Melihat Pacu Jawi di Tanah Datar, Ini Jadwal Lengkap dan Lokasi Perlombaannya

Melihat Pacu Jawi di Tanah Datar, Ini Jadwal Lengkap dan Lokasi Perlombaannya

Wisatawan yang ingin menyaksikan langsung Pacu Jawi di Tanah Datar, Sumatera Barat, dapat mendatangi Sawah Sitaluak, Jorong Kubu Manganiang, Nagari Parambahan. (Foto: Pemkab Tanah Datar)

Sumbardaily.com - Wisatawan yang ingin menyaksikan langsung Pacu Jawi di Tanah Datar, Sumatera Barat, dapat mendatangi Sawah Sitaluak, Jorong Kubu Manganiang, Nagari Parambahan. Atraksi budaya berupa pacuan sapi di area persawahan itu menjadi salah satu tradisi Minangkabau yang masih dilaksanakan hingga kini.

Informasi mengenai waktu dan tempat melihat Pacu Jawi tersebut dikutip dari laman Kominfo Tanah Datar, Minggu (23/8/2026). Dalam agenda yang dipublikasikan, Pacu Jawi di Sawah Sitaluak dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 22 Agustus 2026, Sabtu, 29 Agustus 2026, Sabtu, 5 September 2026, dan Sabtu, 12 September 2026.

Lokasinya berada di Sawah Sitaluak, Jorong Kubu Manganiang, Nagari Parambahan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Wisatawan yang datang juga dianjurkan membawa kamera untuk mengabadikan aksi para joki bersama sapi di tengah lintasan berlumpur.

Pacu Jawi merupakan balapan sapi khas Minangkabau. Tradisi ini memiliki sejumlah tujuan, salah satunya membantu meningkatkan harga jual sapi sekaligus menjaga kesehatan sapi. Dalam pelaksanaannya, terdapat pula perpaduan dengan tradisi masyarakat Minangkabau, seperti arak-arakan pembawa dulang yang dikenal dengan istilah "Manjujuang Talam".

Dulang tersebut berisi makanan yang digunakan dalam tradisi Makan Bajamba atau makan bersama. Kehadiran berbagai unsur tradisi tersebut membuat Pacu Jawi tidak hanya menjadi perlombaan, tetapi juga menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Tanah Datar.

Tradisi ini juga mempunyai filosofi mengenai hubungan antara pemimpin dan rakyat. Dalam Pacu Jawi, dua ekor sapi digunakan secara bersamaan. Pemenang tidak ditentukan berdasarkan sapi yang mampu berlari lurus paling cepat. Dalam perlombaan tersebut pada dasarnya tidak terdapat lawan.

Konsep itu disebut memiliki kaitan dengan upaya menghindari taruhan. Dengan demikian, pelaksanaan Pacu Jawi tidak sekadar berorientasi pada kemenangan dalam perlombaan.

Pacu Jawi biasanya digelar satu hari dalam sepekan selama tiga hingga lima minggu. Pelaksanaannya umumnya dilakukan pada Sabtu. Sapi yang dinilai menjadi pemenang dapat mengalami kenaikan harga jual hingga dua kali lipat. Kondisi tersebut sekaligus menjadi kebanggaan bagi pemilik sapi.

Agenda Alek Pacu Jawi juga dilaksanakan secara bergiliran di sejumlah nagari yang berada di Tanah Datar. Pelaksanaannya menarik perhatian masyarakat setempat sekaligus pelancong dari berbagai daerah dan wisatawan mancanegara.

Mengutip informasi Kementerian Pariwisata, tradisi Pacu Jawi telah ada sejak ratusan tahun lalu dan berasal dari Nagari Tuo Pariangan, Kabupaten Tanah Datar. Dalam bahasa setempat, "pacu" berarti perlombaan kecepatan, sedangkan "jawi" merujuk pada sapi atau lembu yang dalam penggunaan masyarakat Sumatera Barat disebut jawi.

Tradisi tersebut biasanya dilaksanakan setelah panen padi sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi. Pada awalnya, Pacu Jawi berkaitan dengan aktivitas membajak sawah sebelum berkembangnya metode pembajakan seperti yang digunakan saat ini.

Pacu Jawi disebut ditemukan oleh Datuak Tantejo Gurhano ketika mencari cara agar sawah menjadi subur dan lebih mudah ditanami. Cara tersebut kemudian ditiru dan diterapkan oleh masyarakat di sekitar wilayah tersebut.

Seiring waktu, tradisi yang semula berkaitan dengan kegiatan membajak sawah berkembang menjadi atraksi budaya. Pacu Jawi kini masih dilaksanakan di Kecamatan Limo Kaum, Kecamatan Rambatan, Kecamatan Pariangan, dan Kecamatan Sungai Tarab.

Pelaksanaan Pacu Jawi di empat kecamatan tersebut dilakukan secara bergiliran. Dalam satu putaran, rangkaian perlombaan biasanya berlangsung selama empat minggu.

Bagi wisatawan, informasi mengenai jadwal dan lokasi menjadi petunjuk untuk menyaksikan langsung Pacu Jawi di Tanah Datar. Atraksi sapi yang melaju di lintasan sawah berlumpur sekaligus memberikan kesempatan untuk melihat salah satu tradisi Minangkabau yang masih dipertahankan hingga sekarang. (*)

Baca Juga

Dua wisatawan asal Jerman menikmati suasana kawasan Kota Tua di Padang sambil mengunjungi destinasi wisata bersejarah dan ikon kota.
Dibutuhkan Ketegasan Pemko yang Persuasif untuk Menjadikan Padang Destinasi Global yang Digemari Wisman
Martina atau Uni Tina berdiri di tempat usahanya sambil memperlihatkan Lamang Tapai Uni Tina dengan berbagai varian kuliner tradisional Minangkabau di Kota Padang.
Malamang Basamo Padang tak Cuma Soal Makanan, Ada Budaya dan Adat yang Ingin Dibawa Mendunia
Remaja perempuan Rava Angeli Putri atau Angel yang dilaporkan hilang di Padang sejak 18 Agustus 2026.
Dicari! Remaja Perempuan di Padang Dilaporkan Hilang Sejak 18 Agustus 2026, Berikut Ciri-cirinya
Unik! Puskesmas Tiumang Dharmasraya Datangi Rumah Ibu Hamil KEK Lewat Kurma Milk dan Roti
Unik! Puskesmas Tiumang Dharmasraya Datangi Rumah Ibu Hamil KEK Lewat Kurma Milk dan Roti
Becak Elektrik Hybrid Solar Panel Dikembangkan Mahasiswa Universitas Bung Hatta
Becak Elektrik Hybrid Solar Panel Dikembangkan Mahasiswa Universitas Bung Hatta
Biaya Haji 2027 Diusulkan Rp107,34 Juta, Jemaah Bayar 40 Persen
Biaya Haji 2027 Diusulkan Rp107,34 Juta, Jemaah Bayar 40 Persen