Nilai Tukar Petani Sumbar Melemah, Harga Sayur dan Buah Jadi Pemicu

Nilai Tukar Petani Sumbar Melemah, Harga Sayur dan Buah Jadi Pemicu

Nilai Tukar Petani Sumbar turun 1,88% pada September 2025. BPS menyebut penurunan harga sayur dan buah menjadi faktor utama pelemahan tersebut. (Foto: Kominfo Padang Panjang)

Sumbardaily.com, Padang – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) di Sumatera Barat (Sumbar) pada September 2025 mengalami penurunan sebesar 1,88 persen dibanding bulan sebelumnya. Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga di wilayah perdesaan seluruh kabupaten kecuali Kepulauan Mentawai, NTP Sumbar turun dari 132,67 pada Agustus 2025 menjadi 130,17 pada September 2025.

Kepala BPS Sumbar, Sugeng Arianto, menjelaskan bahwa pelemahan NTP tersebut terjadi akibat penurunan Indeks Harga yang Diterima Petani sebesar 1,31 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani justru meningkat 0,58 persen. Kombinasi dua faktor ini menunjukkan daya beli petani terhadap barang konsumsi maupun input produksi mengalami tekanan.

Fluktuasi Nilai Tukar Petani di Lima Subsektor

Sugeng menguraikan, bila dibandingkan bulan sebelumnya, terdapat empat subsektor yang justru mencatat kenaikan NTP, yakni subsektor tanaman pangan (0,02 persen), subsektor tanaman perkebunan rakyat (0,25 persen), subsektor peternakan (0,87 persen), serta subsektor perikanan (1,25 persen).

Sementara itu, subsektor hortikultura mengalami penurunan cukup tajam, mencapai 11,64 persen, sehingga menjadi penyumbang utama penurunan NTP secara keseluruhan.

“Penurunan yang cukup dalam pada subsektor hortikultura, terutama komoditas sayur-sayuran dan buah-buahan, menjadi faktor dominan dalam menekan angka NTP Sumatera Barat bulan ini,” ujar Sugeng Arianto dalam keterangannya dikutip Rabu (8/10/2025).

Indeks Harga yang Diterima Petani Turun

Data BPS menunjukkan, Indeks Harga yang Diterima Petani turun dari 167,69 menjadi 165,49, atau melemah 1,31 persen dibanding Agustus 2025. Penurunan ini dipicu oleh merosotnya nilai It subsektor hortikultura sebesar 11,11 persen, sejalan dengan turunnya harga di pasar komoditas utama hortikultura.

Adapun empat subsektor lain mengalami peningkatan: tanaman pangan naik 0,67 persen, tanaman perkebunan rakyat naik 0,76 persen, peternakan naik 1,36 persen, dan perikanan naik 1,61 persen.
Fluktuasi ini menunjukkan bahwa meski ada subsektor yang tumbuh positif, tekanan pada hortikultura cukup signifikan untuk menahan laju pertumbuhan agregat.

Harga Barang dan Jasa di Perdesaan Naik

Sementara itu, Indeks Harga yang Dibayar Petani, yang menggambarkan fluktuasi harga barang konsumsi dan kebutuhan produksi pertanian, justru mengalami kenaikan 0,58 persen — dari 126,40 menjadi 127,13.

Kenaikan Ib ini terjadi di seluruh subsektor, masing-masing: tanaman pangan (0,64 persen), hortikultura (0,60 persen), tanaman perkebunan rakyat (0,52 persen), peternakan (0,49 persen), dan perikanan (0,35 persen).

Sugeng menyebut, “Kenaikan harga barang konsumsi rumah tangga dan biaya produksi di perdesaan mendorong naiknya indeks harga yang dibayar petani. Walau tidak besar, dampaknya cukup terasa karena tidak diimbangi dengan peningkatan harga jual komoditas pada beberapa sektor.”

Tanaman Pangan Masih Stabil

Untuk subsektor tanaman pangan (NTPP), BPS mencatat terjadi kenaikan tipis 0,02 persen, dari 103,04 menjadi 103,06. Kenaikan ini disebabkan indeks harga yang diterima petani naik 0,67 persen, lebih tinggi dari kenaikan indeks harga yang dibayar petani 0,64 persen.

Harga jual gabah, beras, dan palawija relatif meningkat seiring stabilnya permintaan. Indeks harga kelompok padi naik 0,50 persen, sementara palawija tumbuh 1,49 persen. Pada saat yang sama, kelompok konsumsi rumah tangga naik 0,78 persen, dan biaya produksi serta barang modal naik 0,12 persen.

Penurunan Tajam pada Subsektor Hortikultura

Berbeda dengan subsektor lain, NTP hortikultura (NTPH) anjlok 11,64 persen, dari 187,76 menjadi 165,90. Penurunan ini disebabkan oleh turunnya indeks harga yang diterima petani sebesar 11,11 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani naik 0,60 persen.

Sugeng menjelaskan bahwa pelemahan harga terutama terjadi pada kelompok sayur-sayuran (turun 11,56 persen), buah-buahan (0,28 persen), dan tanaman obat-obatan (1,28 persen). Sementara itu, naiknya indeks harga kelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,84 persen turut memperberat tekanan terhadap keseimbangan harga di subsektor ini.

Subsektor Perkebunan Rakyat dan Peternakan Menguat

Nilai Tukar Petani subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTPR) naik 0,25 persen, dari 158,31 menjadi 158,70. Kenaikan ini ditopang oleh peningkatan It sebesar 0,76 persen dan Ib sebesar 0,52 persen. Harga konsumsi rumah tangga naik 0,64 persen, meskipun biaya produksi menurun tipis 0,07 persen.

Kemudian, subsektor peternakan (NTPT) juga menunjukkan perbaikan dengan kenaikan 0,87 persen, dari 101,36 menjadi 102,24. Peningkatan ini terjadi karena It naik 1,36 persen, lebih besar dibanding Ib yang naik 0,49 persen.

Kenaikan It terutama berasal dari kelompok unggas (1,84 persen), hasil-hasil ternak/unggas (1,47 persen), dan ternak besar (0,55 persen). Meskipun kelompok ternak kecil mengalami penurunan 0,59 persen, secara agregat subsektor ini tetap tumbuh positif.

Subsektor Perikanan Jadi Penopang Terbesar

Kinerja terbaik datang dari subsektor perikanan (NTNP) yang naik 1,25 persen, dari 99,37 menjadi 100,62. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan Indeks Harga yang Diterima Petani sebesar 1,61 persen, lebih tinggi dari Indeks Harga yang Dibayar Petani sebesar 0,35 persen.

Pertumbuhan tertinggi berasal dari kelompok perikanan tangkap yang naik 3,55 persen, sedangkan perikanan budidaya sedikit turun 0,04 persen. Menurut BPS, peningkatan harga ikan hasil tangkapan laut memberi kontribusi signifikan terhadap pendapatan nelayan di pesisir Sumatera Barat.

Di sisi lain, kenaikan harga konsumsi rumah tangga sebesar 0,91 persen masih menahan potensi peningkatan daya beli secara optimal. Namun secara umum, subsektor perikanan menjadi penyelamat angka NTP Sumbar agar tidak turun lebih dalam.

Kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga

BPS juga mencatat Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di Sumbar pada September 2025 naik 0,74 persen dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan ini terjadi karena meningkatnya harga pada tujuh kelompok pengeluaran rumah tangga, antara lain:

  • makanan, minuman, dan tembakau (1,18 persen);
  • pakaian dan alas kaki (0,02 persen);
  • perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga (0,02 persen);
  • kesehatan (0,15 persen);
  • informasi, komunikasi, dan jasa keuangan (0,11 persen);
  • penyediaan makanan dan minuman/restoran (0,04 persen); serta
  • perawatan pribadi dan jasa lainnya (1,09 persen).

Sementara itu, dua kelompok mengalami penurunan, yaitu perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga (turun 0,01 persen) serta transportasi (turun 0,24 persen). Adapun dua kelompok lain, yakni rekreasi, olahraga, dan budaya serta pendidikan, relatif tidak mengalami perubahan.

Gambaran Umum dan Tantangan ke Depan

Secara umum, data BPS Sumbar menunjukkan adanya ketimpangan antar subsektor dalam kinerja NTP bulan September 2025. Kenaikan pada subsektor perikanan dan peternakan belum cukup kuat menahan dampak negatif dari anjloknya harga komoditas hortikultura.

Sugeng Arianto menegaskan, “Fluktuasi harga di tingkat petani sangat dipengaruhi oleh musim, distribusi, dan pola konsumsi masyarakat. Karena itu, penguatan rantai pasok hasil hortikultura perlu menjadi perhatian agar petani tidak selalu berada dalam posisi lemah ketika harga pasar turun.”

Dengan tren ini, BPS menilai penting bagi pemerintah daerah dan pelaku pertanian untuk terus memantau pergerakan harga dan biaya produksi di perdesaan. Meski NTP Sumbar masih berada di atas 100 — yang berarti petani masih memperoleh keuntungan secara umum — penurunan signifikan pada subsektor hortikultura menjadi sinyal waspada bagi stabilitas pendapatan petani di provinsi tersebut. (pooke)

Baca Juga

Sumbar Alami Lonjakan Deforestasi 1.034 Persen, Ancaman Bencana Meningkat
Sumbar Alami Lonjakan Deforestasi 1.034 Persen, Ancaman Bencana Meningkat
Kejati Sumbar Turun Tangan, Proyek Tol Sicincin-Bukittinggi Dikebut
Kejati Sumbar Turun Tangan, Proyek Tol Sicincin-Bukittinggi Dikebut
Penundaan Tol Padang–Pekanbaru Berisiko Naikkan Biaya, Ruas Sicincin–Bukittinggi Disorot
Penundaan Tol Padang–Pekanbaru Berisiko Naikkan Biaya, Ruas Sicincin–Bukittinggi Disorot
Produksi Sampah Capai 700 Ton per Hari, Padang Tancap Gas Bangun PSEL
Produksi Sampah Capai 700 Ton per Hari, Padang Tancap Gas Bangun PSEL
Sumbar Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 6,9 Persen, Investasi Jadi Motor Utama
Sumbar Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 6,9 Persen, Investasi Jadi Motor Utama
Usai Kecelakaan Tragis, KAI Divre II Sumbar Gencar Tutup Perlintasan Liar
Usai Kecelakaan Tragis, KAI Divre II Sumbar Gencar Tutup Perlintasan Liar