Sumbardaily.com - Kemegahan Masjid Al Fauzan di Padang Pariaman tidak hanya terlihat dari bentuk bangunannya yang unik menyerupai kapal. Di balik arsitektur ikonik tersebut, tersimpan gagasan besar yang lahir dari semangat para alumni dunia pelayaran untuk menghidupkan kembali budaya maritim di tengah masyarakat.
Masjid yang kini menjadi salah satu landmark baru di Padang Pariaman itu dirancang dengan konsep kapal sebagai simbol kuat hubungan masyarakat dengan dunia bahari. Gagasan tersebut berasal dari para penggagas sekaligus donatur yang merupakan alumni Akademi Ilmu Pelayaran (AIP) dan tergabung dalam korps alumni.
Salah seorang pengurus sekaligus Imam Masjid Al Fauzan, Ustaz Nurul Huda, menjelaskan bahwa desain bangunan sengaja dibuat menyerupai kapal sebagai representasi visi besar yang mereka usung melalui gerakan Minang Bahari.
“Desain Masjid Al Fauzan ini memang dibuat menyerupai kapal. Penggagas dan donaturnya merupakan alumni Akademi Ilmu Pelayaran yang tergabung dalam korps alumni. Mereka memiliki semangat untuk mengembangkan budaya maritim melalui gerakan Minang Bahari,” jelasnya.
Menurut Nurul Huda, pembangunan masjid dimulai pada September 2021 setelah seluruh tahapan administrasi dan perizinan berhasil diselesaikan. Proses pembangunan kemudian berlangsung melalui perjalanan panjang hingga akhirnya masjid berdiri dengan sempurna dan siap digunakan oleh masyarakat.
Ia menuturkan bahwa perjalanan pembangunan tersebut memakan waktu hampir lima tahun sebelum akhirnya masjid dapat difungsikan sebagai tempat ibadah dan aktivitas keagamaan bagi masyarakat luas.
Selain menjadi simbol kebangkitan budaya maritim, bentuk kapal yang diusung Masjid Al Fauzan juga memiliki tujuan lain. Para donatur berharap desain yang tidak biasa tersebut mampu menarik perhatian masyarakat untuk datang berkunjung.
Rasa penasaran terhadap bentuk bangunan diharapkan menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat fungsi masjid. Setelah berkunjung, pengunjung diharapkan dapat merasakan kenyamanan beribadah dan menjadikan masjid sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Harapan para donatur, masjid berbentuk kapal ini dapat menarik masyarakat untuk berkunjung. Mungkin awalnya datang karena penasaran atau ingin berfoto, tetapi kemudian mereka juga terdorong untuk beribadah dan merasakan kenyamanan beribadah di dalam masjid,” tuturnya.
Keunikan arsitektur yang dipadukan dengan filosofi maritim menjadikan Masjid Al Fauzan memiliki daya tarik tersendiri dibandingkan rumah ibadah pada umumnya. Kehadirannya tidak hanya menawarkan fungsi sebagai tempat salat, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga dan mengembangkan identitas budaya bahari yang menjadi bagian dari sejarah masyarakat.
Kini, dengan desain yang khas, nilai filosofi yang kuat, serta fasilitas yang mendukung kebutuhan jamaah maupun musafir, Masjid Al Fauzan diharapkan dapat berkembang menjadi pusat syiar Islam dan ruang pembinaan umat.
Lebih dari itu, masjid ini juga diproyeksikan menjadi destinasi wisata religi yang mampu menarik perhatian pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia. Kehadirannya menjadi bukti bahwa sebuah rumah ibadah tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah, tetapi juga dapat menjadi simbol budaya, pusat aktivitas umat, dan ikon baru bagi daerah tempatnya berdiri. (*)
















