dan 11.678 judul buku nonfiksi. Koleksi tersebut juga terus dikembangkan dengan menghadirkan buku-buku baru.
Perpustakaan Umum Kota Bukittinggi juga menjalankan konsep Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS). Melalui konsep itu, masyarakat umum dapat mengikuti berbagai kelas yang dilaksanakan secara rutin di lingkungan perpustakaan.
Sejumlah kelas telah dilaksanakan. Kelas tahsin tercatat berlangsung sebanyak 10 kali pertemuan. Kemudian kelas merajut telah dilaksanakan sebanyak 4 kali pertemuan.
Ada pula kelas Read Aloud yang digelar sebanyak 4 kali pertemuan. Sementara kelas membuat konten dan beauty class masing-masing telah berlangsung sebanyak 1 kali pertemuan.
“Melalui konsep Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), perpustakaan juga menghadirkan berbagai kelas yang dilaksanakan secara rutin dan dapat diikuti masyarakat umum,” tulis Pemko Bukittinggi dalam keterangannya yang dicuplik dari laman resmi Pemko Bukittinggi.
Program tersebut masih akan bertambah. Kelas public speaking disebut segera hadir untuk masyarakat.
Selain itu, kelas barbershop dan kelas citizen journalism juga direncanakan untuk dilaksanakan. Seluruh kegiatan kelas tersebut digelar di lingkungan Perpustakaan Umum Kota Bukittinggi.
Dengan keberadaan koleksi buku, fasilitas digital, ruang aktivitas hingga berbagai kelas, perpustakaan tersebut diarahkan menjadi ruang yang dapat digunakan masyarakat untuk memperoleh pengetahuan sekaligus mengembangkan kemampuan.
Kehadiran Perpustakaan Umum Kota Bukittinggi Syafruddin Prawiranegara memberikan pilihan bagi masyarakat untuk menjadikan perpustakaan sebagai tempat membaca sekaligus ruang pembelajaran dan kegiatan masyarakat. (*)















