Sumbardaily.com, Jakarta - Arahan langsung Presiden Prabowo Subianto mendorong Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) memulai proyek besar produksi film bertema kemerdekaan.
Wakil Menteri Kebudayaan (Wamenbud), Giring Ganesha Djumaryo mengatakan, film tersebut akan menyoroti periode perjuangan 1945 hingga 1949 dan diproyeksikan menjadi karya sejarah yang digarap secara mendalam dan terukur.
"Dorongan Presiden itu merupakan fondasi utama yang membuat kementerian bergerak cepat menyiapkan langkah produksi," katanya, Jumat (14/11/2025).
Giring menjelaskan bahwa film ini tidak hanya bertujuan menyajikan narasi perjuangan, tetapi juga mendekatkan kembali kisah-kisah kemerdekaan kepada publik, terutama generasi muda.
"Seluruh proses riset akan bertumpu pada sumber-sumber primer, menjadikan proyek ini salah satu produksi film sejarah paling terdokumentasi sejauh ini. Kerja sama dengan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) disebut menjadi instrumen penting dalam memastikan keotentikan data yang digunakan," katanya.
Kemenbud, kata eks vokalis band Nidji itu telah mengarahkan produser, penulis, hingga sutradara yang dipilih untuk menjadikan ANRI sebagai pusat rujukan utama.
"Arahan serupa telah berulang kali disampaikan, dan kini kementerian berada pada fase awal yang lebih matang. Ia juga menilai ANRI memiliki rekam jejak yang kuat, terlebih karena telah ada Nota Kesepahaman Bersama antara Kemenbud dan sejumlah lembaga negara lain untuk memperluas kolaborasi di bidang budaya," katanya.
Proyek film kemerdekaan ini dirancang sebagai program jangka menengah. Giring menyebutkan target produksi selama lima tahun, dengan harapan sejumlah film bertema perjuangan dapat dirilis secara bertahap.
Ia menilai rentang waktu tersebut realistis untuk menghasilkan karya yang kuat di sisi riset, estetika, dan penyampaian sejarah.
“Mudah-mudahan dalam lima tahun ini kita bisa merilis film-film mengenai perjuangan kemerdekaan,” kata Giring.
Upaya memperkuat produksi film sejarah juga telah lebih dulu dilakukan Kemenbud melalui program stimulus berupa kompetisi penulisan skenario bertema sejarah dan kepahlawanan.
Sebelumnya, Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon menyampaikan bahwa kompetisi tersebut diadakan untuk memperbanyak penulis skenario yang memahami pendekatan naratif sejarah.
Ia menilai insentif perlu diberikan agar lebih banyak calon penulis tertarik menggarap tema perjuangan dan sejarah bangsa.
"Skenario merupakan elemen paling mendasar dalam produksi film yang berkualitas," katanya.
Indonesia, katanya, memiliki banyak kisah tokoh dan peristiwa sejarah yang bisa menjadi inspirasi pembuatan film.
Dengan dorongan riset, program kompetisi skenario, dan arahan Presiden untuk memperkuat produksi film sejarah, ia berharap muncul gelombang baru karya yang menghidupkan kembali narasi perjuangan kemerdekaan dalam medium sinema.
"Film memiliki posisi strategis sebagai jembatan antara generasi masa kini dan pengalaman sejarah yang membentuk perjalanan bangsa," tuturnya. (adl)
















