Sumbardaily.com, Padang – Upaya pemulihan bencana di Sumatera Barat (Sumbar) terus dilakukan secara terintegrasi oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bersama PT Hutama Karya (Persero). Kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam memastikan percepatan pemulihan infrastruktur dan layanan dasar masyarakat pascabanjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah provinsi tersebut.
Kepercayaan yang diberikan Kementerian PU kepada Hutama Karya untuk mengoptimalkan mobilisasi sumber daya dimanfaatkan secara maksimal. Sejak fase awal tanggap darurat, perusahaan BUMN ini terlibat langsung dalam penanganan lapangan dengan mengedepankan kecepatan, koordinasi lintas sektor, serta aspek keselamatan kerja. Langkah tersebut diarahkan agar aktivitas masyarakat terdampak dapat segera kembali berjalan secara bertahap.
Pemulihan infrastruktur pascabencana difokuskan pada lima wilayah utama di Sumbar, yakni Malalak, Lembah Anai, Kota Padang, Kabupaten Agam, dan Kabupaten Pesisir Selatan. Sejak hari pertama pascabencana pada 23 Desember, Hutama Karya mengerahkan 163 personel yang terdiri atas tim manajemen lapangan, operator alat berat, serta tenaga pendukung lainnya.
Kehadiran tim ini bertujuan memastikan seluruh proses penanganan berjalan cepat dan terkoordinasi, sekaligus menjawab kebutuhan mendesak masyarakat terhadap akses jalan dan layanan dasar yang terdampak bencana.
Pada sektor pemulihan akses jalan, Kementerian PU melalui Direktorat Jenderal Bina Marga bersama Hutama Karya melaksanakan berbagai pekerjaan teknis. Penanganan tersebut meliputi pembersihan material longsor, normalisasi saluran air, perapihan dan pelebaran badan jalan, pembangunan akses darurat, hingga penanganan lanjutan di titik-titik rawan.
Salah satu fokus utama dilakukan di jalur Lembah Anai, yang merupakan akses vital penghubung Padang–Bukittinggi.
Penanganan dilakukan pada ruas sepanjang 5,8 kilometer, dengan panjang penanganan efektif sekitar 800 meter. Akses ini kini telah dioperasikan secara terbatas guna membuka kembali jalur mobilitas warga dan distribusi logistik pascabencana.
Selain Lembah Anai, pemulihan akses jalan juga dilakukan di Malalak, tepatnya pada ruas Jalan Sicincin–Malalak–Balingka. Jalur sepanjang 39 kilometer ini merupakan jalan alternatif Padang–Bukittinggi yang menghubungkan wilayah Kotomambang dengan Malalak dan terdampak longsor di sembilan titik.
Dalam penanganan tersebut, Hutama Karya mengerjakan pembersihan lokasi longsor, perapihan material dan debris, pembuatan jalan akses, pemuatan tanah longsoran, pembangunan jembatan sementara pada jembatan yang hilang akibat galodo, perapihan box culvert, hingga penyediaan akses darurat agar kendaraan dapat kembali melintas.
Tidak hanya berfokus pada konektivitas jalan, Kementerian PU bersama Hutama Karya juga menaruh perhatian besar pada pemulihan akses air bersih. Sejumlah infrastruktur Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang terdampak bencana segera ditangani agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.
Di Kota Padang, penanganan dilakukan pada Intake Palukahan dan Intake Guo Kuranji. Sementara di Kabupaten Agam, pekerjaan difokuskan pada Intake Silasuang, Broncaptering Silayang, serta Instalasi Pengolahan Air (IPA) Lubuk Basung. Di Kabupaten Pesisir Selatan, pemulihan dilakukan pada delapan lokasi Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas).
Secara keseluruhan, pekerjaan pemulihan air bersih dilakukan dengan menyambungkan pipa saluran air di sejumlah titik dengan total panjang pipa mencapai 16 kilometer. Upaya ini diharapkan mampu menjaga kontinuitas layanan air bersih selama proses pemulihan berlangsung.
Executive Vice President Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah, menyampaikan bahwa seluruh proses penanganan dilakukan dengan mengedepankan kecepatan respons dan soliditas koordinasi di lapangan.
“Sejak awal, Hutama Karya menjadi bagian dari kesigapan Kementerian PU yang berfokus pada langkah-langkah prioritas agar akses infrastruktur dan layanan dasar masyarakat dapat segera dipulihkan. Seluruh tim bekerja secara terkoordinasi untuk memastikan penanganan berjalan efektif dan aman,” ujar Mardiansyah dalam keterangannya dikutip Kamis (8/1/2026).
Hingga pembaruan terakhir, progres penanganan menunjukkan hasil yang positif. Di Malalak, dua desa telah kembali tersambung pascapekerjaan lapangan. Sementara di Lembah Anai, penanganan permanen terus dilakukan secara bertahap guna memulihkan akses secara optimal.
Pada penanganan SPAM Sumbar, Hutama Karya juga melaksanakan pemasangan dan perakitan pipa, penyusunan jumbo bag sebagai mercu sementara, serta survei dan orientasi lapangan untuk penanganan lanjutan. Langkah ini ditujukan untuk menjaga pasokan air bersih tetap tersedia bagi masyarakat.
“Melalui penanganan tanggap darurat ini, Hutama Karya berupaya memastikan akses jalan dan air bersih kembali berfungsi, distribusi logistik berjalan, serta aktivitas masyarakat dan ekonomi di wilayah terdampak Sumatera Barat dapat berangsur pulih,” tutup Mardiansyah. (red)
















