Sumbardaily.com, Jakarta – Tahap konstruksi Flyover Sitinjau Lauik I secara resmi memasuki fase pelaksanaan setelah PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik (HPSL) menandatangani kontrak dengan HK-HKI KSO pada Senin (26/5/2025) di Jakarta. Penandatanganan ini menandai langkah konkret dalam merealisasikan infrastruktur vital yang menghubungkan Kota Padang dan Kota Solok.
Direktur PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik, Michael AP Rumenser, bersama Kuasa HK-HKI KSO Rizky Agung, memimpin penandatanganan perjanjian pelaksanaan pekerjaan rancang bangun ini. Momentum strategis tersebut turut disaksikan sejumlah petinggi perusahaan, termasuk Direktur Operasi I PT Hutama Karya (Persero) Agung Fajarwanto dan EVP Divisi Pengembangan Bisnis serta Manajemen Portofolio PT Hutama Karya (Persero) Ekwan Hadyanto.
Hadir pula dalam acara tersebut Direktur Utama PT Hutama Karya Infrastruktur Aji Prasetyanti, Direktur Operasi II PT Hutama Karya Infrastruktur M. Rozi Rinjayadi, dan Komisaris PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik Busmart Zuriantomy, menunjukkan komitmen penuh dari seluruh jajaran manajemen terhadap proyek infrastruktur strategis ini.
Sebelumnya, rangkaian pembangunan flyover ini telah mendapat legitimasi melalui acara groundbreaking yang dipimpin langsung Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo bersama sejumlah pejabat terkait pada Sabtu (3/5/2025), memberikan momentum awal yang kuat bagi realisasi proyek.
Michael AP Rumenser menegaskan bahwa tanggung jawab besar ini akan diemban dengan standar integritas tertinggi. Pihaknya berkomitmen menghadirkan inovasi teknologi ramah lingkungan sambil memberdayakan potensi masyarakat lokal Sumatera Barat (Sumbar).
"Pelaksanaan proyek akan mengutamakan inovasi teknologi berkelanjutan, optimalisasi potensi masyarakat setempat, serta implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di setiap tahapan pembangunan dan penerapan Good Corporate Governance (GCG)," ungkap Michael dalam pernyataan resmi yang dikutip Jumat (30/5/2025).
Ia menambahkan, flyover ini diproyeksikan mampu menekan angka kecelakaan secara dramatis sekaligus memangkas durasi perjalanan Padang-Solok dari dua jam menjadi hanya 45 menit, memberikan efisiensi mobilitas yang signifikan bagi masyarakat.
Proyek ambisius ini dirancang khusus sebagai solusi komprehensif atas tantangan tikungan ekstrem di jalur Sitinjau Lauik yang selama bertahun-tahun menjadi zona berbahaya dengan tingkat kecelakaan tinggi di wilayah Sumbar. Infrastruktur penghubung Kota Padang dan Kota Solok ini diharapkan tidak hanya meningkatkan aspek keselamatan berkendara, tetapi juga mempercepat mobilitas serta memperkuat jaringan distribusi logistik regional.
Nilai kontrak yang telah disepakati kedua belah pihak mencapai Rp2,286 triliun termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dengan timeline pelaksanaan yang ditetapkan selama 822 hari kalender sejak penandatanganan kontrak. Skema pembiayaan proyek ini menggunakan masa konsesi sepanjang 12,5 tahun, yang terbagi menjadi 2,5 tahun periode konstruksi dan 10 tahun masa operasional layanan.
Pasca penandatanganan perjanjian kerja sama, PT HPSL akan segera bergerak ke tahap finalisasi desain teknis dan persiapan implementasi pembangunan fisik. Dalam fase operasional nantinya, HPSL akan bertanggung jawab melakukan preservasi jalan dan jembatan sepanjang periode layanan proyek berlangsung.
Proyek Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) Pembangunan Flyover Panorama I (Sitinjau Lauik I) ini menunjukkan komitmen serius pemerintah dalam meningkatkan kualitas infrastruktur transportasi nasional, khususnya di wilayah Sumbar yang memiliki tantangan geografis unik.
"Kami menyadari sepenuhnya bahwa proyek ini bukan semata-mata tentang pembangunan infrastruktur fisik, melainkan juga menyangkut dampak berkelanjutan terhadap kelestarian lingkungan dan kualitas hidup masyarakat," tegas Michael.
Dengan dimulainya fase konstruksi ini, masyarakat Sumbar dapat berharap pada solusi jangka panjang untuk permasalahan transportasi yang selama ini menjadi tantangan utama dalam mobilitas regional, sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi melalui efisiensi distribusi logistik yang lebih optimal. (red)
















