Sumbardaily.com – Tren kimpul di media sosial tidak hanya menarik perhatian karena keunikan konten kulinernya, tetapi juga membuka peluang untuk memperkenalkan kembali kekayaan pangan lokal Indonesia. Umbi yang digunakan sebagai pengganti berbagai bahan makanan ini dinilai berpotensi mendukung diversifikasi pangan sekaligus dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Guru Besar Departemen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Universitas Andalas (Unand), Prof. Tuty Anggraini, menilai popularitas kimpul dapat menjadi momentum untuk mendorong masyarakat mengenal lebih banyak sumber karbohidrat selain beras. Upaya tersebut penting untuk memperluas pilihan pangan dan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap nasi sebagai makanan pokok.
Tren kimpul belakangan mencuat melalui konten kreator yang membuat beragam makanan dengan mengganti bahan utama menggunakan umbi tersebut. Ungkapan “karena saya tidak punya bahannya, saya ganti kimpul” turut menarik perhatian warganet dan memicu rasa penasaran terhadap pemanfaatan bahan pangan lokal.
Dikutip dari situs resmi Unand, Senin (19/10/2026), Tuty menjelaskan bahwa kimpul dan berbagai jenis umbi lainnya dapat menjadi alternatif sumber karbohidrat. Meski demikian, pemanfaatannya perlu memperhatikan jenis bahan, teknik pengolahan, porsi konsumsi, serta keseimbangan gizi dalam menu sehari-hari.
“Kimpul dan beragam umbi lainnya merupakan sumber karbohidrat yang dapat memperkaya pilihan konsumsi masyarakat. Pemanfaatannya perlu disertai pemahaman mengenai jenis bahan, cara pengolahan, porsi, serta keseimbangan gizi,” jelasnya.
Menurut Tuty, salah satu tantangan dalam memperkenalkan pangan alternatif adalah kebiasaan masyarakat yang menganggap belum makan jika belum mengonsumsi nasi. Anggapan tersebut membuat perubahan pola konsumsi membutuhkan proses, sehingga pengenalan pangan lokal dapat dilakukan secara bertahap melalui variasi menu harian.
Masyarakat, misalnya, dapat mengonsumsi ubi rebus saat sarapan, nasi pada siang hari, kemudian memilih olahan umbi lainnya untuk makan malam. Namun, variasi sumber karbohidrat itu tetap perlu diimbangi dengan konsumsi protein, sayuran, dan buah agar kebutuhan gizi tetap diperhatikan.
“Sebagai contoh, masyarakat dapat memilih ubi rebus untuk sarapan, nasi pada siang hari, serta olahan umbi lainnya pada malam hari. Variasi tersebut tetap perlu dilengkapi sumber protein, sayuran, dan buah,” ungkapnya.
Potensi Olahan Umbi Lokal
Di Sumatera Barat (Sumbar), pemanfaatan umbi sebenarnya telah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat. Salah satu contohnya adalah keripik singkong atau sanjai yang dikenal sebagai produk olahan pangan lokal. Meski demikian, pengembangan umbi masih memiliki peluang untuk diperluas melalui inovasi produk dan penerapan teknologi pengolahan.
Tuty menjelaskan, salah satu cara meningkatkan pemanfaatan umbi adalah mengolahnya menjadi tepung. Pengolahan tersebut dapat memperpanjang umur simpan bahan sekaligus membuat penggunaannya lebih beragam dalam berbagai produk pangan.
Selain memperluas pemanfaatan, pengolahan umbi menjadi tepung juga berpeluang meningkatkan nilai jual dibandingkan ketika bahan dipasarkan dalam bentuk segar. Dengan pengembangan yang tepat, bahan pangan lokal tidak hanya dimanfaatkan untuk konsumsi rumah tangga, tetapi juga berpotensi menjadi bahan baku produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Pengembangan umbi bahkan dapat dilanjutkan hingga pengolahan patinya menjadi bahan dengan kegunaan yang lebih luas. Tuty menyebut pati umbi berpotensi dikembangkan menjadi dekstrin, maltodekstrin, hingga bahan pembentuk edible film atau lapisan yang dapat dimakan.
Meski begitu, pengembangan bahan berbasis pati tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Penelitian diperlukan untuk memastikan karakteristik bahan serta kesesuaiannya dengan berbagai kebutuhan sebelum pemanfaatannya dikembangkan lebih jauh.
“Pada tahap lebih lanjut, pati umbi dapat dikembangkan menjadi dekstrin, maltodekstrin, maupun bahan pembentuk edible film. Pengembangan lapisan berbasis pati tersebut masih memerlukan penelitian untuk memastikan karakteristik dan kesesuaiannya bagi berbagai kebutuhan,” katanya.
Diversifikasi Pangan Butuh Kolaborasi
Menurut Tuty, pengembangan diversifikasi pangan tidak cukup hanya dengan mengenalkan bahan alternatif kepada masyarakat. Upaya tersebut juga membutuhkan keterlibatan peneliti dan pelaku industri agar pangan lokal dapat diolah menjadi produk yang aman, menarik, serta memiliki peluang pasar.
Kebiasaan mengonsumsi bahan pangan lokal perlu berjalan beriringan dengan inovasi pengolahan. Dengan demikian, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan konsumsi, sementara pelaku usaha memperoleh peluang untuk mengembangkan produk berbasis potensi lokal.
Popularitas kimpul di media sosial menjadi salah satu pintu masuk untuk memperkenalkan kembali beragam sumber karbohidrat yang tersedia di Indonesia. Tren tersebut juga membuka ruang bagi pengembangan pangan lokal, mulai dari variasi menu sehari-hari hingga pengolahan bahan menjadi tepung dan produk turunan berbasis pati. (*)
















