Membidik Status Kota Gastronomi UNESCO 2027, Pemko Padang Angkat Keunikan Kuliner Multietnis

Membidik Status Kota Gastronomi UNESCO 2027, Pemko Padang Angkat Keunikan Kuliner Multietnis

Aktivitas masyarakat multietnis di Pasar Tanah Kongsi, Kampung Pondok, Kota Padang. (Foto: Kominfo Padang)

Sumbardaily.com – Upaya Pemerintah Kota (Pemko) Padang untuk meraih pengakuan internasional sebagai Kota Gastronomi dalam Jejaring Kota Kreatif UNESCO pada 2027 terus dimatangkan. Di balik ambisi besar tersebut, Kota Padang tidak hanya mengandalkan popularitas kuliner Minang yang telah mendunia, tetapi juga kekayaan cita rasa yang lahir dari perpaduan budaya berbagai etnis yang hidup berdampingan selama puluhan tahun.

Keunikan kuliner multietnis yang berkembang di Kota Padang kini menjadi salah satu kekuatan utama yang dipersiapkan untuk menembus seleksi nasional hingga tingkat dunia. Pemko Padang menilai bahwa kekayaan gastronomi daerah tidak sekadar berbicara tentang makanan, melainkan juga menyangkut sejarah, budaya, identitas, dan kehidupan masyarakat yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang, Yenni Yuliza, mengatakan gastronomi merupakan perpaduan erat antara budaya dan kuliner yang menjadi bagian penting dari warisan budaya tak benda. Karena itu, berbagai pihak kini bergerak bersama untuk memperkuat identitas Kota Padang sebagai kota gastronomi yang layak mendapat pengakuan dunia.

"Gastronomi itu adalah perpaduan antara budaya dan kuliner yang menjadi kekayaan warisan budaya kita. Sekarang, kita bergerak bersama dari berbagai lini untuk memperkuat identitas Padang agar diakui dunia sebagai kota gastronomi," ujar Yenni Yuliza, dikutip Rabu (17/6/2026).

Menurut Yenni, kekuatan utama yang dimiliki Kota Padang terletak pada keberagaman etnis yang telah membentuk karakter masyarakat dan tradisi kulinernya selama bertahun-tahun. Kondisi tersebut menciptakan sebuah identitas kuliner yang berbeda dibandingkan daerah lain di Indonesia.

Secara historis, Kota Padang dikenal sebagai wilayah yang dihuni oleh berbagai kelompok etnis yang hidup berdampingan secara harmonis. Hal itu tercermin dari istilah "Urang Padang Jalan Barampek" yang menggambarkan keberadaan empat etnis utama, yakni Minangkabau, Tionghoa, India, dan Nias.

Keberagaman tersebut tidak hanya terlihat dalam kehidupan sosial masyarakat, tetapi juga membentuk berbagai ekspresi budaya yang masih bertahan hingga kini. Beberapa kesenian seperti Tari Balanse Madam, Gamad, hingga Barongsai menjadi bukti nyata terjadinya akulturasi budaya yang berlangsung secara harmonis di Kota Padang.

Fenomena serupa juga terjadi dalam dunia kuliner. Berbagai pengaruh budaya dari beragam etnis tersebut berbaur dan memperkaya karakter masakan khas Padang tanpa menghilangkan identitas lokal yang telah mengakar kuat.

Yenni menegaskan bahwa keberagaman masyarakat di Kota Padang tidak menciptakan sekat-sekat budaya dalam tradisi memasak. Sebaliknya, hubungan yang erat antarwarga dari berbagai latar belakang justru melahirkan inovasi rasa yang semakin memperkaya kuliner daerah.

"Keberagaman etnis di Padang tidak membuat mereka 'memasak sendiri-sendiri', melainkan saling memperkaya rasa masakan Padang itu sendiri," tambah Yenni.

Ia menjelaskan bahwa pengaruh budaya Tionghoa dapat ditemukan pada Nasi Padang versi peranakan yang berkembang di kawasan Kampung Pondok. Kuliner tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana proses akulturasi budaya menghasilkan cita rasa khas yang menjadi bagian dari identitas gastronomi Kota Padang.

Sementara itu, pengaruh etnis India keturunan Tamil juga memberikan warna tersendiri terhadap perkembangan kuliner lokal. Jejak budaya tersebut terlihat dari penggunaan rempah-rempah yang kuat pada sejumlah hidangan legendaris, seperti Soto Garuda, Soto Rajawali, serta Martabak Malabar.

Menurut Yenni, kekayaan rempah yang menjadi ciri khas berbagai kuliner tersebut merupakan salah satu daya tarik utama yang mampu memikat wisatawan dari berbagai daerah maupun mancanegara. Cita rasa yang unik dan berbeda menjadi nilai tambah yang terus dipromosikan dalam upaya memperkuat posisi Kota Padang sebagai destinasi gastronomi.

Lebih jauh, Yenni menegaskan bahwa langkah Pemko Padang menuju pengakuan UNESCO tidak semata-mata bertujuan memperoleh prestise internasional. Program tersebut juga dirancang sebagai strategi pembangunan ekonomi daerah yang berkelanjutan.

Melalui status Kota Gastronomi UNESCO, pemerintah berharap sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dapat berkembang lebih pesat. Selain itu, peningkatan jumlah wisatawan yang datang ke Kota Padang juga diyakini akan berdampak langsung terhadap pertumbuhan sektor jasa dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Yenni menjelaskan bahwa pengakuan internasional dari UNESCO berpotensi menciptakan efek berantai yang positif bagi perekonomian masyarakat. Semakin luas publikasi mengenai kekayaan kuliner Kota Padang, semakin besar pula rasa penasaran wisatawan untuk datang dan menikmati langsung pengalaman gastronomi yang ditawarkan.

"Saat ini kita gencar mempromosikan menu-menu unik ke media massa, masyarakat luar pasti penasaran. Kuliner yang viral pasti dikejar orang. Melalui status Kota Gastronomi, kita berharap UMKM tumbuh subur, kunjungan wisatawan meningkat, dan PAD kota kita pun naik," jelasnya optimistis.

Saat ini, Pemko Padang tengah fokus menyusun dan menyempurnakan dokumen pengajuan yang akan digunakan dalam proses seleksi di tingkat nasional. Tahapan tersebut menjadi langkah penting sebelum Kota Padang dapat melaju ke tingkat internasional.

Persaingan untuk memperoleh kesempatan mewakili Indonesia terbilang cukup ketat. Dari 17 kota kreatif yang mengikuti proses penilaian, hanya dua kota yang nantinya akan dipilih oleh kementerian terkait untuk diusulkan ke tingkat dunia.

Meski demikian, Pemko Padang tetap optimistis. Dengan kekayaan kuliner multietnis yang dimiliki serta dukungan berbagai pihak, Kota Padang dinilai memiliki modal kuat untuk menjadi wakil Indonesia dalam kategori gastronomi pada Jejaring Kota Kreatif UNESCO.

"Kami berharap penuh Kota Padang bisa menjadi wakil Indonesia di bidang gastronomi. Semoga tahun ini berkas kita lolos, sehingga pada tahun 2027 nanti kuliner Padang resmi mendapatkan pengakuan internasional dari UNESCO," pungkas Yenni.

Keberagaman budaya yang menyatu dalam satu cita rasa kini menjadi modal besar Kota Padang untuk melangkah ke panggung global. Jika berhasil memperoleh pengakuan UNESCO pada 2027 mendatang, kuliner multietnis yang tumbuh dari sejarah panjang akulturasi budaya itu tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Barat, tetapi juga menjadi representasi kekayaan gastronomi Indonesia di mata dunia. (*)

Baca Juga

Wali Kota Padang, Fadly Amran berdiskusi dengan tim peneliti Universitas Andalas (Unand) mengenai hasil riset mitigasi bencana gempa megathrust Mentawai dan tsunami di Balai Kota Padang.
Pemko Padang Siaga Hadapi Gempa Megathrust, Hasil Riset Unand Tawarkan Model Mitigasi Berbasis Komunitas
RSUP M Djamil Padang Dapat Suntikan Dana Rp1 Triliun, Dua Gedung Baru Segera Dibangun
RSUP M Djamil Padang Dapat Suntikan Dana Rp1 Triliun, Dua Gedung Baru Segera Dibangun
72 SPPG Sudah Berjalan, Pemko Padang Kejar Kekurangan 24 Dapur MBG
72 SPPG Sudah Berjalan, Pemko Padang Kejar Kekurangan 24 Dapur MBG
Wali Kota Padang, Fadly Amran memimpin Apel Siaga Sensus Ekonomi 2026 bersama ratusan petugas sensus di Lapangan Upacara Balai Kota Padang, Aie Pacah.
Warga Padang Harus Terima Kedatangan Petugas Sensus, Ini Alasannya
Revitalisasi Pasar Raya Padang, Pemko Padang Gelontorkan Rp40 Miliar
Revitalisasi Pasar Raya Padang, Pemko Padang Gelontorkan Rp40 Miliar
Ribuan peserta mengikuti Parade Tauhid 1 Muharram 1448 Hijriah dengan long march dari Masjid Agung Nurul Iman menuju Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi di Kota Padang.
Pemko Padang Siapkan Parade Tauhid Masuk ke Agenda Festival Surau