Sumbardaily.com, Padang – Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Mabes Polri mengerahkan 15 tim Disaster Victim Identification (DVI) untuk mempercepat identifikasi jenazah korban banjir bandang dan longsor di Sumatera Barat (Sumbar).
Upaya ini menjadi langkah strategis agar proses pencocokan identitas bisa segera dituntaskan, terutama di wilayah Kabupaten Agam yang menjadi lokasi terdampak paling parah serta di Rumah Sakit Bhayangkara Padang yang menjadi pusat penanganan.
Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo menegaskan bahwa percepatan identifikasi menjadi prioritas mutlak, mengingat kondisi jenazah dapat cepat mengalami penurunan kualitas seiring waktu.
Ia menekankan bahwa kepastian identitas korban dibutuhkan agar keluarga bisa segera memperoleh kejelasan dan proses pemakaman dapat dilakukan tanpa menunggu lebih lama.
“Kecepatan untuk DVI dan tim identifikasi kami ini harus segera dilakukan. Karena kita kasihan, kalau misalnya korban terlalu lama diidentifikasi, ini semakin ke depan, kan, kondisi jenazah semakin tidak baik,” ujar Komjen Dedi saat meninjau operasional penanganan jenazah di RS Bhayangkara Padang, Kamis (4/12/2025).
Ia menjelaskan bahwa identifikasi pada jenazah dilakukan melalui beberapa metode, dimulai dari pemeriksaan sidik jari oleh Inafis. Namun, bila kondisi fisik korban sudah tidak memungkinkan, maka tahapan lanjutan yang dipilih adalah Tes DNA.
Proses ini mencakup pengambilan sampel dari jenazah serta sampel DNA pembanding dari keluarga yang melapor kehilangan anggota keluarga. Seluruh sampel kemudian diterbangkan ke laboratorium DNA Mabes Polri di Jakarta.
“Kami memiliki laboratorium DNA yang cukup cepat di Jakarta, mungkin dalam waktu tiga hari hasil tes DNA sudah bisa disampaikan ke keluarga. Sehingga jenazah yang ada bisa diserahkan ke pihak keluarga dan segera dimakamkan,” ujarnya optimistis.
Dengan pengerahan tim dalam jumlah besar, Mabes Polri berharap sebagian besar proses identifikasi dapat berlangsung langsung di lokasi terdampak, khususnya di Agam, sehingga jenazah tidak menumpuk terlalu lama di RS Bhayangkara.
Dedi menambahkan bahwa metode sidik jari tetap diutamakan bila memungkinkan, karena prosesnya jauh lebih cepat dan memiliki tingkat akurasi yang tinggi.
“Jadi salah satunya kecepatan kami melakukan identifikasi DVI adalah sidik jari. Kalau sidik jari masih bisa diidentifikasi oleh Inafis maka kecepatannya sangat cepat, tingkat akurasi dengan sidik jari bisa 99 persen,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Padang, Kompol dr. Harry Andromeda, melaporkan perkembangan terbaru jumlah jenazah yang ditangani sejak awal bencana. Total 61 jenazah sudah masuk ke rumah sakit. Dari jumlah tersebut, 35 korban telah berhasil diidentifikasi, sementara 26 jenazah lainnya masih menunggu kecocokan melalui Tes DNA.
“Untuk 26 jenazah yang belum teridentifikasi ini sudah kami ambil sampel DNA. Kami juga ambil sampel DNA pembanding dari keluarga korban yang merasa kehilangan saudara, semua kami kirim sampel DNA ke Jakarta,” kata Harry.
Untuk memastikan jenazah tetap dalam kondisi yang layak selama proses identifikasi, RS Bhayangkara memanfaatkan fasilitas lemari pendingin serta mendapatkan tambahan dukungan berupa mobil boks pendingin dari dinas pertanian setempat.
Hingga kini, pihak rumah sakit mencatat 130 keluarga telah datang ke posko ante mortem untuk melaporkan kehilangan anggota keluarga. Tingginya jumlah laporan menunjukkan besarnya harapan masyarakat bahwa proses identifikasi dapat selesai secepat mungkin, mengingat banyak keluarga masih menunggu kepastian nasib kerabat mereka yang hilang dalam bencana. (red)
















