Sumbardaily.com – Suasana penuh haru menyelimuti sebuah rumah sederhana di Jalan Malalak, Desa Apar, Pariaman Utara, Kota Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar), Jumat (3/4/2026). Di tempat itu, kisah perjuangan seorang siswi bernama Assyifa Rahma Fiandra (17) menjadi sorotan, bukan hanya karena keberhasilannya menembus Institut Teknologi Bandung (ITB), tetapi juga karena cerita pilu yang menyertainya.
Hari itu, Assyifa kedatangan tamu istimewa. Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara, bersama rombongan datang langsung menjemputnya. Kehadiran tersebut menjadi momen yang tak hanya membanggakan, tetapi juga mengundang tangis haru bagi keluarga yang menyambut.
Assyifa dinyatakan lolos ke ITB melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. Keberhasilan ini terasa istimewa karena diraih di tengah perjalanan hidup yang penuh ujian.
Di antara mereka yang larut dalam suasana haru adalah sang nenek, Musmainizar (72). Ia tak mampu menyembunyikan rasa bangga melihat cucunya berhasil menembus salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, bahkan dijemput langsung oleh rektor.
Assyifa merupakan anak dari pasangan almarhumah Fitriani (47) dan Radikal (52). Kehilangan sosok ibu sejak 2023 menjadi luka yang masih membekas hingga kini. Sang ibu meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan saat mengantarkan Assyifa ke sekolah.
Bagi Assyifa, kelulusan di ITB bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan persembahan istimewa untuk ibunya. Semasa hidup, almarhumah Fitriani selalu mendorong putrinya agar bisa mengenyam pendidikan di kampus impian tersebut.
Kerinduan itu bahkan masih terjaga melalui cara sederhana namun menyentuh. Meski sang ibu telah tiada, Assyifa tetap mengirim pesan ke nomor WhatsApp miliknya. Ia mengabarkan kelulusannya dengan mengirim tangkapan layar hasil pengumuman SNBP.
“Alhamdulillah diterima di ITB, bunda,” ujar Assyifa mengenang pesan yang ia kirim, Minggu (5/4/2026).
Bagi Assyifa, kebiasaan mengirim pesan tersebut menjadi cara untuk menjaga kedekatan dengan sang ibu. Ia menyadari pesan itu tak akan pernah mendapat balasan, namun menjadi ruang untuk menumpahkan rindu dan cerita.
Kenangan pahit kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya masih terpatri jelas. Peristiwa itu terjadi saat ia duduk di bangku kelas 10, tepatnya Kamis, 26 Oktober 2023. Ketika itu, Assyifa diantar ke sekolah menggunakan sepeda motor oleh ibunya.
Namun di sebuah persimpangan, keduanya tertabrak mobil. Assyifa terseret sejauh 20 meter, sementara sang ibu terpental akibat benturan keras. Mereka segera dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis.
Assyifa harus menjalani operasi akibat cedera tulang panggul. Di sisi lain, ibunya koma di ruang ICU. Setelah tiga hari berjuang, sang ibu akhirnya menghembuskan napas terakhir. Kabar duka itu diterima Assyifa saat ia masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Peristiwa tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya. Kehilangan besar itu tak membuatnya terpuruk, justru menjadi pemicu untuk bangkit dan membuktikan diri.
Sebelum pengumuman SNBP, Assyifa juga sempat “berbicara” kepada ibunya melalui pesan WhatsApp. Ia menuliskan kegelisahan dan harapannya.
“Bunda, besok pengumuman SNBP. Kalau gagal bagaimana? Kalau tidak dapat ITB?” tulisnya.
Keesokan harinya, doa dan harapan itu terjawab. Assyifa dinyatakan lulus. Namun ia mengaku masih tidak percaya dengan pencapaiannya.
Ia dikenal sebagai siswi berprestasi di SMAN 1 Pariaman. Sejumlah capaian akademik berhasil diraihnya, termasuk Juara 1 Olimpiade Kebumian SMAN 3 Padang dan Olimpiade Kebumian SMAPSIC SMAN 1 Padang, serta berbagai prestasi lainnya.
Ketertarikannya pada ilmu kebumian dan geologi mengantarkannya diterima di Program Studi Geologi ITB melalui jalur SNBP. Pilihan tersebut selaras dengan minat dan prestasi yang telah ia bangun sejak sekolah.
Rencananya, Assyifa akan bertolak ke Bandung pada Juni 2026 untuk memulai babak baru dalam hidupnya. Dalam kesempatan itu, Rektor ITB Tatacipta Dirgantara juga menitipkan pesan khusus.
Ia berharap Assyifa dapat menjadi mahasiswa yang membanggakan dan terus berprestasi. “Kami menunggu di Bandung,” demikian pesan yang disampaikan melalui Assyifa.
Kisah ini juga menyentuh hati Nofrins Napilus, pegiat pariwisata Sumbar sekaligus alumni Geologi ITB yang turut hadir dalam rombongan rektor. Ia mengaku terharu melihat perjuangan Assyifa.
Menurutnya, langkah rektor yang datang langsung menemui calon mahasiswa menjadi bentuk perhatian sekaligus motivasi. Ia menilai banyak generasi muda Sumbar memiliki potensi besar meski harus melalui berbagai tantangan hidup.
Kisah Assyifa Rahma Fiandra menjadi bukti bahwa keterbatasan dan kehilangan tidak menjadi penghalang untuk meraih mimpi. Dari Pariaman, cerita ini menjelma menjadi inspirasi tentang keteguhan hati, cinta keluarga, dan kekuatan harapan yang tak pernah padam. (*)















